Hanya Khilafah yang Dapat Menghentikan Kegilaan Amerika di Dunia
Setelah Amerika menipu mereka serta bertindak arogan dan sombong terhadap negeri-negeri mereka, menyerangnya bersama dengan protege (anak didik) kesayangannya, entitas Yahudi, mereka berupaya untuk menghancurkan umat dan menghilangkan fondasi kekuatannya, apakah para pemimpin rezim Iran sekarang masih ingat bahwa mereka memiliki umat, yang jumlahnya memenuhi arena global? Bagaimana para pemimpin Iran hari ini mengingatkan umat Islam bahwa sikap sebagian pemerintah mereka bertentangan dengan sabda Nabi Muhammad SAW.:
«مَنْ سَمِعَ رَجُلاً يُنَادِي يَا لَلْمُسْلِمِينَ فَلَمْ يُجِبْهُ فَلَيْسَ بِمُسْلِمٍ»
“Barangsiapa mendengar seseorang berseru, ‘Wahai kaum Muslim!’ dan tidak menjawabnya, maka ia bukanlah seorang Muslim?”
Di manakah para pemimpin Iran ketika kaum Muslim di seluruh negeri Islam menyerukan pertolongan kepada mereka, untuk melawan agresi penjajah kafir dan tirani penguasa mereka? Bukankah para pemimpin Iran justru yang tanpa malu-malu menyatakan bahwa tanpa rezim mereka, Amerika tidak akan mampu menduduki Irak dan Afghanistan, karena hal itu sesuai dengan kepentingan Amerika, dan memungkinkan Amerika untuk naik tahta tatanan internasional, tanpa lagi menghadapi pesaing nyata yang dapat mengekang ambisinya?
Terlepas dari kebenaran yang mencolok ini, mengapa rezim-rezim Sunni ini secara khusus menargetkan rezim Syiah Iran, padahal mereka semua telah mengalihkan perhatian umat Islam dari kejahatan Amerika dan sekutunya di Eropa, serta entitas Yahudi di negeri-negeri Islam, dengan berfokus pada kejahatan rezim Iran di Suriah dan Irak, misalnya, atau kejahatan rezim Saudi di Yaman, dan rezim Emirat di Sudan juga? Jika rezim Iran, yang telah mengaitkan kepentingan regionalnya dengan melayani kebijakan Amerika di kawasan itu, telah terlambat menyadari tipu daya Amerika dan kurangnya komitmennya, lalu mengapa mereka mengkritik rezim yang terseret ke dalam perang melawannya? Rezim-rezim ini semuanya membangun kebijakan mereka dengan menjadi anjing pemburu Amerika, setelah semuanya dimasukkan dalam agenda perpecahan, pelucutan senjata, pelemahan, dan kemudian kendali penuh atas semua sumber daya mereka. Setelah proses perencanaan dan pelaksanaan yang panjang, di mana Amerika menjatuhkan Uni Soviet setelah Perang Dingin yang mengakhiri pengaruh Inggris dan Eropa di sebagian besar negeri-negeri Islam, Amerika tidak lagi memandang keberadaan negara yang mengorbit dalam lingkup pengaruhnya, dan yang merupakan lengan panjangnya dalam melaksanakan rencananya di Irak, Afghanistan, Suriah, Yaman, dan Lebanon, sebagai sesuatu selain penghalang untuk mencapai tujuannya. Oleh karena itu, Amerika tidak ragu untuk menyatakan perang terhadap Iran dan mengajak rezim-rezim yang lemah kemauan di kawasan itu untuk bergabung dalam perang ini, untuk menundukkan seluruh kawasan tersebut sesuai kehendaknya.
Namun, perubahan pendekatan Amerika ini bukan semata-mata disebabkan oleh hambatan eksternal, tetapi juga oleh kelemahan yang dirasakan dari fondasi politik dan intelektualnya dalam sistem kapitalis dan struktur kekuasaan yang telah dibangunnya setelah Perang Dunia II. Amerika tidak lagi mampu memproyeksikan pengaruhnya secara global melalui tatanan global ini. Akibatnya, Amerika bertindak dengan arogansi yang belum pernah terjadi sebelumnya, menghancurkan banyak perjanjian dan aliansi yang telah dibentuknya, dan kini memandangnya sebagai kendala dan beban yang menghambat strategi masa depannya. Hal ini disambut dengan perlawanan dari kekuatan-kekuatan besar seperti China, Rusia, dan beberapa negara Eropa, yang menolak untuk tunduk pada tindakan Amerika, dan mengadopsi kebijakan yang lebih mirip dengan menahan perilaku Amerika yang tidak menentu, sambil menghindari konfrontasi langsung. Namun, faktor mendasar dalam runtuhnya tatanan internasional dan terlepasnya cengkeraman Amerika terletak pada terungkapnya sifat sebenarnya dari gagasan pemisahan agama dari kehidupan, yaitu sekularisme. Gagasan ini telah runtuh dalam nilai-nilai dan moralnya, mengungkapkan ketidakmampuannya yang melekat untuk memenuhi harapan manusia atau menawarkan solusi yang selaras dengan sifat manusia. Peradaban ini telah merajalela, menghancurkan umat manusia, sehingga menegaskan ketidakmungkinan kebangkitannya kembali atau kapasitas Barat secara umum untuk berinovasi dan beradaptasi guna memperbaiki arahnya.
Menurut pendapat banyak pemikir dan politisi Barat, terdapat peringatan lama mengenai kemunculan kembali negara Islam, beserta prediksi dominasinya atas Eropa dan dunia. Diantaranya adalah pemikir Jerman, Paul August Schmitz, yang menulis dengan nama samaran Paul Schmitz-Kairo. Ia menyatakan dalam bukunya, “All-Islam! Weltmacht von Morgen, Islam yang Agung! Kekuatan Global Masa Depan (1937)”: “Islam saja yang punya kemampuan untuk mengisi kekosongan yang terjadi dan mengambil peran utama dalam membimbing umat manusia keluar dari kemerosotan ini, kemampuan yang berasal dari sifat dasarnya sebagai ideologi yang bersumber dari Dzat Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Ideologi Islam, mengingat kenyataan bahwa kehidupan membenci kekosongan, akan menjadi satu-satunya alternatif yang dinantikan dunia ini. Dunia sedang bersiap untuk menyingkirkan bahaya yang mengancam bukan hanya kaum Muslim, tetapi juga pertanda buruk bagi seluruh umat manusia, jika Amerika kembali menegaskan dominasi globalnya. Apalagi ilusi kekuasaan absolut Amerika, dan ketidakmampuannya untuk mencapai tujuan-tujuannya serta tujuan-tujuan protege (anak didik)-nya, entitas Yahudi, di Iran, hingga pada titik di mana mereka sekarang mencari jalan keluar dan mencari seseorang untuk menyelamatkannya dalam perang ini, desakan untuk mempertahankan rezim sekuler, baik republik maupun monarki, tidak akan membawa umat ini keluar dari penghinaannya, juga tidak akan memungkinkannya untuk menang atas pemimpin kekafiran, Amerika. Kemenangannya bergantung pada Khilafah, yang bukan sekadar entitas politik baru, tetapi proyek alternatif peradaban, yaitu Islam dalam negara yang berideologi, Khilafah ‘ala minhājin nubuwah. Memerintah menurut hukum Allah bukanlah pilihan politik, melainkan kewajiban agama, dan itu adalah satu-satunya sistem pemerintahan yang akan ditolong oleh Allah Yang Maha Kuasa.
Semua ini mulai menunjukkan tanda-tanda setelah kaum Muslim kembali menyadari kekuatan mereka sendiri dan kelemahan musuh-musuh mereka. Tidak ada yang tersisa bagi mereka selain memutus rantai yang mengikat mereka, dan rintangan yang menghalangi mereka, yang tercermian pada perbatasan nasionalistik dan para penguasa yang menjaganya, sehingga pintu dapat terbuka bagi proyek besar Islam, yang akan mengarahkan kembali dunia dan memperbaiki jalannya sejarah. Untuk tujuan ini, muncullah mereka yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, mereka menyadari realitas tren politik regional dan internasional, dan mereka berupaya untuk melakukan perubahan.
Bagaimana mungkin keinginan para tiran dapat menahan ideologi yang menjadi landasan persatuan umat Islam, yaitu umat yang meyakini bahwa umat manusia membutuhkan Khilafah sebagaimana kehidupan membutuhkan air, dan umat yang meyakini bahwa kemenangan dari Allah, Dzat Yang Mahakuasa lagi Maha Perkasa? Allah SWT. Berfirman:
﴿وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ﴾
“Dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya secara ghaib. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (TQS. Al-Hadid [57] : 25). [] Ustadz Abdul Raouf Al-Amiri
Sumber: alraiah.net, 1/4/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediauma