Kirim Tentara ke Gaza di Bawah BoP, Lonceng Bahaya!
MediaUmat – Rencana Indonesia yang akan mengirim sebanyak kurang lebih 8.000 tentara ke Gaza sebagai wakil komandan International Stabilization Force (ISF) di bawah skema Broad of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Donald Trump yang di dalamnya juga ada Israel dinilai Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana sebagai sebuah lonceng bahaya bagi umat Islam.
“Maka saya sebut ini sebagai sebuah lonceng bahaya bagi umat Islam karena Amerika memanfaatkan negeri-negeri Islam termasuk Indonesia untuk berhadapan dengan kaum Muslimin sendiri gitu,” ujarnya dalam Membongkar Isu (Mbois): Di Balik Pengiriman Tentara ke Street Gaza, Siapa Untung Siapa Buntung? di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Sabtu (28/2/2026).
Agung mengatakan, BoP atau Dewan Perdamaian ini dipimpin oleh Amerika Serikat dalam konteks ini adalah Donald Trump. Semua tahu bahwa Trump dan Amerika Serikat adalah pendukung setia Israel. Jadi bagaimana mungkin tentara Indonesia yang merupakan negeri Muslim itu ditempatkan dalam satu garis komando dengan Amerika Serikat yang jelas-jelas menjadi pendukung utama penjajahan Palestina.
Agung melihat, yang menjadi persoalan adalah posisi Indonesia yang diletakkan di daerah Rafah. Walaupun kemarin Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan bahwa TNI tidak akan melucuti senjata Hamas, tapi komandonya itu adalah Amerika Serikat. Dan Amerika Serikat sudah mengarahkan ISF memang untuk melucuti senjata pejuang Hamas dan Jihad Islam. Sehingga ISF dikondisikan untuk sesuatu yang menguntungkan Amerika Serikat dan Israel.
“Jadi posisi Indonesia itu ada di Rafah. Rafah itu adalah markasnya Hamas gitu. Ini kan agak ngeri-ngeri sedap,” ucapnya.
Agung khawatir yang terjadi nanti kalau Hamas malah bertarung dengan Indonesia. Semua sudah tahu bahwa Hamas sejak dari awal sudah memperingatkan kepada tentara Indonesia untuk jangan memasuki wilayah Palestina. Karena kalau ruang ini dimasuki, maka akan berhadapan dengan Hamas.
Hal ini, beber Agung, bukanlah pembebasan Palestina, tapi pelanggengan penjajahan melalui skema komando Amerika melalui BoP dan ISF. Oleh karena itu, walaupun Indonesia menjadi wakil komandan ISF, tapi wakil komandan di bawah struktur komando Amerika Serikat. Jadi ini jelas membuka dominasi Amerika lebih lanjut lagi karena Indonesia tidak punya kemampuan untuk berhadapan dengan Amerika secara langsung.
“Seharusnya kalau memang berani ya sejak dari awal jangan sampai mengirim pasukan di bawah komando Amerika Serikat. Harusnya mengirim pasukan mandiri beserta dengan negeri-negeri Muslim yang lainnya untuk membebaskan Palestina. Maknanya adalah mengusir Israel dari tanah Palestina,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat