Pengamat: Terlibat di BoP dan ISF, Hanya Buang Tenaga dan Biaya
MediaUmat – Pengiriman pasukan RI yang tergabung Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Forces/ISF) ke Gaza di bawah payung Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai Pengamat Hubungan Internasional dari Geopolitical Institute Hasbi Aswar, Ph.D. hanya buang-buang tenaga dan biaya.
“Keterlibatan Indonesia di BoP termasuk dalam pasukan stabilitasi internasional (ISF) hanya membuang-buang tenaga, dan biaya yang dari awal harusnya pemerintah sudah paham bahwa BoP ini hanya untuk melayani kepentingan AS dan Zionisme,” tuturnya kepada media-umat.com, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, kalau memang Indonesia ingin berkontribusi lebih terhadap Palestina, jalurnya tidak melalui tunduk pada proyek politik AS dan Zionis, fokus utamanya harusnya adalah menghentikan pendudukan, blokade dan genosida serta membawa rezim Zionis ke pengadilan internasional untuk dihukum gantung, serta warga-warga pendatang ilegal Yahudi dipulangkan ke asal mereka masing-masing.
“Kalau pemerintah merasa tidak mampu melakukan itu, setidaknya sikap dan pernyataan politik yang tegas terhadap Zionis dan AS yang harus ditunjukkan agar kita bisa yakin bahwa pemerintah Indonesia bersama dengan rakyat dan warga Palestina serta anti pada penjajahan Zionisme,” ujarnya.
Hasbi mengapresiasi niat Indonesia untuk memberangkatkan tentaranya untuk membantu rakyat Palestina, tapi menurutnya, itu tidak tepat. “Ini kan payung besarnya ada pada BoP, yang misinya adalah melanggengkan kolonialisme dan genosida Zionis dan AS di Palestina. Jadi ikut serta dalam misi keamanan lembaga buatan AS otomatis akan diarahkan untuk bekerja sesuai kepentingan politik AS dan Israel,” ungkapnya.
Ia menilai ini sama halnya dengan sekelompok perampok yang menyandera sebuah wilayah kemudian membunuhi warga di situ, kemudian ada kelompok lain atas nama kemanusiaan ikut arahan dari kelompok perampok tersebut untuk menjaga keamanan, dan mendukung aksi-aksi kemanusiaan di wilayah tersandera tersebut.
“Ini menjadi tidak masuk akal alias kebodohan yang luar biasa ikut-ikutan proyek pelaku genosida mengatasnamakan perdamaian,” sesalnya.
“Lantas, saat 8000 tentara Indonesia ke sana, apakah mereka bisa memastikan bahwa Zionis akan berhenti membatasi bantuan masuk ke Gaza. Apakah pengeboman membabi buta juga bisa dicegah oleh para tentara itu dan apakah penangkapan tentara Zionis kepada warga Gaza; teror kepada warga Gaza akan berhenti?” Tanyanya.
Hasbi yakin, tidak mungkin BoP akan mengizinkan tentara Indonesia untuk mencegah kejahatan Zionis di sana, apalagi menghentikan.
“Tentara Indonesia mungkin hanya akan ditempatkan di lokasi-lokasi yang sudah diset relatif lebih aman, sementara di tempat lain, pembantaian, blokade, penangkapan dan berbagai teror terus dihadapi oleh warga Palestina,” pungkasnya.[] Achmad Mu’it
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat