UIY: Pelecehan Al-Qur’an Akibat Agama Hanya Dijadikan Urusan Pribadi Saja

MediaUmat- Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, pelecehan terhadap Al-Qur’an yang terjadi dalam acara festival musik The Sounds Project di Ancol berupa tantangan atau challenge hafalan surah adh-Dhuha berhadiah minuman keras (miras) di sebuah booth merek miras Newport akibat agama diposisikan hanya sebagai urusan pribadi.

“Inilah masalah ketika agama diposisikan hanya sebagai urusan pribadi,” ujarnya dalam video short YouTube yang diterima media-umat.com, Senin (24/8/2026).

UIY menegaskan, wajar kalau umat Islam marah karena Al-Qur’an bukanlah bahan permainan apalagi disandingkan dengan minuman yang jelas sekali di dalamnya itu keras diperangi.

Ia mempertanyakan, siapa sebenarnya yang harus di kritik. Apakah hanya orang yang membuat challenge tersebut atau yang melakukannya, atau jangan-jangan ada sesuatu yang lebih besar daripada itu yakni sistem kehidupan yang membuat hal seperti itu bisa dianggap wajar.

UIY membeberkan, dalam sistem kehidupan saat ini Islam hanya boleh diyakini di masjid, boleh dibaca di rumah dan boleh dihafalkan. Tapi ketika masuk ke ruang publik, ekonomi, budaya, hiburan, dan budaya, maka Islam tidak boleh lagi diterapkan, Islam tak boleh terlalu banyak bicara.

Akibatnya kata UIY, sesuatu yang bagi seorang Muslim itu diyakini sangat sakral bisa diperlakukan sebegitu rupa seperti sekedar gimik promosi, yakni Ayat Al-Qur’an dipertemukan dengan alkohol. Kesucian dipertemukan dengan komersialisasi. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah kaum Muslim mulai terbiasa melihat keanehan itu, penyimpangan itu dan kekurangajaran itu.

Padahal kata UIY, Islam tak hanya mengatur bagaimana shalat, tetapi Islam juga mengatur semua perkara dalam kehidupan. Islam punya pandangan tentang budaya, pendidikan, hukum dan ekonomi. Islam adalah pandangan hidup dan bukan sebatas ritual pribadi.

“Maka jangan hanya bertanya siapa yang menghina Al-Qur’an. Tapi bertanyalah juga mengapa sebuah sistem memungkinkan penghinaan terhadap sesuatu yang diyakini suci oleh mayoritas Islam itu bisa terjadi,” ungkap UIY.

UIY memandang, kalau masalahnya hanya satu orang, maka akan mudah menghukumnya. Namun jika masalah itu adalah sistem nilai yang membuat agama terus didorong ke pinggir kehidupan, maka satu kasus selesai akan muncul kasus berikutnya.

“Karena itu, Saudara, hari ini mungkin Al-Qur’an dilecehkan, besok simbol Islam yang lain dan perlahan yang sakral dibuat sesuatu yang biasa. Jadi, pertanyaan pentingnya adalah apakah kita hanya ingin Al-Qur’an dihormati ketika dilecehkan atau kita ingin menjadikan Al-Qur’an betul-betul sebagai pedoman dalam kehidupan, diwujudkan dalam realitas kehidupan nyata menjadi aturan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” pungkasnya.[] Agung Sumartono

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: