Al-Qaeda Kembali Menjadi Sorotan, Siapa yang Berada di Balik Layar, dan Siapa yang Diuntungkan dari Menghidupkan Kembali Momok Terorisme?
Al-Qaeda menyerukan jihad melawan pasukan Amerika dan Yahudi, serta menargetkan kapal induk Amerika Serikat (AS) yang tiba di kawasan dalam beberapa pekan terakhir. Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Selasa, 3 Februari, Al-Qaeda menegaskan bahwa kedatangan pasukan AS di Timur Tengah adalah “bagian dari proyek Zionis-Salibis melawan Islam dan negeri-negeri Muslim,” maka Al-Qaeda menyerukan “jihad melawan mereka, memerangi mereka, dan menargetkan mereka sebelum mereka menginjakkan kakinya di tanah Islam.” (skynewsarabia.com, 4/2/2026).
**** **** ****
Siapa pun yang mengikuti perkembangan politik dan militer di kawasan itu selama dua tahun terakhir, terutama sejak agresi biadab yang dilancarkan oleh entitas Yahudi terhadap Gaza, maka ia akan menemukan sebuah paradoks yang mencolok: bahwa selama ini Al-Qaeda hampir sepenuhnya membisu dalam menghadapi salah satu kejahatan massal paling keji di era modern, sehingga berlawanan dengan kemunculannya kembali yang tiba-tiba dengan pidato yang meningkatkan ketegangan dan mengancam Amerika Serikat dengan menenggelamkan kapal induknya, pada saat yang sangat sensitif menjelang kemungkinan peningkatan ketegangan Amerika melawan Iran.
Paradoks ini memunculkan pertanyaan mendasar: Apa yang telah berubah? Mengapa sekarang? Dan siapa yang diuntungkan dari menghidupkan kembali wacana ini?
Ketika semua benang dirangkai, maka gambaran menjadi jelas:
Al-Qaeda adalah alat media komersial, yang akan diaktifkan kembali bila diperlukan.
Amerika Serikat mengeksploitasi keberadaan ancaman terorisme untuk membenarkan ekspansi dan tekanannya.
Entitas ilegal Yahudi adalah penerima manfaat terbesar dari setiap perang yang melemahkan Iran atau menguras sumber daya di kawasan tersebut.
Umat Islam adalah pihak yang selalu kalah, menderita pertumpahan darah, perpecahan, dan citra yang terdistorsi, karena ketiadaan entitas dan otoritas politiknya. Rasulullah saw bersabda:
«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ«
“Sungguh Imam (Khalifah) itu perisai, yang bersamanya rakyat berperang dan dengannya mereka berlindung.” (HR. Bukhari Muslim).
Wahai kaum Muslim: Islam tidak bersalah atas kekacauan ini, tidak bersalah atas terorisme fungsional, dan tidak bersalah atas darah yang ditumpahkan untuk melayani proyek-proyek kekafiran dan kolonialisme. Syariah, akal sehat, dan kenyataan telah menunjukkan bahwa masalah-masalah sosial, politik, ekonomi, dan akidah umat ini tidak dapat diselesaikan oleh organisasi-organisasi imitasi yang menyusup, oleh reaksi-reaksi yang sia-sia, atau oleh rezim-rezim fungsional.
Solusi yang syar’i dan mendasar adalah mendirikan entitas bagi seluruh kaum Muslim yang memerintah berdasarkan hukum Allah, menerapkan apa yang telah Allah wahyukan dalam pemerintahan, politik, ekonomi, dan hubungan internasional, serta membebaskan pengambilan keputusan umat dari dominasi asing, juga mengarahkan kekuasaan untuk kembali melayani Islam, bukan untuk mendistorsi citranya. Allah SWT berfirman:
﴿وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ﴾
“Siapa yang tidak memutuskan (suatu urusan) menurut ketentuan yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (TQS. Al-Māidah [5] : 44).
Inilah satu-satunya jalan menuju keselamatan, tidak ada yang lain. [] Baha’ Al-Husaini – Wilayah Irak
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 16/2/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat