UIY: Penerapan Syariat Islam Tidak Menyingkirkan Kelompok Non-Muslim

MediaUmat Menjawab kekhawatiran bahwa Islam dianggap sebagai faktor pemecah belah bangsa, Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, penerapan syariat Islam dalam kehidupan bernegara tidak akan menyingkirkan kelompok non-Muslim.

“Ketika kita menggunakan Islam, itu tidak berarti menyingkirkan yang lain,” ujarnya dalam Focus to The Point: Kenapa Kita Wajib Bela Palestina? di kanal YouTube UIY Official, Kamis (2/4/2026).

Menurut UIY, argumen bahwa Islam itu eksklusif dan bakal menjadikan non-Muslim sebagai warga negara kelas dua, merupakan kekeliruan berpikir yang sering dimanfaatkan untuk memojokkan Islam.

Di dalam sistem Islam, jelasnya, prinsip kesetaraan di hadapan hukum (equality before the law), misalnya, berjalan secara nyata bagi seluruh warga negara.

“Ketika bicara tentang Islam, bukan sekadar membahas soal orangnya, tetapi sistem syariatnya,” terangnya.

UIY menambahkan, masyarakat tidak mungkin hidup tanpa hukum sehingga pilihannya hanya dua, hukum Islam atau hukum selain Islam (sekuler-kapitalis).

Ia menegaskan, syariat Islam sejatinya adalah rahmatan lil alamin yang ditujukan untuk kemaslahatan seluruh manusia, bukan hanya pemeluk agama Islam.

Bahaya Tribalisme dan Asabiah

 

Masih dalam kesempatan yang sama, UIY memberikan peringatan keras mengenai bahaya paham tribalisme dan asabiah (fanatisme golongan) yang dinilai dapat memecah belah persatuan umat Islam serta bangsa.

Bahkan munculnya pertanyaan mengenai alasan membela Palestina, menurutnya, sering kali didasari oleh logika nasionalisme sempit atau tribalisme. Logika ini memandang bahwa bantuan hanya layak diberikan jika ada jasa timbal balik.

UIY menegaskan bahwa pola pikir selfish atau egois tersebut tidak memiliki tempat dalam ajaran Islam yang mengedepankan persaudaraan universal.

“Islam mengenalkan persaudaraan yang diikat oleh akidah. Nabi menggambarkan umat Islam bagaikan satu tubuh, kal jasadil wahid. Jika satu bagian sakit, bagian lain merasakannya,” ujar UIY.

Ia menjelaskan bahwa tribalisme dan nasionalisme sempit adalah penyakit yang tidak akan pernah berhenti pada satu titik. Jika dibiarkan, paham ini akan terus mengecil hingga ke level daerah, tetangga, bahkan antar anggota keluarga.

“Kalau kita ikuti tribalisme itu, ia akan memecah belah negeri ini dan enggak akan pernah habis. Dari antar pulau, nanti berlanjut antar provinsi, hingga ke tetangga. ‘Ngapain bantu tetangga, dia tidak berjasa sama kita’. Ini level yang sudah tidak masuk akal lagi,” jelasnya.

Kritik Kapitalisme dan Sekularisme

UIY membandingkan hal tersebut dengan sistem kapitalisme yang saat ini dominan. Menurutnya, logika kapitalisme justru lebih diskriminatif karena hukum cenderung hanya memihak pemilik modal.

Ia menyinggung aksi global ‘Occupy Wall Street’ sebagai bukti nyata masyarakat Barat mulai menyuarakan bahwa kapitalisme tidak lagi berfungsi bagi 99% populasi.

Lebih lanjut, UIY menyoroti bahwa paham asabiah ini merupakan alat yang digunakan pihak luar untuk memecah belah kekuatan dunia Islam. Dengan membangkitkan insting tribalisme, umat Islam menjadi terkotak-kotak dalam negara bangsa (nation-state) sehingga lebih mudah untuk dikuasai satu per satu.

Ia mengingatkan kembali peristiwa Haji Wada’, saat Nabi Muhammad SAW secara tegas menghapus segala bentuk tribalisme dan menegaskan bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, kecuali karena takwanya.

“Hanya Islam yang bisa melawan dan menghilangkan animal instinct atau tribalisme itu. Namun sebaliknya, ketika pemahaman Islam kendor, maka asabiah ini akan dibangkitkan lagi oleh mereka yang tidak menginginkan Islam kuat,” tambahnya.

Terakhir, ia pun menekankan, kecintaan terhadap negeri tidak seharusnya ditunjukkan dengan slogan semata, melainkan dengan upaya menyelamatkan bangsa dari sistem sekuler-kapitalis yang merusak.

Dalam hal ini, menjadikan Islam sebagai solusi merupakan bentuk kecintaan tertinggi untuk membawa negeri ke arah yang lebih baik dan bersatu dalam cakupan yang lebih luas. “Solusinya kembali kepada alternatif pengganti kapitalisme. Itulah Islam,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: