MoU Iran-AS Bukan untuk Perdamaian Abadi?
MediaUmat – Menanggapi kembali pecahnya perang antara Iran versus Amerika Serikat dan Israel pasca ditandatanganinya MoU perdamaian antara Iran dan AS, Pengamat Politik Internasional Pizaro Gozali Idrus, Ph.D. menyatakan MoU tersebut sangat rapuh dan dibuat bukan untuk perdamaian abadi.
“MOU ini sangat rapuh dan menurut saya. Ini terbukti pada delapan hari terakhir di mana eskalasi serangan itu kembali meningkat. Saya kira MOU antara Amerika dan Iran ini kan lebih upaya antara kedua pihak untuk mencapai gejatan senjata sementara, bukan bertujuan untuk benar-benar mereka masuk kepada perdamaian abadi,” ujarnya dalam Live Fokus: Perang Iran-Amis Kembali Pecah, Kenapa? di kanal YouTube UIY Official, Ahad (19/7/2026).
Menurut Pizaro, poin-poin kesepakatan antara AS dan Iran dalam MoU itu memang akan sangat sulit diterapkan sebab ini hanya pada tataran kesepahaman di antara Iran dan AS, sedangkan detail dan teknisnya belum benar-benar berlangsung.
Pizaro mencontohkan, di pasal kelima MoU yang diteken di Swiss tersebut masih bisa ditafsirkan sendiri-sendiri oleh kedua belah pihak. Bagi Iran bahwa pasal kelima kesepatan MoU itu memberikan wewenang dan otoritas bagi Iran untuk mengendalikan Selat Hormuz. Namun menurut AS, dalam pasal kelima tersebut Iran tidak punya kendali penuh pada Selat Hormuz, tetapi Iran hanya mengatur lalu lintasnya saja.
“Jadi ini yang membuat kenapa ini kembali perang karena Iran merasa itu dikhianati, ditipu,” bebernya.
Pizaro melihat, dalam sejarah politik luar negeri AS, setiap mediasi gencatan senjata yang AS terlibat di dalamnya dalam konteks Timur Tengah itu tidak pernah benar-benar menciptakan perdamaian.
Ia mencontohkan perjanjian Oslo di eranya Presiden Clinton yang menengahi perjanjian antara PLO dengan Israel. Saat itu seolah-olah Palestina mendapatkan angin perdamaian, kebebasan, tapi nyatanya tetap dijajah juga sampai sekarang. Bahkan setelah perjanjian Oslo, aneksasi wilayah Palestina oleh Israel di Tepi Barat itu sangat gila-gilaan.
Bahkan, lanjutnya, dua praktisi Perjanjian Oslo yakni Husin Aga dan Robert Male dalam bukunya Yesterday is Tomorrow mengatakan, perjanjian Oslo itu gagal memberikan perdamaian bagi Palestina karena AS tidak pernah benar-benar serius memberikan sanksi kepada Israel.
Kemudian, jelas Pizaro, di era Donald Trump yang menginisiasi perjanjian Abraham Accord yakni mendorong negara-negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel demi perdamaian Timur Tengah dan perdamaian bagi Palestina.
Sehingga, lanjutnya, banyak negara-negara Arab berbondong-bondong menormalisasi hubungan dengan Israel, di antaranya Uni Emirat Arab, Maroko, Bahrain, Sudan dan lainnya. Tapi dua tahun setelah perjanjian Abraham Accord tersebut malah terjadi genosida Gaza. Bahkan satu tahun setelah Abraham Accord itu Masjid al-Aqsha kembali diserang oleh Israel.
“Menurut saya dunia Islam pada hari ini harus punya prinsip yang sama. Mereka sudah banyak dikecewakan sama Amerika Serikat,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat