UIY: AS Tetap Imperialis, Perdamaian dengan Iran Hanya Sementara
MediaUmat – Menjawab pertanyaan apakah kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran akan menghentikan agresi Washington terhadap Teheran di masa mendatang, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan perdamaian itu tidak menjamin Amerika berhenti menyerang Iran karena watak imperialisme yang menjadi karakter dasar negara tersebut tidak pernah berubah.
“Tentu tidak. Kita tahu bahwa penjahat itu selamanya akan penjahat,” tegasnya dalam Focus to The Point: Iran-AS Berdamai, Israel Ngamuk yang tayang di kanal YouTube UIY Official, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, AS tetap merupakan negara adidaya yang menjalankan politik imperialisme dan kolonialisme. Karena itu, kesediaan Washington menempuh jalan damai saat ini tidak dapat dipahami sebagai perubahan sikap, melainkan sekadar langkah sementara akibat situasi yang tidak menguntungkan mereka.
“Amerika itu tidak pernah bergeser dari negara adikuasa, negara imperialis, kolonialis yang dia akan menghisap darah siapa pun untuk kepentingan mereka,” ujarnya.
Karena itu, lanjut UIY, perdamaian yang tercapai saat ini tidak dapat dijadikan jaminan bahwa agresi serupa tidak akan terulang pada masa mendatang.
“Jikapun sekarang ini tampak mereka itu harus menempuh jalan damai, sekali lagi itu hanya sementara dan mungkin suatu hari nanti akan melakukan hal yang sama. Jika tidak kepada Iran mungkin di tempat lain,” jelasnya.
Menurut UIY, salah satu faktor yang mendorong AS mencari jalan keluar dari konflik adalah posisi mereka yang semakin sulit di medan perang. Bahkan, ia menilai hasil konflik tersebut menunjukkan AS gagal mencapai tujuan yang diinginkan.
“Secara faktual kita bisa katakan bahwa Amerika itu kalah,” tegasnya.
Ia menjelaskan, perang justru menghasilkan sejumlah keuntungan strategis bagi Iran yang sebelumnya tidak dimiliki. Salah satunya adalah meningkatnya posisi tawar Teheran terhadap AS dan dunia internasional.
“Sekarang Iran berani menutup Selat Hormuz. Dulunya tidak,” ujarnya.
Selain itu, Iran juga memiliki peluang lebih besar untuk menuntut pencairan aset-aset mereka yang selama puluhan tahun diblokir di berbagai negara.
“Iran juga sekarang bisa meminta bahwa seluruh dana mereka itu harus dicairkan,” tambahnya.
Bagi UIY, kemampuan Iran bertahan menghadapi serangan hingga akhirnya memaksa lahirnya perundingan merupakan indikator kemenangan yang tidak dapat diabaikan.
“Ketika sebuah negara diserang dan dia bisa bertahan pada akhirnya sampai pada meja perundingan, bahkan kemudian melahirkan kesepakatan damai, itu jelas sebuah kemenangan,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat Presiden Donald Trump menghadapi tekanan yang semakin besar di dalam negeri. Opini publik AS terus mempertanyakan alasan perang dan manfaat yang diperoleh dari konflik tersebut.
“Opini publik dalam negeri terus mempertanyakan untuk apa sih perang ini?” ungkapnya.
Menurutnya, penjelasan yang disampaikan Trump justru menimbulkan kontradiksi. Ketika pemerintah AS mengklaim fasilitas nuklir Iran telah dihancurkan, publik kemudian mempertanyakan alasan perang harus terus dilanjutkan.
“Semakin dijelaskan semakin muncul paradoks di sana,” katanya.
Selain tekanan politik, biaya perang yang sangat besar juga menjadi persoalan serius bagi pemerintah AS. Rakyat AS, kata UIY, menyadari dana yang digunakan berasal dari pajak mereka, sementara manfaatnya tidak dirasakan secara langsung.
“Biaya untuk perang itu sangat besar dan publik Amerika pasti tahu bahwa uang itu adalah uang pajak mereka yang dipakai secara semena-mena untuk sesuatu yang tak ada hubungannya dengan mereka,” ujarnya.
Menurutnya, pihak yang paling banyak memperoleh keuntungan justru industri pertahanan yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan elite politik AS.
“Yang paling banyak mengambil keuntungan adalah defense industry,” tandasnya.
Di sisi lain, UIY menilai perang tersebut telah mengubah cara pandang dunia terhadap Iran dan Amerika. Iran berhasil menunjukkan negara yang selama ini berada di bawah tekanan tetap mampu menghadapi negara adidaya.
“Iran itu telah muncul menjadi sebuah negara yang bisa membuktikan bahwa dia bisa melawan negara adidaya,” ujarnya.
Sebaliknya, sebut UIY, perang itu juga memperlihatkan kekuatan AS tidak sebesar yang selama ini digambarkan.
“Dunia melihat bahwa Amerika itu tidak sekuat seperti yang selama ini digembar-gemborkan atau selama ini dipikirkan dan ditakutkan,” katanya.
Menurut UIY, fakta tersebut berpotensi mengoreksi pandangan negara-negara Teluk yang selama ini menggantungkan keamanan mereka kepada Amerika. Serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika di kawasan menunjukkan bahwa kehadiran Amerika tidak otomatis mampu memberikan perlindungan sebagaimana yang selama ini diyakini.
“Lalu apa fungsinya Amerika itu ada di sana?“ tanyanya.
UIY juga menyoroti adanya ketegangan yang semakin terbuka antara Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Menurutnya, Trump berkepentingan agar kesepakatan damai berjalan, sementara Netanyahu justru membutuhkan suasana perang untuk kepentingan politik domestiknya menjelang pemilu.
“Publik mencatat bahwa ada ketegangan yang tak bisa ditutupi antara Trump dengan Netanyahu,” ungkapnya.
“Netanyahu punya kepentingan domestik, kepentingan politik dalam negeri yang terus harus menjaga suasana perang itu untuk kepentingan dia,” lanjutnya.
Karena itu, menurut UIY, kesepakatan damai yang terjadi saat ini tidak boleh dipahami sebagai berakhirnya watak agresif AS. Selama kepentingan imperialismenya masih ada, potensi agresi serupa tetap akan terbuka.
“Jikapun sekarang ini tampak mereka itu harus menempuh jalan damai, sekali lagi itu hanya sementara dan mungkin suatu hari nanti akan melakukan hal yang sama,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat