Tidak Ada yang Menjaga, Masalah Palestina Terus Berulang

MediaUmat Direktur Pamong Institut Wahyudi al-Maroky menyatakan, pembantaian terhadap warga Palestina terus berulang oleh entitas penjajah Zionis Yahudi lantaran tidak adanya pihak yang melindunginya.

“Jadi kalau kita lihat, memang karena enggak ada yang melindungi Palestina,” ujarnya dalam siniar Dakwah Tangsel (PDKT), Senin (8/3/2025) di kanal YouTube Dakwah Tangsel.

Beda cerita ketika Palestina masih dijaga Khilafah Utsmani. Kalau dalam buku catatan sejarah, sebut Wahyudi, Theodor Herzl, ideolog Zionisme, ketika ingin meminta tanah Palestina, datanglah kepada Khalifah Sultan Abdul Hamid II.

“Kenapa dia datang situ minta? Karena dia tahu Palestina itu ada yang menjaga. Dia enggak bisa masuk sembarangan. Nah, kenapa dia sekarang bisa masuk sembarang ke tanah Palestina? Karena enggak ada yang menjaga,” bebernya.

Jelaslah, sebut Wahyudi, yang sebenarnya menjaga adalah khalifah yang sampai hari ini tidak ada.

“Hari ini banyak presiden. Tapi tadi dia tidak berperan sebagai pelindung umat. Bahkan mungkin ikut-ikut menjajah atau ikut-ikut menindas umat. Nah, itu yang kita bisa melihat hari ini,” bebernya.

Ia menegaskan, pasca-Khilafah Utsmani runtuh, tidak ada pemimpin yang mau melindungi Palestina. “Kita berharap kepada Presiden Trump? Minta ampun. Dia aja penjahat seperti itu!” cetusnya.

Menurutnya, Presiden Donald Trump baru saja menculik Presiden Maduro, dan tangannya masih berlumaran darah dengan banyak korban karena kebijakannya.

“Tapi kita percaya dia mau bicara perdamaian. Itu sama dengan percaya 19 juta lapangan kerja yang dijanjikan Gibran. Kira-kira begitulah,” bebernya.

Dipikirkan

Harusnya yang dipikirkan umat Islam hari ini adalah mencari pemimpin yang bisa melindungi Palestina. “Minimal seperti Umar bin Khaththab atau Sultan Shalahuddin al-Alyyubi,” bebernya.

Karena, jelasnya, kewajiban penguasa atau pemimpin sangat besar. Memiliki kekuasaan dan harus mampu menghentikan kebiadaban atau kezaliman yang ada di muka bumi.

“Kalau di Palestina harusnya dia melakukan pengiriman pasukan, menghentikan itu dan mengusir. Bukan mengirim pasukan untuk berdamai di sana. Harus diusir. Yang namanya penjajah atau perampas harus ditegakkan aturan hukum yang bukan miliknya, diusir keluar,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: