Epstein Files: Kejahatan Kemanusiaan dan Tanggung Jawab Umat Islam

 Epstein Files: Kejahatan Kemanusiaan dan Tanggung Jawab Umat Islam

Skandal Epstein dan kasus serupa bukanlah sekadar pelanggaran moral individual, juga bukan insiden yang terisolasi dalam sejarah kejahatan global. Namun ini adalah pengungkapan yang jelas tentang sifat sistem peradaban yang mengatur dunia saat ini; sebuah sistem yang telah memisahkan nilai-nilai dari politik, mengubah manusia menjadi komoditas, dan kemudian menunjuk dirinya sendiri sebagai pelindung kemanusiaan atas nama kebebasan dan hak asasi manusia!

Nama-nama yang terungkap hari ini dalam berkas-berkas perdagangan manusia, eksploitasi anak di bawah umur, dan pembangunan jaringan pengaruh kotor, adalah nama-nama yang sama yang merumuskan standar internasional, memberikan sertifikat legitimasi, dan mendistribusikan sertifikat moralitas kepada seluruh penduduk bumi! Sungguh sebuah paradoks!

Para penjahat menyuarakan moralitas, memimpin dunia, dan menjadikan dirinya sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan! Lebih buruk lagi—dan inilah inti permasalahannya—bahwa sistem yang sama ini menempatkan para penguasa umat Islam, mensponsori rezim-rezimnya, melindungi takhta-takhta mereka, dan kemudian mereka menuntut kebisuan dan kepatuhan dari rakyat atas nama stabilitas dan realisme politik.

﴿وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾

Dan demikianlah, Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berteman dengan sesamanya,sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (TQS. Al-An’ām [6] : 129).

Pertanyaan sebenarnya bukanlah bagaimana skandal mereka terungkap? Tetapi bagaimana mereka dibiarkan memimpin dunia sejak awal? Dan bagaimana kita, sebagai kaum Muslim, menerima bahwa urusan kita dikelola oleh tangan-tangan yang sama yang memperdagangkan manusia, menghancurkan nilai-nilai, menghasilkan kemerosotan moral, dan kemudian memasarkannya sebagai model peradaban?!

Apa yang diungkapkan oleh Epstein Files bukanlah cacat moral dalam sebuah sistem sempurna, melainkan konsekuensi alami dari sistem kapitalis sekuler yang memisahkan politik dari nilai-nilai, memisahkan kekuasaan dari pertanggungjawaban, dan menempatkan manfaat (kepuasan syahwat) di atas kemanusiaan. Oleh karena itu, mereduksi masalah ini menjadi pengadilan tebang pilih atau kecaman media musiman tidak mengubah kenyataan, karena kejahatan itu bersifat sistemik, bukan individual. Rasulullah saw bersabda:

«إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»

Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari).

Ini adalah sistem yang telah melucuti politik dari rasa malu, jadi wajar jika sistem itu juga melucuti kemanusiaan dari rasa welas asihnya.

Krisis ini bukan terletak pada kurangnya sumber daya, bukan pula pada kurangnya kompetensi, atau pada kekurangan bimbingan moral, melainkan pada ketiadaan proyek politik ideologis yang mengembalikan Islam ke tempatnya yang semestinya, bukan hanya sebagai agama ritual semata, atau sebagai wacana moral yang terisolasi, tetapi sebagai kepemimpinan peradaban dan saksi bagi kemanusiaan.

﴿وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ﴾

Dan demikianlah, Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berteman dengan sesamanya,sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.” (TQS. Al-Baqarah [2] : 143).

Diam bukanlah netralitas, adaptasi bukanlah kebijaksanaan, dan kepatuhan pada sistem yang korup bukanlah realisme. Dunia tidak menunggu kecaman, tetapi alternatif; dunia tidak menunggu pernyataan kecaman atau kampanye kemarahan yang singkat, tetapi alternatif yang beradab, program politik, dan kepemimpinan intelektual dan politik yang akan menyelamatkan umat manusia dari sistem yang korup dan dari penguasa yang dibentuk untuk sesuai dengan cetakannya.

Apakah sudah saatnya umat ini menyadari bahwa mereka yang skandalnya diungkap oleh media hari ini adalah orang-orang yang sama yang memerintah kita kemarin dan memerintah kita hari ini? Apakah sudah saatnya untuk merebut kembali pesan tersebut bukan dengan meratapi skandal, tetapi dengan membongkar seluruh sistemnya?  [] Ali Al-Tahami

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 14/2/2026.

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *