HILMI: Runtuhnya Argumen Agama Belum Tentu Membuktikan Ateisme Benar
MediaUmat – Kesalahan logika maupun kelemahan argumen dalam membuktikan kebenaran agama dinilai Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) tidak serta-merta menjadikan ateisme sebagai sebuah kebenaran yang sah.
“Jika suatu agama terbukti salah, ateisme belum otomatis benar,” demikian bunyi Letter to Intellectuals No. 023 yang diterima media-umat.com dari HILMI, Senin (21/9/2026).
Pernyataan ini merespons diskusi publik seputar kedudukan ateisme modern, sekaligus meninjau kembali sejauh mana gagasan tanpa Pencipta mampu menjawab persoalan mendasar. Mulai dari asal-usul alam semesta, kesadaran manusia, hingga landasan moralitas.
Dalam catatannya, ketidakpercayaan seseorang terhadap Tuhan bukanlah bukti ontologis (nyata dalam realitas) atas ketiadaan Pencipta. Cacat dalam alur pembuktian agama hanyalah kesalahan cara berpikir penganutnya, bukan bukti atas kekeliruan eksistensi Tuhan.
Sebagai contoh, ketika seorang penganut agama gagal menjelaskan asal-usul alam semesta secara ilmiah, seorang ateis tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa Pencipta pasti tidak ada.
Pola pikir serupa juga berlaku pada klaim sains. Hukum alam dan teori evolusi yang ditawarkan sains, dipandang hanya sebatas menjelaskan proses di dunia, bukan alasan mengapa alam semesta itu sendiri ada.
“Mekanisme ilmiah tidak mampu menjelaskan dari mana datangnya kesadaran, serta dari mana munculnya kewajiban moral yang bersifat objektif,” tulis lembaga tersebut. Atas dasar itu, ateisme yang menyandarkan diri sepenuhnya pada fakta materi juga dinilai gagal memberikan penjelasan yang utuh mengenai realitas.
Perspektif Tauhid
Sebagai alternatif atas keterbatasan materialisme (paham yang menganggap seluruh realitas hanya sebatas materi fisik), catatan ini menawarkan pandangan teisme—khususnya perspektif tauhid dalam Islam. Dalam tinjauan ini, Sang Pencipta bukanlah objek fisik di alam semesta yang dicari dengan alat ilmiah, melainkan Al-Khaliq—Sumber Keberadaan yang mendasari seluruh realitas.
Melalui pendekatan teistik ini, keteraturan alam semesta dijelaskan sebagai hasil rancangan Pencipta Yang Maha Cerdas. Sementara itu, kemampuan berpikir dan kesadaran manusia lahir dari Pencipta Yang Maha Sadar, serta kebenaran nilai-nilai moral memiliki landasan yang jelas dan objektif dari Sang Pencipta.
Di sisi lain, ditegaskan pula runtuhnya pandangan ateisme barulah langkah awal. Ketidakmampuan paham tersebut dalam menjelaskan realitas tanpa Tuhan menjadi pintu masuk utama untuk membuktikan kebenaran wahyu dan kenabian Islam pada tahap berikutnya.
Atas dasar itu pula, ateisme bukanlah kesimpulan mutlak sains modern, melainkan pilihan metafisika (keyakinan filosofis di luar jangkauan fisik/sains) yang wajib membuktikan klaimnya sendiri. “Jika jawabannya belum jelas, maka ateisme kuat bukanlah kesimpulan wajib dari rasionalitas atau sains. Ia tetap merupakan sebuah posisi metafisik yang juga harus membuktikan dirinya,” tutup HILMI.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat