Perlawanan Iran Tanpa Perombakan Sistem, Tetap dalam Kendali AS
MediaUmat – Perlawanan Iran terhadap Amerika Serikat (AS) belakangan ini dinilai hanya menjadi bagian dari dinamika tawar-menawar kepentingan di bawah kendali Washington, selama tidak didasarkan pada perombakan sistem global secara total.
“Selama perlawanan tidak didasarkan pada perombakan sistem global secara total, tekanan yang dilakukan hanya menjadi bagian dari dinamika tawar-menawar kepentingan di bawah kendali Amerika,” tegas Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana kepada media-umat.com, Rabu (9/9/2026).
Pernyataan tersebut merespons sikap Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang bersumpah terus melawan hingga agresor menyesal lewat unggahan di media sosial X, di tengah tuduhan pelanggaran MoU penghentian pertempuran.
Ketegangan politik tersebut dipicu oleh kontak senjata yang kembali pecah usai AS menghancurkan lima tanker minyak Iran dan dibalas gempuran Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke pangkalan militer AS di Yordania.
Peluang Agresor Menyesal
Terkait hal tersebut, Budi menilai kekuatan negara kapitalis seperti AS tidak sekadar diukur dari aksi militer, melainkan dari cengkeraman fikrah (konsep) dan thariqah (metode) penjajahannya secara global. Tanpa menyasar akar sistemnya, peluang membuat agresor menyesal secara hakiki masih sangat kecil.
“Indikasinya, gesekan yang terjadi masih berada dalam koridor konstelasi kepentingan parsial serta bagian dari uslub (strategi) dan khiththah (garis politik) global tanpa mencabut akar imperialisme kapitalisme,” ujarnya.
Tanggung Jawab Global Umat Islam
Budi menegaskan, dominasi dan ancaman hegemoni AS merupakan persoalan yang harus dihadapi oleh seluruh kaum Muslim secara kolektif.
“Masalah dominasi Amerika bukanlah urusan internal negara tertentu, melainkan kewajiban global seluruh umat Islam sebagai satu kesatuan umat atau ummah wahidah,” jelasnya.
Oleh karena itu, tambah Budi, dunia Islam wajib melawan hegemoni tersebut melalui perjuangan politik membongkar konspirasi penjajah (al-kifah as-siyasi) dan perang pemikiran melawan sekularisme-kapitalisme (ash-shira’ al-fikri).
Perjuangan kolektif tersebut, sambung Budi, baru akan berdampak sistemis apabila terwujud dalam persatuan politik riil di bawah institusi Khilafah. Persatuan tersebut diyakini bakal meruntuhkan hegemoni AS karena Washington akan kehilangan basis pasar, sumber daya, serta pengaruh politik internasionalnya.
Lantas, persatuan politik tersebut menurutnya juga akan menyelesaikan persoalan di negeri-negeri Muslim lainnya termasuk Palestina, yang tidak akan pernah tuntas lewat diplomasi atau solusi dua negara (two-state solution) selama Israel berdiri sebagai pangkalan militer imperialis.
“Israel pasti dienyahkan dari Palestina manakala umat Islam memiliki kesadaran politik global dan kekuatan militer negara Islam dengan metode jihad fisabilillah,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat