Trainer: Kunci Keberkahan Itu Iman dan Takwa

 Trainer: Kunci Keberkahan Itu Iman dan Takwa

MediaUmat Konsultan dan Trainer Muhammad Karebet Widjajakusuma menegaskan, jauhnya kehidupan umat dari keberkahan dan kemuliaan karena umat tidak bersungguh-sungguh meraih tujuan utama puasa Ramadhan, yaitu bertakwa dengan menerapkan seluruh syariat Allah dalam setiap sendi kehidupan, sebab kunci keberkahan bukan sekadar ritual, melainkan iman dan takwa yang nyata dalam kehidupan.

“Ternyata kata kunci keberkahan itu adalah ketika kita beriman dan bertakwa,” tegasnya dalam program Cahaya Ramadhan: Berkah Tidak Turun pada Sistem yang Zalim, Rabu (18/2/2026) di kanal YouTube 1 Ummah.

Mengutip firman Allah, ia menjelaskan, keberkahan merupakan janji Allah yang diberikan kepada masyarakat yang beriman dan bertakwa.

“Takwa itu beriman dan beramal shalih, maka kata Allah, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakaatun minas samaa’i wal ard (keberkahan dari langit dan bumi),” ujarnya.

Kebalikan dari ketakwaan adalah kezaliman. Menurutnya, ukuran kezaliman dalam Al-Qur’an berkaitan dengan penerapan hukum Allah dalam kehidupan.

“Barang siapa yang tidak menerapkan apa yang diturunkan oleh Allah… maka dia dikategorikan sebagai zalim,” tegasnya.

Ia kemudian memperjelas makna zalim sebagai tindakan menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.

“Zalim adalah ketika seseorang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya,” jelas Karebet.

Dari definisi tersebut, ia mengaitkan berbagai persoalan umat dengan sistem yang diterapkan saat ini.

“Fakta-fakta ini ternyata bukan fakta yang sifatnya kebetulan… tapi terjadi karena kita menerapkan kapitalisme-sekularisme,” bebernya.

Menurutnya, sistem itu membatasi Islam hanya pada ranah tertentu dan tidak menjadikannya sebagai dasar pengaturan kehidupan publik.

“Islam itu kita kebiri sedemikian rupa, hanya berada di tempat-tempat tertentu saja,” sebutnya.

Dampaknya, jelas Karebet, tidak hanya tampak pada aspek ekonomi, tetapi juga menyentuh kondisi batin masyarakat.

“Sering kali kezaliman itu juga mengakibatkan sesuatu yang tidak lahiriah. Kondisi batin kita,” ungkapnya.

Ia menyebut adanya fenomena gangguan mental sebagai bagian dari apa yang disebutnya sebagai residu pembangunan.

“Kezaliman atau buah kezaliman itu disebut… sebagai residu pembangunan,” kata Karebet.

Ia bahkan menyebut data yang menurutnya menunjukkan dampak tersebut pada generasi muda.

“35% remaja kita itu menderita gangguan jiwa,” ujarnya.

Dalam bidang ekonomi, ia mencontohkan praktik riba yang tetap dijalankan meski diakui keharamannya karena alasan sistem.

“Saya tahu, Pak. Ini haram. Tapi ini sudah sistem,” kata Karebet mengutip jawaban orang yang didakwahinya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan kuatnya pengaruh sistem terhadap perilaku individu.

Membandingkan dengan masa sebelum diutusnya Rasulullah SAW, ia menyebut kesamaan pada aspek tidak digunakannya aturan Allah dalam kehidupan.

“Makna jahiliah ketika itu… karena mereka tidak mau menggunakan aturan Allah,” bebernya.

Menurutnya, kondisi serupa juga terjadi hari ini. “Hari ini… kita tidak mau menerapkan syariat Islam,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai keberkahan sulit diraih ketika kewajiban kolektif umat diabaikan. “Kenapa menjadi tidak berkah? Karena kita mengabaikan fardu kifayah yang 90%,” ucapnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar umat tetap bersabar dan optimistis terhadap janji Allah. “Kita harus bersabar karena Islam suatu saat nanti pasti jadi,” jelasnya.

Sebagai penutup, ia menegaskan solusi terletak pada pengembalian tatanan kehidupan kepada tuntunan ilahi. “Sesuatu yang membuat tatanan kehidupan kita itu berada dalam tuntunan ilahi,” pungkasnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *