Penguasa Arab Walkout di PBB, Farid Wadjdi Soroti Konsistensi

 Penguasa Arab Walkout di PBB, Farid Wadjdi Soroti Konsistensi

MediaUmat – Menyikapi 70 delegasi dari 70 negara termasuk dari negeri-negeri Muslim melakukan walkout ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato di siding PBB, Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menyoroti pentingnya konsistensi.

“Masalah konsistensi pertama, masalah konsistensi itu sangat penting dan inilah yang perlu kita soroti dari pihak-pihak yang melakukan aksi walkout misalkan beberapa penguasa-penguasa Arab itu melakukan aksi walkout,” ujarnya kepada media-umat.com, Rabu (30/9/2026).

Karena, menurutnya, di satu sisi 70 delegasi melakukan walkout, tetapi di sisi lain penguasa-penguasa Arab dan yang melakukan aksi walkout masih menjalin hubungan normalisasi dengan Zionis Yahudi.

“Bahkan Yordania misalkan melakukan upaya untuk menghalangi serangan-serangan rudal yang berasal dari Iran,” bebernya.

Demikian juga lanjutnya, penguasa-penguasa Arab masih menyediakan daerahnya sebagai pangkalan militer Amerika Serikat, dan AS kerap kali bekerja sama dengan entitas Zionis Yahudi ini untuk melakukan penyerangan-penyerangan terhadap Gaza.

“Jadi, konsistensi ini menjadi penting termasuk Indonesia tentu aksi kemarin aksi yang menunjukkan penolakan tapi sisi lain Indonesia masih bergabung dengan BoP kita tahu Board of Peace ini adalah badan internasional bentukan Donald Trump dan itu untuk kepentingan Amerika dan entitas Zionis Yahudi,” bebernya.

Hukum Internasional

Farid menilai hukum internasional sendiri itu kerap kali tidak berfungsi, ketika menghadapi kejahatan Zionis Yahudi.

“Ini sebagai contoh misalkan ICC badan mahkamah pidana internasional itu sudah menetapkan bahwa Benjamin Netanyahu ini harus diperiksa sebagai tersangka pelaku kejahatan genosida tapi sampai sekarang tidak ada tindakan yang nyata terhadap Benjamin Netanyahu ini,” bebernya.

Demikian juga, lanjutnya, berapa banyak keputusan-keputusan dari PBB atau resolusi PBB yang mengecam Zionis Yahudi itu kemudian tidak efektif karena diveto oleh Amerika Serikat.

“Demikian juga aksi-aksi bentuk-bentuk normalisasi atau kesepakatan perjanjian-perjanjian damai selama ini dengan entitas Zionis Yahudi mulai dari kesepakatan damai Camp David, Oslo, Madrid dan sebagainya itu tidak memberikan dampak yang nyata terhadap upaya pembebasan Palestina,” bebernya.

Sehingga, lanjutnya, yang harus dipikirkan sekarang adalah bukan sekedar aksi walkout tapi apa tindakan nyata untuk membebaskan tanah Palestina.

 

Bahkan, lanjutnya, solusi-solusi yang berdasarkan kepada hukum internasional atau PBB, selama ini juga tidak efektif

“Seperti yang tadi kita katakan apa penyebabnya PBB misalkan, yang bisa melakukan tindakan yang lebih konkret seperti tindakan militer, itu kan Dewan Keamanan, keputusan Dewan Keamanan PBB,” bebernya.

Jadi, lanjutnya, di situ masalahnya, di Dewan Keamanan PBB itu ada hak veto dari lima negara pemenang perang dunia kedua di dalamnya ada Amerika dan negara-negara Eropa dan selama ini setiap kebijakan yang dianggap mengancam zionis Yahudi ini akan di veto oleh Amerika.

“Oleh karena itu, mengandalkan kepada Dewan Keamanan PBB itu tidak bisa diharapkan,” bebernya.

Independen

Farid juga menilai disinilah pentingnya umat Islam berpikir untuk melakukan tindakan yang independen berdasarkan kekuatan politik umat Islam sendiri.

“Dan umat Islam sesungguhnya memiliki kemampuan untuk itu yang dibutuhkan umat Islam sekarang ini adalah persatuan dunia Islam secara politik yang bersatu untuk kemudian secara serius menelesaikan persoalan Palestina ini dan apa yang menjadi persoalan mendasar dari Palestina ini adalah penjajahan dan bagaimana sikap terhadap penjajahan,” bebernya.

Jadi, lanjutnya, dsitulah pentingnya umat Islam itu bersatu dan melakukan mobilisasi militer jihad fisabililah untuk kemudian bersama-sama menghilangkan penjajahan dari tanah Palestina ya sampai sekarang kondisi rakyat Palestina masih sangat-sangat memprihatinkan sampai saat sekarang, pembunuhan demi pembunuhan itu terus terjadi dan itu berlangsung.

“Walaupun sekarang ini kan fase yang disebut dengan fase genjatan senjata tapi sudah ada ratusan orang yang terbunuh begitu apalagi kalau dihitung sejak Oktober 2023 itu sudah lebih dari 70 ribu yang menjadi korban genosida identitas penjajah Yahudi disamping itu saat sekarang ini hampir seluruh infrastruktur di Gaza itu lumpuh,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *