FIWS: Perobohan Masjid di India Buah Hilangnya Kekuatan Politik Umat

 FIWS: Perobohan Masjid di India Buah Hilangnya Kekuatan Politik Umat

MediaUmat Menanggapi maraknya perobohan masjid di India, Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menilai peristiwa tersebut tidak lepas dari hilangnya kekuatan politik umat Islam di tingkat global sejak runtuhnya Khilafah Islam.

“Peristiwa-peristiwa ini semuanya menunjukkan buah dari ketiadaan kekuatan politik umat Islam secara global, terutama setelah runtuhnya Khilafah Islam ala minhajin nubuwwah,” ujarnya dalam Mbois: Kembali Masjid di India Dirubuhkan! Ada Apa? yang ditayangkan kanal YouTube Tabloid Media Umat, Rabu (15/7/2026).

Farid menilai, maraknya perobohan masjid di India merupakan bagian dari politik nasionalisme Hindu yang dijalankan Bharatiya Janata Party (BJP).

“Namun ini tidak bisa dilepaskan dari politik nasionalisme Hindu dari Partai BJP. Kalau dalam catatan saya selama BJP berkuasa di bawah Perdana Menteri Narendra Modi sejak tahun 2014, pembongkaran masjid dan aset-aset umat Islam termasuk madrasah meningkat secara signifikan,” katanya.

Menurut Farid, dalih penertiban bangunan ilegal hanya dijadikan alasan untuk membenarkan pembongkaran aset-aset milik umat Islam, termasuk tanah wakaf yang telah berusia ratusan tahun.

“Alasannya juga sama, operasi penertiban bangunan yang diklaim ilegal menggunakan bulldozer. Padahal banyak bangunan-bangunan ini adalah bangunan-bangunan tua yang merupakan tanah wakaf. Pada Mei sampai Juni 2026 ada 23 bangunan keagamaan Islam, termasuk madrasah dan masjid, dilaporkan dirubuhkan hanya dalam kurun 45 hari,” paparnya.

Ia menambahkan, perobohan masjid merupakan bagian dari kebijakan yang berakar pada ideologi Hindutva yang mendiskriminasi kaum Muslim.

“Jadi ini kalau kita lihat memang tidak lepas dari politik Hindutva yaitu nasionalisme Hindu yang kerap kali mendiskriminasi dan merugikan kaum Muslimin,” tegasnya.

Farid selanjutnya menilai, lemahnya posisi umat Islam saat ini tidak terlepas dari ketiadaan kekuatan politik global yang mampu memberikan perlindungan maupun tekanan terhadap berbagai bentuk penindasan.

“Umat Islam tidak punya kekuatan politik global yang punya pengaruh yang disegani. Tekanan-tekanan politiknya itu akan diperhatikan. Kita tidak punya. Saya kira dua faktor itu menjadi penyebab utamanya,” ungkapnya.

Tekanan Internasional Dinilai Tidak Efektif

Karena itu, Farid berpandangan, tekanan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), organisasi hak asasi manusia, maupun diplomasi internasional tidak cukup menghentikan penindasan terhadap umat Islam.

“Untuk isu-isu keislaman sering kali ini tidak sejalan, maka isu HAM dan tekanan internasional ini tidak berpengaruh secara signifikan. Tekanan-tekanan PBB dan organisasi internasional tidak cukup, bahkan terkadang tidak berpengaruh sama sekali,” jelasnya.

Sebagai solusi, Farid menegaskan, umat Islam membutuhkan kepemimpinan yang didukung kekuatan politik dan militer agar mampu menjadi pelindung seluruh kaum Muslim.

“Umat Islam harus melihat kita itu butuh kekuatan politik yang kuat, yaitu negara yang kuat. Harus juga disertai dengan kekuatan militer. Persatuan umat Islam itu sangat dibutuhkan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, ‘al-imam junnah’, imam atau penguasa itu adalah perisai bagi umat,” pungkasnya.[] Zainard

 

 

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *