Meneladani Khalifah Abu Bakar: Menjaga Akidah dan Melindungi Umat
MediaUmat – Pemimpin kaum Muslim saat ini dinilai harus belajar dari gaya kepemimpinan Abu Bakar ash-Shiddiq terutamanya dalam Peristiwa Yamamah (12 H/632 M) bahwa negara memiliki kewajiban fundamental untuk menjaga akidah dan melindungi umat dari berbagai ancaman dan penyimpangan, terutama dalam situasi yang sangat menekan atau krisis.
“Dari Yamamah ini kita belajar negara wajib menjaga akidah,” ujar Pimpinan Maslahah Foundation Ponsen Sindu Prawito dalam Kisah Khilafah#3: Abu Bakar Perangi Musailamah al-Kadzdzab, Kamis (19/2/2026) di kanal YouTube Rayah TV.
Menurutnya, ketegasan tersebut terbukti menjaga stabilitas ideologi Islam, terutama dalam menumpas nabi palsu dan gerakan murtad.
Artinya, betapa fitnah besar kala itu berkaitan dengan kekuasaan dan harta cenderung muncul tatkala ilmu tak disandingkan dengan keimanan. Begitu juga fanatisme suku ataupun kelompok, yang menurut Ponsen, bisa mengalahkan logika.
Adalah Musailamah al-Kadzab (si Pendusta) berasal dari Bani Hanifah di Yamamah yang mengaku sebagai nabi pada masa Rasulullah SAW hingga masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Dikenal sebagai penipu lihai, ia sempat mencoba membuat ayat-ayat tandingan Al-Qur’an dan bersekutu dengan jin untuk menarik pengikut.
Ponsen mengungkapkan, akibat ajaran sesat Musailamah yang membolehkan zina dan khamar, akhirnya menjadi ancaman serius bagi stabilitas Islam. Meski memicu Perang Yamamah, tetapi nabi palsu tersebut berhasil ditumpas oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Khalid bin Walid.
Tegasnya, untuk menjaga keutuhan ajaran Islam dan stabilitas negara, serta mencegah perpecahan umat, penguasa harus mampu menjaga akidah dan melindungi umat walaupun Nabi SAW telah tiada. “Pertanyaannya, kita berada di barisan siapa? Barisan para penghafal Al-Qur’an yang menghiasi iman dengan amal atau barisan yang tertipu oleh kata-kata indah?” pungkas Ponsen.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat