Ulama Kaum Muslim Memikul Tanggung Jawab Sejarah
Sejarah telah mengajarkan kita bahwa ketika suatu umat kehilangan kompas pemikirannya, maka umat itu akan kalah secara politik. Dan ketika para ulama tidak bersuara atau tunduk pada otoritas, maka rezim menjadi semakin berani untuk melanggar agama, dan penguasa terus mengabaikan hukum-hukumnya. Tetapi ketika para ulama lantang menyuarakan kebenaran dan menyampaikan kepada masyarakat hukum-hukum Islam tentang pemerintahan sebagaimana hukum shalat, maka mereka sedang menanamkan kesadaran yang mengarah pada perubahan yang hakiki.
Kondisi di mana umat hidup saat ini menuntut para umala untuk berada di garis depan dalam rangka menghidupkan kembali kehidupan Islam (isti’nāf al-hayāh al-islāmiyah), bukan sekadar mengurangi dampak penyimpangan. Para ulama tidak dituntut untuk melakukan reformasi parsial dalam sistem yang korup, tetapi perubahan radikal yang membangun kembali entitas politik di atas fondasi akidah (ideologi) Islam, mendirikan negara yang sepenuhnya menerapkan Islam tanpa kompromi, dan mengemban dakwah ke seluruh dunia melalui dakwah dan jihad.
Para ulama umat Islam mengemban tanggung jawab sejarah. Mereka harus menjadi pewaris sejati para nabi, menyampaikan risālah (pesan) Islam secara utuh dan menyeluruh, bukan sepotong-sepotong, serta memimpin umat menuju persatuan di bawah naungan Khilafah, atau jika tida mereka akan tercatat sebagai orang yang menyaksikan salah satu periode perubahan paling berbahaya, di mana mereka gagal memenuhi kewajibannya untuk menjelaskan dan mempertanggungjawabkan kebenaran. Umat yang pernah melahirkan tokoh-tokoh terkemuka seperti Al-Izz bin Abdus Salam dan Ibnu Taymiyyah, insya Allah, mampu melahirkan ulama-ulama yang akan bangkit memenuhi kewajibannya, mengembalikan ilmu ke tempat yang semestinya, syara’ (hukum Islam) pada kedaulatannya, serta umat kepada persatuan dan entitas politiknya yang komprehensif (alraiah.net, 1/4/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat