FIWS Ungkap Lima Kesalahan Paradigma Mendasar Indonesia Gabung BoP

 FIWS Ungkap Lima Kesalahan Paradigma Mendasar Indonesia Gabung BoP

MediaUmat Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi mengungkap lima kesalahan paradigma mendasar ketika Indonesia bergabung dengan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Gaza bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

“Terkait dengan 6 poin hasil KTT BoP yang dihadiri Prabowo yang paling penting kita lihat, ada beberapa kesalahan paradigma mendasar ketika Indonesia bergabung dengan Bop. Inilah yang menjadi pangkal kekeliruan dari kebijakan-kebijakan berikutnya,” ujarnya kepada media-umat.com, Ahad (22/2/2026).

Menurutnya, inilah yang menjadi pangkal kekeliruan dari kebijakan-kebijakan berikutnya. Pertama, cara pandang penguasa-penguasa negeri Muslim bukanlah cara pandang Islam.

“Mereka melihat pertama dari segi kemaslahatan, dari segi keuntungan ekonomi negara masing-masing. Kemudian menyebabkan masing-masing berpikir untuk keuntungan atau kepentingan mereka sendiri. Jadi, bukan melihat dari sudut pandang Islam,” ungkapnya.

Farid menilai inilah yang justru memperlemah kaum Muslim. “Seharusnya cara pandang kita, termasuk penguasa-penguasa negeri Islam adalah cara pandang Islam,” terangnya.

Kalau berdasarkan cara pandang Islam, sebut Farid, sesungguhnya perkara ini sangat jelas. Karena yang terjadi di Palestina adalah penjajahan, yaitu keberadaan entitas penjajah Yahudi yang dilahirkan oleh Inggris, dilegitimasi oleh PBB, kemudian dijaga kuat oleh Amerika Serikat, maka dalam pandangan Islam terhadap penjajah adalah mengusir penjajah.

“Inilah cara pandang Islam yang shahih. Berdasarkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian,” terangnya.

Kedua, keliru memandang Amerika Serikat. Pemerintah memandang AS sebagai teman ataupun sahabat. “Padahal berdasarkan kenyataan dan berdasarkan sudut pandang Islam adalah sangat jelas, Amerika itu adalah negara penjajah!” tegas Farid.

Pasalnya, sebut Farid, Amerikalah yang melakukan pembunuhan dan pembantaian terhadap umat Islam di Afghanistan, di Irak lebih dari 1 juta kaum Muslim terbunuh. Intervensi Amerikalah yang menyebabkan kekacauan di berbagai kawasan negeri Islam, seperti di Yaman, di Suriah, yang itu telah menyebabkan penderitaan kaum Muslimin dan Amerikalah yang mendukung penguasa-penguasa represif di negeri-negeri Islam yang lebih berpihak untuk melayani tuan-tuan kapitalisnya yaitu Amerika, dibanding berpihak kepada rakyat.

“Apalagi dalam kasus Gaza, sangat jelas bahwa Amerikalah yang paling bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan oleh Zionis Yahudi ini,” tegasnya.

Karena, sebut Farid, Amerikalah yang mem-backup– nya secara ekonomi termasuk mem-backup dengan persenjataan-persenjataan yang mematikan seperti termobarik dengan derajat panas 3500 derajat Celcius adalah bom-bom yang disuplai oleh Amerika. Amerika pulalah yang mengeksploitasi kekayaan alam negeri-negeri Islam dengan alasan perdagangan bebas, dengan alasan privatisasi.

“Oleh karena itu, Amerika itu harus diposisikan sebagai musuh kaum Muslimin,” tegasnya.

Bagaimana sikap Islam terhadap penjajah seperti ini? Farid mengingatkan agar jangan berkasih sayang terhadap mereka. Jangan bermanis muka dengan mereka! Jangan meminta pertolongan kepada mereka! Bahkan cenderung sedikit saja kepada mereka yang zalim, akan menyebabkan orang-orang yang cenderung itu disentuh atau dibakar oleh api neraka.

“Ini adalah pandangan Islam yang sangat jelas. Janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kalian disentuh oleh api neraka. Kurang zalim apanya Amerika terhadap kaum Muslimin?” tegasnya.

Ketiga, kekeliruan yang mendasar adalah tunduk kepada kebijakan-kebijakan Amerika dalam masalah-masalah negeri Islam, termasuk dalam masalah Palestina. Padahal sudah sangat jelas Amerika itu berpihak kepada Zionis Yahudi. Ini suatu hal yang tidak bisa dibantah. Ini adalah kenyataan yang sangat jelas di depan mata.

“Dukungan Amerika terhadap Zionis Yahudi ini adalah harga mati bagi mereka dan bukti-bukti itu sangat banyak. Betapa banyak veto yang Amerika keluarkan kalau ada kebijakan-kebijakan dari PBB yang tidak sejalan dengan kepentingan Zionis Yahudi atau tidak sejalan dengan kepentingan Amerika yang terkait dengan Zionis Yahudi ini,” beber Farid.

Ia menilai kesalahan paradigma yang ketiga ini menunjukkan posisi penguasa-penguasa negeri Islam dalam posisi pengkhianat, karena mereka lebih tunduk kepada kebijakan Amerika padahal kebijakan Amerika sudah sangat jelas berpihak kepada Zionis Yahudi bukan berpihak kepada Palestina.

“Lihatlah satu fakta yang sangat jelas dalam Board of Peace ini, tidak ada yang mewakili Palestina, sementara Israel ada. Palestina itu hanya pada struktur yang paling bawah yang itu sifatnya administratif. Itu pun diisi oleh para teknokrat yang tentu dirancang sudah sejalan dengan Amerika,” kata Farid.

Keempat, tertipu berulang-ulang dengan istilah-istilah yang selama ini sudah pasti istilah-istilah itu digunakan untuk menipu.

“Istilah perdamaian, istilah stabilisasi yang menipu. Ini adalah istilah-istilah yang menipu. Karena bagaimana mungkin perdamaian dicapai, apalagi kesejahteraan seperti yang dikatakan oleh panglima pasukan stabilisasi Gaza, yang dipimpin oleh Jenderal Amerika. Bagaimana mungkin ini terwujud ketika penjajahan itu masih ada, Zionis Yahudi sebagai penjajah itu masih ada? Seolah-olah kejahatan-kejahatan Zionis Yahudi itu diabaikan. Padahal Zionis Yahudi inilah yang melakukan pembunuhan, pembantaian, penghancuran Gaza,” ujar Farid.

Padahal, beber Farid, sangat jelas ketika perdamaian dan stabilitas itu digagas oleh Amerika dan negara-negara Barat, maka yang dimaksud itu adalah perdamaian dan stabilitas untuk entitas penjajah Yahudi.

“Karena itu syarat dari perdamaian itu sangat jelas yaitu pelucutan senjata pejuang-pejuang Islam yang ingin membebaskan tanah Palestina. Dan tidak ada disyaratkan pelucutan senjata Zionis Israel yang justru telah melakukan pembantaian dan pembunuhan,” tegasnya.

Kelima, tidak melihat Islam itu sebagai solusi dalam masalah ini. Padahal kalau umat Islam, penguasa-penguasa negeri Islam melihat Islam sebagai solusi, maka mereka akan bisa menyelesaikan masalah ini dengan tuntas.

“Bagaimana solusi Islam? Bersatulah, menyatukan negeri-negeri Islam di bawah naungan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah berdasarkan akidah Islam dan kemudian mengirimkan tentara-tentara di bawah komando pasukan Islam bukan untuk menjamin keamanan penjajah tapi untuk membebaskan tanah Palestina,” kata Farid.

Farid menegaskan, selama paradigma-paradigma ini masih dipakai, maka posisi Indonesia di sana hanyalah memperkuat kezaliman Zionis Yahudi, menjadi legitimasi kejahatan Zionis Yahudi dan menjadi sekutu kejahatan Zionis Yahudi.

“Dan ini adalah suatu perkara yang dicela oleh Allah SWT. Siapa pun yang melakukan ini, artinya telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka akan diancam dengan neraka yang sangat keras. Termasuk hati-hati dengan orang-orang yang mengklaim dirinya ulama, pemimpin-pemimpin ormas Islam, tapi mendukung penguasa yang menjadi kaki tangan Amerika,” tandasnya.[] Achmad Mu’it

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *