MSPI: Kunjungan Trump ke Cina, Sekadar Diplomasi Bebek Lumpuh

 MSPI: Kunjungan Trump ke Cina, Sekadar Diplomasi Bebek Lumpuh

MediaUmat – Peneliti dari Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. M. Riyan menilai diplomasi yang dilakukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Cina tidak lebih dari sekadar diplomasi bebek lumpuh.

“Jadi diplomasi yang dilakukan (Trump) ke Beijing (Cina) tidak lebih dari sekadar diplomasi bebek lumpuh,” tuturnya dalam acara Trump & China: Apa yang Terjadi di Balik Layar ‘Diplomasi Bebek Lumpuh’? di kanal YouTube Ngaji Subuh, Senin (18/5/2026).

Artinya, jelas Riyan, secara bahasa diplomatis, bebek itu mengacu kepada Donal. Donal itu sebuah metafora yang ada di tengah manipulasi dan kamuflase politik yang dijalankan Trump di media sosial.

“Donal bebek kan, orang mengatakan?” cetusnya.

Menurut Riyan, Trump sedang sekarat dengan kebijakannya sendiri.

“Dari sini kita bisa melihat bahwa Amerika sedang tidak baik-baik saja. Secara politik sedang dijauhi dan juga mengalami penyusutan senjata dari perang itu. Sedangkan memproduksinya membutuhkan waktu,” ucapnya.

Diperparah, imbuh Riyan, kondisi Amerika setelah perang dengan Iran.

“Kenapa Trump itu kemarin tiba-tiba mengklaim perang dengan Iran sudah selesai? Karena tentu ada undang-undang terkait dengan persoalan itu yang membatasi. Kalau sampai Presiden Amerika itu memutuskan perang tanpa kongres itu maksimal 60 hari. Jadi, kalau lebih dari itu maka melanggar konstitusi,” bebernya.

Kasus perang ini, lanjut Riyan, memberi tamparan yang keras bagi Trump. Ditunjukkan dengan sekutu-sekutunya tidak mau bersama Trump.

“Dengan kondisi berkurangnya stok persenjataan secara signifikan sangat mudah bagi lawan-lawan Amerika tadi seperti Rusia dan Tiongkok untuk menjatuhkan Amerika secara militer. Jadi ada istilah tidak menguntungkan dan mereka melakukan pengamanan jalur distribusi secara mandiri,” ungkapnya.

Di sinilah, papar Riyan, Trump melihat peran penting dari Cina yang dianggap sebagai negosiator.

Karena, tegas Riyan, faktanya Cina sangat bergantung pada Iran pada importasi minyak.

“Sekitar 15-30 persen kebutuhan minyak yang dipasok dari Iran. Tapi ada fakta lain bahwa 70 persen ekspor Iran ditujukan pada Cina. Artinya ada kekuatan Cina untuk memengaruhi Iran,” tandasnya.

Poin pentingnya, ungkap Riyan, hubungan Cina dengan Amerika sebenarnya hanya refleksi kepentingan pragmatis kedua belah pihak.

“Bukan hanya dukungan politik tapi juga memasok persenjataan,” ucapnya.

Jadi, sambung Riyan, diplomasi Trump ke Cina tidak untuk kepentingan umat Islam.

“Mereka berjuang untuk kepentingan masing-masing. Ingat bahwa Amerika ideologis kapitalis, meskipun Cina sistemnya komunis tapi juga mendukung kapitalisme,” kritiknya.

Dalam kesempatan tersebut, Riyan menyampaikan pembelajaran dari diplomasi ‘bebek lumpuh’ yaitu ketika negara itu dalam keadaan lemah. Seorang pemimpin harus berusaha mendapatkan apa yang dibutuhkan dengan cara yang sifatnya diplomatik.[] Novita Ratnasari

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *