Peneliti MSPI Ungkap 3 Pelajaran Penting Hadapi Kelicikan AS di Timteng
MediaUmat – Menanggapi isu pengembangan pesawat nirawak (drone) oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel yang menyerupai model buatan Iran yang memicu kekhawatiran adanya upaya adu domba untuk memperkeruh situasi di Timur Tengah, Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan, M.Ag., menekankan tiga pelajaran fundamental yang harus dipetik penguasa dunia Islam.
“Setidaknya ada tiga pelajaran penting yang harus dipetik kaum Muslim dan para penguasa dunia Islam terkait strategi Amerika-Israel ini,” ungkap Riyan kepada media-umat.com, Selasa (17/3/2026).
Pertama, penguasa Muslim harus menyadari bahwa AS adalah negara ideologis kapitalis yang bergerak murni berdasarkan asas manfaat. Menurut Riyan, AS tidak akan segan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan penjajahan politik, ekonomi, serta dominasi atas sumber energi, khususnya minyak. Selain itu, AS berupaya meredam perlawanan dari gerakan Islam ideologis yang menantang eksistensi mereka.
Kedua, meskipun negara sekutu seperti Arab Saudi, Kuwait, dan UEA mulai menahan diri terhadap peran proteksi AS, kewaspadaan penuh tetap diperlukan. Riyan menilai komitmen perlindungan Washington sering kali hanyalah “komoditas dagang” yang dibayar mahal melalui belanja senjata. Namun, rentan dikhianati demi kepentingan sepihak.
“Status sekutu tidaklah penting bagi mereka. Siapa pun bisa dimanfaatkan atau ditipu untuk mewujudkan ambisi dan keserakahan. Penguasa Muslim jangan sampai terjebak skenario perang saudara yang hanya akan melemahkan kekuatan militer regional,” tambahnya.
Ketiga, mendesaknya kebutuhan umat Islam untuk bersatu di bawah kepemimpinan global yang mandiri (Khilafah). Persatuan ini bertujuan agar potensi umat, termasuk kelompok Kurdi dan faksi lainnya, tidak lagi menjadi alat kepentingan penjajah, melainkan menjadi kekuatan pertahanan ideologis yang disegani.
Pola Serangan dan Provokasi
Riyan menyoroti pola serangan AS dan Israel pada 28 Februari 2026, yang dinilai mengulang pola serangan Juni 2025. Ia juga menyinggung tragedi rudal Tomahawk yang menghantam sekolah dasar putri di Minab, Iran selatan, yang menewaskan 168 orang.
Laporan keterlibatan milisi Kurdi di perbatasan Irak sebagai ujung tombak serangan darat terhadap pemerintah Iran juga disebut sebagai strategi CIA untuk memicu ketidakstabilan internal.
“Tindakan ini merupakan bagian dari eskalasi yang lebih luas akibat kebuntuan diplomasi nuklir,” imbuh Riyan.
Terkait pengembangan drone tiruan, Riyan menegaskan bahwa dalam perang, tipu daya adalah instrumen utama. Upaya ini mengindikasikan bahwa AS dan Israel mulai kesulitan menghadapi kekuatan riil Iran, sehingga menggunakan sentimen sektarian (Sunni-Syiah) untuk menyeret negara-negara Muslim ke dalam konflik.
Untuk itu, Riyan berharap umat Islam tidak terjebak dalam provokasi tersebut dan mampu menahan diri dari skenario adu domba yang dirancang AS dan entitas Zionis Yahudi.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat