Jurnalis: Sikap HMT ITB Lebih Berbahaya daripada Lirik Erika

 Jurnalis: Sikap HMT ITB Lebih Berbahaya daripada Lirik Erika

MediaUmat Jurnalis Joko Prasetyo menilai cara pandang di balik pernyataan sikap Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB terkait polemik lagu Erika jauh lebih berbahaya daripada lirik Erika yang vulgar-pelecehan seksual itu sendiri.

“Pernyataan sikap seperti ini jauh lebih berbahaya daripada lirik lagu itu sendiri,” ujarnya kepada media-umat.com, Jumat (17/4/2026).

Menurut pria yang akrab disapa Om Joy ini, selain merendahkan martabat perempuan, ditampilkannya lagu tersebut oleh Orkes Semi Dangdut (OSD) HMT ITB menjadi bukti rapuhnya kebenaran ketika hanya bersandar pada norma sosial yang cair.

Ia menegaskan, jika sesuatu dianggap salah hanya karena tekanan massa, maka kebenaran tidak lagi memiliki prinsip yang berdaulat.

“Ketika standar kebenaran tidak bersumber dari sesuatu yang tetap, maka ia akan berubah mengikuti zaman, bergeser mengikuti opini, dan tunduk pada tekanan,” tegasnya.

Kerapuhan Standar Norma dan Nilai Akademik

Sebelumnya, HMT ITB mengeluarkan pernyataan sikap pada 15 April 2026 yang berisi permohonan maaf atas keresahan publik akibat lagu Erika yang dinilai vulgar. HMT ITB mengakui bahwa menampilkan lagu era 1980-an tersebut merupakan kelalaian yang tidak selaras dengan perkembangan norma sosial dan nilai akademik saat ini.

Poin inilah yang disoroti Om Joy. Menurutnya, alasan ‘kelalaian karena perkembangan norma’ sangat berisiko bagi fondasi moral.

“Pertanyaannya, apakah sesuatu menjadi salah baru sekarang? Kalau dulu dianggap tidak masalah dan sekarang jadi masalah, maka jelas yang berubah bukan perbuatannya, melainkan standarnya,” cetus Om Joy.

Ia menambahkan, kondisi ini menunjukkan bahwa kebenaran tengah disandera oleh pengakuan sosial dan momentum viral, bukan pada esensi nilai itu sendiri.

Om Joy juga menyoroti diksi “nilai akademik” yang digunakan HMT ITB. Ia melihat ada kerancuan ketika sebuah institusi baru menyatakan suatu konten tidak mencerminkan nilai akademik setelah ada reaksi publik, padahal konten tersebut sudah diwariskan sejak puluhan tahun lalu.

“Jika baru dianggap salah pada 2026 setelah videonya viral, maka standarnya bukan nilai, melainkan tekanan. Nilai akademik akhirnya bukan menjadi kompas moral, melainkan hanya cermin dari apa yang dianggap aman secara sosial,” tambahnya.

Bahaya Standar yang Berubah-ubah

Bagi Om Joy, akar persoalan ini adalah sistem yang memisahkan nilai dari wahyu. Tanpa fondasi yang kokoh dari Tuhan, standar moral akan terus bergeser secara liar.

“Hari ini sesuatu dianggap tidak pantas. Besok bisa saja dianggap ekspresi seni, dan lusa bisa dilegalkan atas nama kebebasan. Tanpa fondasi yang kokoh, semua hanya soal waktu,” tandasnya.

Oleh karena itu, ia mengingatkan, Islam hadir justru untuk memutus ketidakjelasan standar tersebut. Dalam Islam, ukuran benar dan salah bersifat konsisten tanpa perlu menunggu viral, karena sumbernya bersifat tetap, yakni wahyu Allah SWT.

“Dalam Islam, aurat tetap aurat, sejak dulu hingga sekarang. Kehormatan tetap harus dijaga dalam kondisi apa pun. Yang merendahkan martabat manusia tetap salah, meskipun ditertawakan banyak orang. Tidak menunggu 1980, tidak menunggu 2026, tidak menunggu viral. Standarnya tetap karena sumbernya tetap,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *