Kiai Labib: Musibah Seharusnya Membuat Manusia Kembali kepada Allah
MediaUmat – Cendekiawan Muslim KH Rokhmat S. Labib menegaskan, musibah dapat menjadi peringatan bagi manusia agar menyadari kesalahan, meninggalkan kemaksiatan, dan kembali bertobat kepada Allah SWT.
“Jadi sebenarnya berbagai macam musibah berupa kerusakan akibat kemaksiatan orang sedang melakukan kemaksiatan, lalu kemudian akibatnya berbagai macam kerusakan yang menimpa manusia, itu Allah memang berikan kepada manusia agar mereka kembali, bertobat kepada Allah,” tuturnya dalam Islam dan Kehidupan: Apa pun Persoalan Diri dan Negeri Kita, Islam adalah Solusinya, Sabtu (31/10/2026) di kanal YouTube K.H. Rokhmat S. Labib.
Menurutnya, musibah semestinya membuat seseorang menyadari kesalahan dan kembali mengingat Allah. Kesadaran tersebut merupakan kebaikan yang seharusnya muncul ketika manusia menghadapi kesulitan.
“Jadi kalau sebenarnya ketika orang mendapatkan situasi terdesak atau mendapatkan musibah, dia kemudian ingat Allah, itu bagus,” jelasnya.
Sebaliknya, persoalan besar muncul ketika seseorang tidak mengambil pelajaran dari musibah yang menimpanya. Bukannya bertobat, ia justru mempersoalkan keadilan Allah.
“Masalah besar itu justru ketika sudah mendapatkan pelajaran begitu dia tidak mau kembali, dia malah marah-marah kepada Allah. ‘Ya Allah, Engkau bagaimana? Di mana keadilan-Mu?’” ungkapnya.
Labib mencontohkan, ketika seseorang ditimpa sakit, semestinya ia memohon ampun atas dosa-dosanya dan bertobat. Namun, alih-alih melakukan hal tersebut, ia justru marah kepada Allah.
“Ketika dia mendapatkan musibah berupa sakit, dia tidak kembali kepada Allah, meminta ampun atas dosanya, lalu kemudian dia bertobat kalau ada kesalahan-kesalahannya, tapi justru marah kepada Allah,” paparnya.
Labib mengingatkan, kelalaian manusia tidak hanya tampak ketika menghadapi musibah. Saat memperoleh berbagai kenikmatan, manusia juga kerap lupa kepada Allah dan menganggap keberhasilan yang diraih semata-mata hasil usahanya sendiri.
“Berbagai macam kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia itu sering membuat manusia lalai. Bahwa seolah-olah berbagai macam kenikmatan itu dia peroleh sendiri atau setidaknya itu bukan berasal dari Allah,” tuturnya.
Karena itu, kesadaran untuk kembali kepada Allah harus dijaga, bukan hanya ketika seseorang tertimpa musibah, melainkan juga setelah keadaan kembali normal.
“Dan semestinya begitu dia kembali kepada Allah, dia tidak balik lagi ketika mendapatkan kondisi normal,” tegasnya.
Ia menjelaskan, orang yang terus-menerus melakukan kemaksiatan tanpa segera menyadari kesalahan dan memohon ampun berarti melakukan iṣrār (terus-menerus dalam dosa). Sikap tersebut menunjukkan bahwa peringatan yang diterima tidak membuatnya beranjak dari kemaksiatan.
“Jadi namanya isrār, dia tidak melanjutkan, dia tidak meneruskan. Jadi sudah melakukan kemaksiatan, dia tidak segera ingat, tidak minta ampun, dia terus,” jelasnya.
Menurut Labib, orang yang tetap bertahan dalam kemaksiatan dan tidak bertobat menghadapi ancaman azab Allah.
“Jadi tentu kalau orang seperti ini, azab Allah menanti ketika dia tidak bertobat,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat