Dukungan India ke Zionis Tegaskan Genosida Palestina Berskala Global
MediaUmat – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menilai dukungan India terhadap persenjataan Zionis Yahudi semakin menegaskan, tragedi genosida di Palestina bukan sekadar konflik regional, melainkan persoalan global yang melibatkan banyak kekuatan dunia.
“Ini menunjukkan kepada kaum Muslim bahwa masalah genosida di Palestina ini adalah masalah global dan sesungguhnya umat Islam sedang menghadapi kekuatan global dari musuh-musuh Islam,” tegasnya kepada media-umat.com, Kamis (30/7/2026).
Ia menjelaskan, selama ini banyak pihak melihat konflik Palestina hanya bertumpu pada dukungan Amerika Serikat terhadap Zionis Israel. Namun, fakta terbaru justru memperlihatkan keterlibatan negara-negara lain yang memiliki posisi berseberangan dengan umat Islam.
“Jadi bukan hanya bersandarkan kepada Amerika, tentu Amerika adalah pendukung utama Zionis Yahudi, tetapi juga didukung oleh negara-negara lain yang menjadi musuh umat Islam,” ungkapnya.
Farid juga menyoroti bahwa dukungan tersebut tidak hanya datang dari negara-negara Barat, tetapi juga dari negara yang selama ini dikenal memiliki rekam jejak konflik dengan kaum Muslim di berbagai wilayah.
“Baik itu Eropa, ataupun negara-negara yang selama ini dikenal sebagai negara muhariban fi’lan, yang secara nyata memerangi kaum Muslimin. Seperti India di Kashmir, demikian juga Rusia,” ujarnya.
Menghadapi kekuatan global semacam ini, jelas Farid, tidak cukup dilakukan secara parsial atau oleh satu negara saja, melainkan membutuhkan kekuatan yang setara dalam skala global.
“Karena itu, ketika menghadapi kekuatan global negara-negara imperialisme ini, umat Islam juga membutuhkan kekuatan global. Yang kita hadapi bukan satu negara, tapi gabungan beberapa negara yang memusuhi umat Islam,” ujarnya.
Menurut Farid, kebutuhan akan persatuan politik umat Islam dalam satu kepemimpinan global menjadi semakin relevan di tengah kondisi geopolitik saat ini.
“Itulah letak pentingnya kenapa keberadaan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah sangat dibutuhkan oleh umat Islam,” tegasnya.
Hubungan India-Israel
Farid juga menyatakan, relasi India-Israel sejatinya bukan sekadar hubungan ekonomi atau perdagangan biasa, melainkan dibangun di atas kesamaan kepentingan strategis yang lebih dalam, terutama di bidang geopolitik, keamanan, teknologi militer, dan intelijen.
“Fakta ini menunjukkan bahwa hubungan India-Israel bukanlah semata-mata hubungan dagang, tetapi didasari oleh kesamaan kepentingan geopolitik, keamanan, teknologi militer, dan intelijen,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, jika ditelusuri dari sisi historis, hubungan kedua negara ini bukanlah fenomena baru. India, sudah mengakui keberadaan Israel sejak awal berdirinya negara tersebut, meskipun hubungan diplomatik formal baru terjalin beberapa dekade kemudian.
“Kalau kita lihat sejarah hubungan India-Israel, India sebenarnya sudah mengakui Israel pada tahun 1950, jadi ini bukan perkara baru, tetapi hubungan diplomatik baru dibuka pada tahun 1992,” paparnya.
Farid menambahkan, hubungan bilateral ini mengalami percepatan signifikan sejak kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi pada 2014, yang membuka ruang kerja sama lebih luas di berbagai sektor strategis.
“Hubungan India-Israel semakin berkembang pesat sejak Narendra Modi berkuasa pada tahun 2014. Kerja sama diperluas dalam bidang intelijen, pertahanan, teknologi, pertanian, siber, ruang angkasa, dan perdagangan,” jelasnya.
Kedekatan tersebut, jelas Farid, ditandai dengan momen penting kunjungan kenegaraan Modi ke Israel pada 2017, yang menjadi tonggak baru dalam hubungan kedua negara.
Semakin dekatnya India-Israel, menurut Farid, karena mereka memiliki kebencian besar yang sama terhadap umat Islam, tidak segan menumpahkan darah kaum Muslim, dan memiliki perkataan keji yang sama.
“Eratnya di masa sekarang ini karena kebencian yang meluap-luap kedua pemimpin ini. Namun sayangnya penguasa-penguasa negeri Islam malah berangkulan dengan India maupun Zionis Yahudi,” tegasnya.
Pasar Utama
Lebih jauh, Farid mengungkapkan, India selama ini menjadi pasar utama bagi industri pertahanan Israel, bahkan menduduki posisi sebagai pembeli terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
“Perlu kita catat, India merupakan pembeli senjata Israel terbesar. Sekitar 34 persen ekspor senjata Israel pada periode 2020–2024 ditujukan ke India,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan ini tidak berhenti pada transaksi jual beli semata, tetapi telah berkembang menjadi kolaborasi industri yang lebih dalam melalui pembangunan fasilitas produksi bersama di India.
“Perusahaan Israel membangun fasilitas di India dan menjalani usaha patungan dengan perusahaan India untuk memproduksi radar, drone, sistem rudal, pertahanan udara, serta perlengkapan elektronik militer,” jelasnya.
Ia pun menilai, peningkatan kerja sama tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya agresi Zionis terhadap Palestina dalam beberapa tahun terakhir.
“Hubungan ini semakin meningkat pada 2025–2026, bersamaan dengan meningkatnya genosida yang dilakukan Zionis Yahudi,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat