Darah Rakyat Yaman Sebagai Bahan Bakar untuk Perebutan Pengaruh
Pada 20 Oktober 2026, Reuters melaporkan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan rudal yang menargetkan kamp pelatihan Al-Alam–dikenal juga sebagai Pusat Pelatihan Syahid Ahmad al-Sulaimani—untuk pasukan pemerintah di Provinsi Shabwa telah meningkat menjadi 73 orang, dengan 14 orang masih hilang dan lebih dari 200 orang terluka. Laporan menunjukkan bahwa serangan itu dilakukan dengan tiga rudal balistik selama pelatihan rekrutan baru, di tengah meningkatnya bentrokan antara Houthi dan pasukan yang setia kepada pemerintah Yaman (reuters.com, 20/10/2026).
Di tengah perang yang sia-sia ini, yang telah menyebabkan begitu banyak pertumpahan darah, di kamp Al-Alam di Kegubernuran Shabwa, pasukan pemerintah Yaman, di bawah pengawasan perwira Saudi, terus memobilisasi pemuda untuk perekrutan dan pelatihan di kamp-kamp yang kekurangan perlindungan paling mendasar, seolah-olah nyawa para pemuda ini tidak ada harganya di mata mereka!
Dalam tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip hukum Islam, kelompok Houthi melancarkan serangan terang-terangan dengan tiga rudal balistik, mengakibatkan kematian dan luka-luka, seolah-olah para pemuda ini bukan Muslim! Tragisnya, mereka yang merekrut dan membawa mereka ke kamp-kamp ini hanya melihat mereka sebagai angka dan bahan bakar untuk perang ini!
Oleh karena itu, pembantaian ini tidak boleh dibaca hanya sebagai peristiwa yang berlalu begitu saja dalam rangkaian peristiwa perang di Yaman, melainkan sebagai bukti tragedi yang dialami rakyat Yaman ketika tanah mereka berubah menjadi arena konflik antara kekuatan internasional yang berebut pengaruh dan kepentingan, serta menguras darah putra-putra mereka dalam pertempuran di mana mereka sama sekali tidak memiliki kepentingan.
Pihak-pihak yang bertikai di Yaman hanya melihat pertumpahan darah ini sebagai bahan bakar untuk mencapai kepentingan mereka dan untuk melayani penjajah kafir. Allah SWT berfirman:
﴿وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُّتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً﴾
“Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya adalah (neraka) Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan baginya azab yang sangat besar.” (TQS. An-Nisa [4] : 93).
Rasulullah SAW bersabda:
«لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ»
“Sungguh, hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah dibandingkan dengan terbunuhnya seorang Muslim.” (HR. Tirmidzi dan an-Nasa’i).
Dalam Islam, pertumpahan darah bukanlah sekadar statistik yang ditambahkan ke catatan pertempuran, dan tidak dapat digunakan sebagai alat balas dendam atau tekanan politik. Kejahatan semacam itu bertentangan dengan larangan Islam terhadap kesucian kehidupan, dan tidak ada afiliasi politik atau slogan agama yang dapat membenarkannya.
Wahai kaum Muslim di Yaman: Darah putra-putra kalian bukanlah sesuatu yang murah, masa depan generasi kalian bukanlah arena untuk menyelesaikan dendam, dan martabat bangsa kalian tidak boleh dijadikan sandera kepentingan orang lain. Telah tiba waktunya bagi kalian untuk memahami hakikat sebenarnya dari konflik ini sebagai dasar pendirian kalian, dan bagi kalian untuk memprioritaskan penerapan hukum Islam di atas perebutan kekuasaan dan proyek-proyek penundukan.
Melindungi nyawa dan mengurus urusan rakyat tidak dicapai melalui slogan-slogan, melainkan melalui aturan yang menjadikan Islam sebagai dasar pemerintahan dan politik. Inilah yang selama ini diserukan Hizbut Tahrir dengan mendirikan Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah. [] Dr. Fuad al-Shabri – Wilayah Yaman
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 25/10/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat