Dari Siapakah Diminta Nushrah?
Soal :
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu.
Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada Anda dan membimbing Anda …
Pertanyaan saya kepada Amir jika berkenan, mengenai upaya dalam mencapai nuhsrah (pertolongan):
Apakah pemaparan Islam sebagai proyek peradaban hanya terbatas pada pusat-pusat kekuatan di negeri-negeri Muslim saja? Atau apakah hal itu juga dilakukan di negeri-negeri kafir, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw.?
Akan sangat baik jika jawaban syaikhuna atas pertanyaan ini mencakup dasarnya secara fikih.
Akan lebih baik lagi jika Anda mempublikasikan jawaban tersebut untuk masyarakat umum, karena masalah ini berkaitan dengan pemahaman kita tentang manhaj Rasulullah saw.
Puteramu dan saudaramu Abu Muhammad Zaid
[Ammar Samman]
Jawab:
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.
Kami telah menjawab semisal pertanyaan ini dalam lebih dari satu jawab soal … Dan saya kutipkan untuk Anda apa yang punya hubungan dengan pertanyaan Anda dari jawaban kami pada 24/6/2021:
[Soal: Syaikhuna, saya punya pertanyaan jika Anda berkenan. Sudah maklum bahwa Nabi saw meminta pertolongan dari kabilah-kabilah. Tetapi apakah Quraisy termasuk dalam kabilah yang darinya Nabi saw meminta pertolongan? Dan semoga Allah memberi Anda balasan yang lebih baik.
Jawab: Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.
Thalab an-nushrah (meminta pertolongan) terjadi dari orang yang menjawab seruan Islam dan masuk Islam … Dan dari pemilik kekuasaan dan kekuatan yang mana memungkinkannya menolong Islam dan menegakkan pemerintahan yang berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan … Dua syarat ini wajib terpenuhi pada orang yang darinya diminta pertolongan … Jika ia tidak menjawab seruan untuk Islam dan masuk Islam, atau tidak termasuk orang yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang mampu melakukan perubahan, sendirian dan kabilahnya atau bersama yang lainnya, maka dia tidak termasuk ahlu an-nushrah … Dan Quraisy, hal itu tidak terpenuhi padanya sebelum Fathu Makah. Pemilik kekuasaan dan kekuatan di Quraisy yang mampu melakukan perubahan belum masuk Islam ketika itu, dan karenanya Rasul saw tidak meminta pertolongan dari mereka. Tetapi, Beliau menyerukan Islam di Mekah dan yang masuk Islam adalah orang-orang lemah dan sebagian orang kuat secara individual tanpa kabilah mereka, jadi mereka tidak mampu merealisasi perubahan seperti Umar dan Hamzah… Oleh karena itu, di situ tidak ada thalab an-nushrah dari penduduk Mekah dikarenakan tidak terpenuhinya dua syarat tersebut. Sebaliknya yang ada di Mekah adalah dakwah untuk Islam dan di sana tidak ada sambutan untuk Islam dari pemilik kekuatan dan kekuasaan di Mekah yang mampu merealisasi perubahan. Dan berikutnya di situ tidak ada thalab an-nushrah di Mekah, sebaliknya Mekah ditaklukkan.
Oleh karena itu, Rasulullah saw menawarkan dirinya kepada kabilah-kabilah yang memiliki kekuatan dan kekuasaan. Pertama-tama, Beliau menyeru mereka kepada Islam kemudian meminta pertolongan mereka jika mereka masuk Islam … Berikut sebagian yang ada di sirah tentang hal itu:
Pertama: dari Sîrah Ibnu Hisyâm:
- Thalab an-nushrah dari Tsaqif: [… Ibnu Ishaq berkata: “Yazid bin Ziyad menceritakan kepadaku, dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurzhiy, ia berkata: “tatkala Rasulullah saw berhenti ke Thaif, Beliau menyengaja menemui sekelompok orang dari Tsaqif. Mereka ketika itu adalah para pemuka dan pemimpin Tsaqif … Rasulullah saw duduk bersama mereka dan menyeru mereka kepada Allah serta berbicara kepada mereka tentang apa yang telah beliau bawa kepada mereka untuk beliau berupa menolong beliau atas Islam…]. Jawaban mereka buruk dan mereka tidak menyambut … Maka Rasulullah saw berdiri pergi dari mereka dan beliau telah putus asa dari kebaikan Tsaqif.
- Rasul saw menawarkan dirinya kepada Bani ‘Amir: [Ibnu Ishaq berkata: “dan az-Zuhri telah menceritakan kepadaku bahwa beliau (Nabi saw) mendatangi Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah. Beliau menyeru mereka kepada Allah azza wa jalla dan menawarkan diri beliau kepada mereka. Salah seorang laki-laki dari mereka berkata: “bagaimana pendapatmu jika kami membaiatmu atas urusanmu kemudian Allah memenangkanmu terhadap orang yang menyelisihimu, apakah perkara (kekuasaan) itu milik kami setelahmu?” Beliau menjawab: «الْأَمْرُ إِلَى اللَّهِ يَضَعُهُ حَيْثُ يَشَاءُ» -Perkara (kekuasaan) itu kepada Allah, Dia meletakkannya sesuai kehendak-Nya-“. Laki-laki itu berkata kepada beliau: “Apakah engkau mengarahkan leher-leher kami untuk orang Arab demi dirimu dan jika Allah memenangkanmu, perkara (kekuasaan) untuk selain kami, kami tidak punya keperluan dengan urusanmu”, dan mereka menolak beliau…].
Kedua: dari Tafsîr Ibni Katsîr:
[Ia (Ali) berkata: “Kemudian kami berhenti ke majelis yang tenang dan bermartabat, yang mana para tetua mereka berkedudukan tinggi dan berwibawa. Abu Bakar melangkah maju dan menyapa (mengucapkan salam kepada) mereka -Ali berkata: Abu Bakar selalu berada di depan dalam semua kebaikan- dan bertanya kepada mereka: “dari kaum siapakah kalian?” Mereka menjawab: “Kami dari Bani Syayban ibn Tsa’labah”. Kemudian Abu Bakar menoleh kepada Rasulullah saw dan berkata: “Demi bapak dan ibuku sebagai tebusanmu! Tidak ada seorang pun setelah mereka yang lebih mulia di antara kaum mereka…”. Mafruq kemudian berkata: “Apa yang engkau serukan, wahai saudara Quraisy?” Kemudian ia menoleh kepada Rasulullah saw dan beliau duduk dan Abu Bakar berdiri menaungi beliau dengan pakaiannya. Beliau saw bersabda:
«أَدْعُوكُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ، وَأَنْ تُؤْوُنِي، وَتَمْنَعُونِي، وَتَنْصُرُونِي حَتَّى أُؤَدِّيَ عَنِ اللَّهِ الَّذِي أَمَرَنِي بِهِ، فَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ تَظَاهَرَتْ عَلَى أَمْرِ اللَّهِ وَكَذَّبَتْ رَسُولَهُ، وَاسْتَغْنَتْ بِالْبَاطِلِ عَنِ الْحَقِّ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ»
“Aku menyeru kelian kepada persaksian bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah saja tidak ada sekutu untuk-Nya dan bahwa aku rasulullah dan agar kalian mendukungku, melindungiku dan menolongku sehingga aku bisa menunaikan dari Allah apa yang telah Dia perintahkan kepadaku. Sebab Quraisy telah menentang perintah Allah dan mendustakan rasul-Nya serta mencukupkan diri dengan kebatilan dari kebenaran. Dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.
Maka al-Mutsanna berkata: “Aku telah mendengar ucapanmu dan aku menilai baik ucapanmu wahai saudara Quraisy, dan apa yang kamu katakan membuatku takjub. Dan jawabannya adalah jawaban Hani` bin Qabishah: “(jika) kami meninggalkan agama kami dan kami mengikutimu karena pertemuan yang kamu adakan dengan kami, dan kami tidak lain hanya menetap di antara dua aliran, salah satunya adalah al-Yamamah, dan yang lainnya adalah as-Samawah.
Rasulullah saw berkata kepadanya: «وَمَا هَذَانِ الصَّرَيَانِ» -Apa dua aliran ini-?
Ia berkata kepada beliau: “Yang satu adalah dataran Arab dan tanah orang Arab, dan yang lainnya adalah tanah Persia dan sungai-sungai Kisra. Kami telah menetap di sini dengan syarat perjanjian yang dibuat Kisra terhadap kami, bahwa kami tidak akan menimbulkan masalah, dan kami juga tidak akan melindungi pembuat masalah. Mungkin perkara ini yang kamu seru kami kepadanya termasuk perkara yang dibenci oleh para raja. Adapun yang mengikuti negeri orang Arab, maka dosa pelakunya diampuni dan alasannya diterima. Tetapi yang mengikuti negeri Persia, maka dosa pelakunya tidak diampuni dan alasannya tidak diterima. Jika kamu ingin kami mendukung dan melindungimu dari apa yang mengikuti orang Arab, kami akan melakukannya”.
Maka Rasulullah saw bersabda:
«مَا أَسَأْتُمُ الرَّدَّ إِذْ أَفْصَحْتُمْ بِالصِّدْقِ، إِنَّهُ لَا يَقُومُ بِدِينِ اللَّهِ إلَّا مَنْ حَاطَهُ مِنْ جَمِيعِ جَوَانِبِهِ»
“Kalian tidak menjawab dengan buruk sebab kalian mengatakan dengan jujur. Sesungguhnya, tidaklah menegakkan agama Allah kecuali orang yang melingkupinya dari segala sisinya”.
24/6/2021], selesai.
Ketiga: Sebagaimana yang Anda lihat, Rasul saw menyeru mereka untuk Islam dan menolong beliau. Yakni menyeru mereka untuk masuk Islam sebelum meminta pertolongan mereka. Dan jika mereka masuk Islam dan menyambut (menjawab) dengan jujur dan ikhlas untuk memberikan pertolongan dan mereka merupakan pemilik kekuatan yang mampu menegakkan hukum Islam di negeri mereka … Ketika itu beliau meminta pertolongan mereka. Adapun jika mereka mensyaratkan agar pemerintahan setelah Rasul saw untuk mereka atau agar mereka berjihad bersama beliau melawan kaum tertentu tanpa kaum yang lainnya maka beliau tidak menerima dari mereka. Dan jika mereka menjawab dengan jujur dan ikhlas sebagaimana kami katakan barusan, maka beliau meminta pertolongan mereka. Oleh karena itu, ketika Baiat al-‘Aqabah, kaum Anshar bertanya kepada beliau: “apa untuk kami jika kami menolong Anda?” Beliau bersabda: “surga”. Mereka berkata: “Ini karunia agung dari Allah” dan mereka tidak mensyaratkan syarat-syarat duniawi untuk mereka.
Dinyatakan di Sîrah Ibni Hisyâm (1/446) – bab ucapan al-Abbas bin Ubadah di suku Khazraj sebelum baiat:
[Ibnu Ishaq berkata: “Dan ‘Ashim bin Umar bin Qatadah telah menceritakan kepadaku: bahwa kaum tersebut ketika berkumpul untuk membaiat Rasulullah saw, al-‘Abbas bin Ubadah bin Nadhlah al-Anshari, saudara Banu Salim bin ‘Awf berkata: “Wahai orang-orang Khazraj, apakah kalian paham, atas apa kalian membaiat laki-laki ini?” Mereka berkata: “ya”. Ia berkata: “Sesungguhnya kalian membaiatnya atas perang terhadap manusia berkulit putih dan hitam. Jika kalian memandang bahwa kalian, jika mushibah menghabiskan harta kalian dan para pemuka kalian terbunuh, kalian menyerahkan beliau maka sejak sekarang saja, sebab demi Allah jika kalian melakukannya, itu merupakan kehinaan dunia dan akhirat. Dan jika kalian berpandangan bahwa kalian memenuhi untuk beliau, apa yang ia seru kalian untuknya dengan mengorbankan kekayaan kalian dan nyawa para pemimpin kalian, maka terimalah dia, karena demi Allah, itu adalah kebaikan dunia dan akhirat”. Mereka berkata: “Kami akan menerimanya bahkan dengan mengorbankan kekayaan kami dan nyawa para pemimpin kami. Lalu apa untuk kami dengan hal itu ya Rasulullah jika kami memenuhi hal itu?” Beliau menjawab: “Surga”. Mereka berkata: “ulurkan tangan Anda”. Maka beliau mengulurkan tangannya dan mereka membaiat beliau”..].
Ringkasnya: thalab an-nushrah terjadi dari orang yang menjawab seruan untuk Islam dan masuk Islam … dan dari para pemilik kekuatan dan kekuasaan yang mana memungkinkannya menolong Islam dan menegakkan pemerintahan yang menghukumi dengan apa yang telah Allah turunkan di negerinya, dia sendirian atau bersama yang lain. Dua syarat ini wajib terpenuhi pada orang yang darinya diminta pertolongan … Jika ia tidak menjawab seruan untuk Islam dan masuk Islam atau tidak termasuk pemilik kekuatan dan kekuasaan yang mampu merealisasi perubahan, dia sendirian dan kabilahnya atau bersama selain dia, maka dia tidak termasuk ahlu an-nushrah …
Saya berharap di dalam jawaban ini ada kecukupan. Wallâh a’lam wa ahkam], selesai].
Saudaramu Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah
9 Syawal 1447 H
27 Maret 2026 M
https://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/108674.html
https://web.facebook.com/AtaAboAlrashtah/posts/122129297067129051%D8%9F_rdc=10&_rdr
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat