Sebut BoP Satu-satunya Jalan Palestina, Pernyataan Yahya Staquf Keliru dan Tunduk Secara Politik?
MediaUmat – Pernyataan Yahya Staquf soal Dewan Perdamaian (Board of Peace) untuk Gaza bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang intinya menganggap sebagai ‘satu-satunya inisiatif penyelesaian konflik Palestina’, dinilai keliru secara politik.
“Pandangan ini jelas keliru secara politik,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi kepada media-umat.com, Sabtu (31/1/12026).
Pasalnya, jelas Farid, umat Islam memiliki pilihan lain yang independen, yakni bersatu melalui ukhuwah islamiah untuk mobilisasi militer tanpa dominasi Amerika Serikat (AS).
“Indonesia dan dunia Islam bisa bersatu di bawah persatuan ukhuwah islamiah untuk melakukan mobilisasi militer yang terlepas dari dominasi Amerika,” urainya.
“Ini adalah pilihan yang sangat-sangat mungkin kalau umat Islam mau,” sambungnya.
Selain itu, narasi tunggal tentang BoP sebagai satu-satunya jalan juga dipandang berbahaya secara ideologis karena mencerminkan kepatuhan terhadap pilihan solusi AS.
“Pernyataan itu jelas berbahaya secara ideologis, dan itu cerminan ketertundukan kepada sistem yang dibangun oleh Amerika,” tandasnya.
Pun dukungan terhadap BoP dituding bertentangan dengan semangat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Sebab, menurut Farid, BoP justru dirancang untuk memperkuat posisi Israel dan menyingkirkan rakyat Palestina.
Lebih jauh keputusan dalam BoP yang mutlak di tangan AS (melalui hak veto), hanya akan menjadikan kehadiran Indonesia dalam inisiatif tersebut sebagai “stempel politik” yang melegitimasi kepentingan Israel di mata dunia Islam.
“Sementara kita tahu, Amerika terus mempertahankan penjajahan Zionis Yahudi, bahkan hal itu merupakan harga mati, dan pasti akan memveto setiap keputusan yang merugikan Israel, jadi tidak ada peran yang benar-benar berpengaruh sama sekali yang bisa dilakukan negara ini dalam kondisi seperti itu,” tandasnya.
Farid juga menyatakan, opsi yang mencerminkan mental tunduk pada penjajah tersebut seharusnya ditolak oleh umat dan memilih bersatu di bawah kekuatan independen, yakni khilafah Islam, sebagai solusi nyata atas persoalan Palestina.
“Umat Islam sesungguhnya memiliki pilihan yang lain, yaitu menyatukan kekuatan umat Islam di bawah ideologi Islam yang independen, dan bersatu di bawah persatuan kaum Muslimin di bawah Khilafah Islam ‘ala Minhaj an-Nubuwwah,” tegasnya.
Diberitakan sebelumnya, Yahya Cholil Staquf mendukung keputusan pemerintah Indonesia bergabung dalam BoP. Menurut Yahya, langkah ini harus dilakukan karena dianggap belum ada alternatif lain yang bisa ditawarkan terkait konsolidasi internasional untuk perdamaian Palestina.
“Persoalannya adalah bahwa saat ini belum ada alternatif platform untuk mengupayakan, untuk membangun suatu upaya internasional dengan konsolidasi internasional untuk perdamaian Palestina,” ucapnya di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1).
Bahkan lebih jauh Yahya menekankan, berdasarkan visi dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, negeri ini tidak boleh tinggal diam sehingga harus ikut serta dalam inisiatif itu.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat