MIQ: Kepemimpinan Abu Bakar Jauh dari Kemewahan
MediaUmat – Ketua Majelis Inspiring Qur’an (MIQ) Eri Taufiq mengungkapkan, gaya kepemimpinan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq dalam mengelola negara bukanlah berlandaskan kemewahan.
“Bukan dengan kemewahan kekuasaan,” ujarnya dalam Kisah Khilafah#2: Khalifah Abu Bakar dalam Memimpin Negara, Kamis (19/2/2026) di kanal YouTube Rayah TV.
Menurutnya, kepemimpinan Abu Bakar (632-634 M) yang tercatat dalam sejarah Islam sebagai era emas, justru menonjolkan kesederhanaan ekstrem, kejujuran absolut, dan rasa takut yang mendalam kepada Allah SWT.
Taufiq pun memaparkan setidaknya tiga pilar kepemimpinan Abu Bakar sehingga diterima dan didukung oleh para sahabat utama kala itu. Pertama, amanah dalam harta negara. Sebagai pemimpin negara, Abu Bakar menunjukkan integritas tinggi dengan memosisikan harta negara (Baitul Mal) sebagai amanah yang harus dikelola demi kemaslahatan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan.
Lugasnya, kehidupan sehari-hari Khalifah Abu Bakar sesungguhnya sangatlah sederhana dan tidak tergoda oleh kekuasaan atau harta duniawi. Sikap ini juga dibuktikan dengan ketegasan beliau mengelola harta zakat dan hanya mengambil gaji seperlunya dari kas negara, meniru kesederhanaan Rasulullah SAW.
“Ketika tunjangannya dianggap cukup besar—300 dinar dan seekor kambing per hari—beliau hanya mengambil sekadar kebutuhan sederhana,” ungkap Taufiq, menyoroti prinsip bahwa harta negara bukan milik penguasa. Sikap ini sangat kontras dengan konsep kekaisaran saat itu yang berprinsip ‘negara adalah aku dan aku adalah negara’.
Kedua, keadilan hukum dalam hal ini penegakan hukum tanpa pandang bulu. Abu Bakar memegang teguh prinsip bahwa keadilan adalah hak fundamental bagi semua warga negara. Dalam sistem peradilan dan pemerintahannya, terungkap penegakan hukum dilakukan secara adil dan setara, tidak memandang bulu, serta menempatkan kedudukan yang sama di hadapan hukum.
Berdasarkan pemahaman kontekstual yang humanis, Taufiq memisalkan keputusan hukum Khalifah Abu Bakar yang menunjukkan bahwa keadilan Islam mengutamakan kemaslahatan dan perlindungan hak individu di atas tekstual mutlak. Di antaranya membatasi nafkah orang tua hanya sebatas kebutuhan wajar, membebaskan pelaku pembelaan diri dari qisas, melindungi korban zina paksaan, serta memprioritaskan hak asuh anak kepada ibu demi kebutuhan kasih sayang.
Ketiga, tawadhu dalam kepemimpinan. Meski memegang kekuasaan sentral, Abu Bakar memimpin dengan penuh tawadhu (rendah hati), ketulusan, dan tanggung jawabnya yang luar biasa terhadap rakyat kecil.
Abu Bakar tidak memerintah sebagai seorang raja yang diktator, melainkan sebagai pemimpin yang melayani umat. Kerendahan hati ini membuatnya dekat dengan rakyat dan mampu merangkul kembali suku-suku Arab yang sempat goyah setelah wafatnya Rasulullah SAW.
“Setelah jadi khalifah, beliau tetap melakukannya (memerah susu untuk tetangganya). Beliau berkata, ‘Aku berharap kedudukanku tidak mengubah kebiasaanku’,” ungkap Taufiq.
Demikian kepemimpinan Abu Bakar tidak hanya fokus mengelola negara, tetapi juga mengelola diri sendiri, penuh rasa takut kepada Allah SWT, dan transparan kepada rakyat. “Beliau melayani sebelum memerintah. Maka wajar, meski singkat, masa pemerintahannya menjadi fondasi kokoh bagi peradaban Islam,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat