Farid Wadjdi: “Kesepakatan AS-Iran Tak Ubah Dominasi Amerika”

 Farid Wadjdi: “Kesepakatan AS-Iran Tak Ubah Dominasi Amerika”

MediaUmat Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan di Swiss dinilai tidak akan membawa perubahan signifikan dalam menghilangkan dominasi Washington di Timur Tengah.

“Meskipun ada kesepakatan antara Amerika dan Iran, ini tidaklah berarti membawa perubahan yang signifikan di Timur Tengah, apalagi sampai kita simpulkan hilangnya dominasi Amerika,” ujar Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi dalam diskusi daring Membongkar Isu (Mbois) di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Selasa (16/6/2026).

Menurut Farid, pilar-pilar hegemoni AS di kawasan tersebut saat ini masih sangat kokoh. Washington tercatat masih mempertahankan sekitar 19 pangkalan militer yang tersebar di berbagai negara Arab, diperkuat oleh hingga 50.000 personel militer, serta didukung oleh sikap tunduk sebagian penguasa lokal dan kendali atas sumber energi.

Oleh karena itu, berkaitan dengan isu kemerdekaan Palestina, Farid menilai ketangguhan militer Iran belakangan ini belum memberikan dampak strategis bagi dunia Islam karena sifatnya yang baru sebatas serangan balasan.

“Kalau serangan untuk membebaskan Palestina itu targetnya harus dengan kekuatan penuh untuk menghabisi kekuatan militer entitas Zionis. Tapi tampaknya Iran tidak melakukan itu,” jelasnya.

Akar Masalah  

Lebih lanjut, Farid menganalisis, kesepakatan damai maupun gencatan senjata yang terjadi saat ini tidak akan melahirkan perdamaian sejati karena tidak menyentuh akar masalah, yaitu penjajahan Barat dan eksistensi Israel.

“Tidak ada perdamaian kalau penjajahan masih eksis,” tegasnya.

Sebagai langkah strategis, ia mengingatkan umat Islam agar tidak menggantungkan harapan pembebasan kepada negara yang bergerak dalam kerangka nation-state (negara bangsa) karena pergerakan mereka dibatasi oleh kepentingan nasional. Ia menyerukan pentingnya membangun kekuatan politik global yang mampu mengimbangi kekuatan imperium modern.

“Yang harus dibangun oleh umat Islam ke depan itu adalah negara global yang kalaupun tidak sampai pada tingkat mengalahkan Amerika, paling tidak mengimbangi Amerika, sehingga Amerika tidak berbuat seenaknya terhadap kaum muslimin,” harap Farid.

Untuk itu ia menegaskan keberadaan institusi global—dalam hal ini sistem Khilafah—sangat mendesak agar umat Islam memiliki posisi tawar seimbang dan mampu mengintegrasikan seluruh potensi strategisnya.

“Aspirasi umat Islam untuk memperjuangkan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah ini sangat penting karena inilah yang nanti akan menyatukan seluruh potensi umat Islam,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *