UIY: Seorang Muslim Harusnya Tidak Sekuler
MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan seorang Muslim seharusnya tidak mungkin sekuler.
“Kita sebagai seorang Muslim itu seharusnya tidak mungkin sekuler,” tuturnya dalam unggahan video bertajuk Islam dan Politik, Selasa (12/5/2026) di kanal YoTube UIY Official.
Karena, jelasnya, sekularisme itu sangat dipengaruhi oleh sejarah gelap Eropa dalam hubungan dengan agama Nasrani.
Menurutnya, faktor yang mempengaruhi adalah otentitas Bibel.
“Problem ini, otentitas problem itu otentitas Bibel itu sesuatu yang sangat krusial buat mereka di kalangan mereka. Majalah Time itu pernah menurunkan satu artikel berjudul How True Is the Bible? Katanya tahun 74 itu ada 50.000 kesalahan di sana dan itu artikel tidak ada yang menyanggahnya sampai ini hari,” ulasnya.
Namun yang paling dahsyat, menurut UIY, yang paling kontroversial adalah terbitnya buku The Five Gospels.
“Ini buku boleh disebut sebagai hasil semacam workshop dari 76 ahli teologi Kristen. Yang mencermati seperti judul dari buku itu What Did Jesus Really Say? Kemudian mereka memilah Injil itu menjadi empat, lalu dikasih warna. Ada yang merah itu betul-betul perkataan Yesus. Kemudian ada yang pink, ada yang abu-abu, ada yang hitam gitu. Nah, ternyata yang hitam itu jumlahnya 82% yang bukan perkataan nabi — yang palsu. Bahkan Injil Yohanes itu hitam semua. Ini buku sudah lama terbit tahun 94 tapi tidak boleh beredar di sini. Di Indonesia bisa didapatkan di internet,” ungkapnya.
Artinya, papar UIY, yang merupakan perkataan Yesus itu hanya 18 persen, itu pun terbagi karena ada yang pink dan abu-abu.
“Pink dan abu-abu yang dikatakan di sana mungkin perkataan Yesus,” ujarnya.
Selanjutnya, imbuhnya, otentitas ini menimbulkan masalah.
“Pertama pada aspek teologi. Teologi trinitas itu baru lahir 300 tahun setelah Yesus meninggal. 325 M di Konsili Nicia yang itu kalau dalam bahasa Thomas Aquenas seorang teolog Kristen itu ‘It is in no way possible to prove by reason’. Jadi agak sulit untuk menjelaskan soal ini satu tiga tapi tiga satu itu secara rasional,” bebernya.
Kemudian yang kedua adalah hubungan dengan sains teknologi.
“Di dalam Mazmur pasal 93 itu disebutkan bahwa ‘The world is established; it shall never be moved’. Jadi dia tidak bergerak, dia diam. Itulah yang kemudian menjadi dasar keyakinan bahwa bumi inilah sebagai sentrum dari peredaran planet-planet geosentris itu yang dibantah oleh Copernicus dan Galileo. Satu abad kemudian melalui pengamatan dan kemudian menghasilkan keyakinan bahwa bukan sentris tapi heliosentris. tapi kan kemudian ini tak terselesaikan,” tandasnya.
Ketiga adalah faktor trauma rezim agama.
“Trauma rezim agama di mana ketika Konstantin itu mengadopsi agama kemudian menganggap bahwa dia itu adalah a divine ruler. Nah, jadilah banyak sekali massacre, banyak sekali tragedi. Yang paling dahsyat saya kira St. Bartholomew’s Massacre tahun 1527 itu 10.000 orang Kristen Protestan dibantai oleh Katolik di Paris berminggu-minggu di sana banjir darah,” ungkapnya.
Berdasarkan tiga otentitas tersebut, ia mengutip simpulan para cendekiawan Eropa saat itu, agama harus dipisahkan dari aturan kehidupan.
“Kalau begitu nih agama ini dipisahkan. Ada dua ekstrem, ada yang tetap memakai, ada yang tetap mau meninggalkan. Nah, kemudian dibuatlah jalan tengah, okelah agama tetap ada tapi di sana. Kemudian kehidupan di sini tidak pakai agama. Itulah sekularisme,” tutupnya.[] Novita Ratnasari
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat