Kiai Labib: Perubahan Dunia Harus Dimulai dari Iman dan Takwa
MediaUmat – Ulama KH Rokhmat S. Labib menegaskan perubahan besar yang dilakukan Rasulullah SAW tidak pernah bertumpu pada kekuatan materi, dukungan finansial, maupun kekuasaan politik, melainkan dimulai dari pembangunan iman dan takwa yang kemudian diwujudkan melalui dakwah sebagai transformasi sosial dan politik.
“Takwa itu sebenarnya menjadi pangkal perubahan. Titik mula perubahan,” tegasnya dalam program Cahaya Ramadhan bertema Mengapa Takwa Bisa Mengubah Dunia? yang ditayangkan kanal YouTube 1 Ummah, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, mustahil berbicara perubahan dunia jika manusia tidak berubah terlebih dahulu. Sistem boleh berganti, kepemimpinan bisa bergeser, tetapi jika manusianya tetap rusak, kerusakan hanya akan berganti bentuk.
“Bagaimana mungkin dunia bisa berubah kalau tidak ada orang yang berubah?” tanyanya retorik.
Menurutnya, perubahan selalu berangkat dari kesadaran bahwa kondisi yang ada buruk dan harus diganti dengan yang lebih baik. Namun ukuran baik dan buruk tidak boleh ditentukan oleh standar materi, kepentingan politik, atau logika sekuler. Standarnya harus akidah Islam.
“Ukuran baik dan buruk didasarkan pada akidah Islam!” tegasnya.
Tanpa standar akidah, kekayaan akan selalu dianggap baik meski diraih dengan riba dan korupsi. Sebaliknya, kemiskinan selalu dipandang buruk meski diperoleh dengan cara halal. Paradigma inilah yang lahir dari sistem sekuler yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik.
Takwa, lanjutnya, bukan sekadar istilah moral. Namun perubahan cara berpikir (aqliyah) dan cara merasa (nafsiyah) yang berakar pada iman.
“Sebenarnya ketakwaan itu dasarnya satu pasti iman!” tegasnya.
Takwa lahir dari rasa takut kepada Allah (al-khauf minal jalil), takut terhadap azab-Nya, serta keyakinan bahwa Allah Maha Melihat. Tanpa iman, manusia tidak akan takut kepada dosa dan neraka. Karena itu, krisis yang melanda umat pada hakikatnya adalah krisis akidah.
Ramadhan, jelasnya, adalah madrasah pembentukan takwa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan kesadaran bahwa Allah mengawasi, bahkan ketika tidak ada manusia yang melihat.
“Ketika dia tetap tidak makan dan tidak minum sekalipun tidak ada orang lain, betul-betul ikhlas karena Allah,” ujarnya.
Kesadaran diawasi Allah itulah yang seharusnya melahirkan integritas sosial. Jika keyakinan itu tetap hidup di luar Ramadhan, kemaksiatan sosial tidak akan tumbuh.
“Ketika dia yakin Allah melihat sebagaimana puasa, nggak akan ada korupsi, nggak akan orang berbohong, nggak akan orang berzina,” tegasnya.
Ia menilai, persoalan bangsa bukan semata lemahnya regulasi atau pengawasan administratif. Akar masalahnya adalah hilangnya kesadaran bahwa Allah Maha Mengawasi. Aturan bisa diperketat, sanksi bisa diperberat, tetapi tanpa takwa, manusia akan terus mencari celah.
Karena itu, problem utama bukan sekadar tata kelola, melainkan paradigma kehidupan yang menjauhkan wahyu dari pengaturan masyarakat.
Takwa, lanjutnya, bukan slogan yang berhenti di pidato atau dokumen resmi. Standarnya jelas dan operasional.
“Minimal standar takwa itu mengerjakan yang wajib, meninggalkan yang haram,” tegasnya.
Takwa tingkat tinggi bahkan membuat seseorang meninggalkan hal-hal mubah jika dikhawatirkan menjerumuskannya pada dosa. Artinya, takwa adalah perubahan menyeluruh. Bukan simbolik, bukan seremonial, dan bukan retorika tahunan.
Ia juga mengkritik fenomena puasa yang tidak melahirkan perubahan karakter. Ada dua sebab utama: kesadaran bahwa Allah melihat tidak dibawa keluar Ramadhan, serta lemahnya pemahaman terhadap syariat.
“Kesadaran itu harusnya diturunkan tidak hanya pada saat Ramadhan,” jelasnya seraya menyebut ketakwaan itu disebabkan karena pemahaman.
Karena itu, jelas Kiai Labib, takwa tidak boleh berhenti pada kesalehan individu. Harus melahirkan dakwah dan gerakan perubahan sosial. Orang yang bertakwa tidak akan membiarkan kemungkaran berlangsung di tengah masyarakat.
“Perubahan itu diawali dari kesadaran diri. Lalu tidak berhenti pada dirinya, tapi juga mengajak orang lain,” bebernya.
Dalam sejarah Islam, dakwah bukan aktivitas seremonial, melainkan motor perubahan peradaban. Rasulullah SAW tidak sekadar membangun individu saleh, tetapi membangun masyarakat dan kepemimpinan yang tunduk pada wahyu.
“Perubahan juga hanya bisa dilakukan ketika ada dakwah,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat