Penciptaan Dengan Makna Pengadaan dari Ketiadaan

Soal:

Bismillâh ar-rahmân ar-rahîm.. Dengan salam Islam, saya mengucapkan salam kepada syaikh kami yang terhormat, Assalâmu ‘alaikum wa rahmatullâh wa barakâtuhu… Saya memohon kepada Allah agar melindungi dan mendukung Anda, agar memberikan kemenangan melalui kedua tangan Anda segera tanpa ditunda, dan agar mengembalikan kemuliaan, martabat, dan persatuan bangsa yang telah hilang selama seabad …

Syaikh kami yang terhormat, dalam buku “Hukum Kloning dalam Islam” karya Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullâh di halaman dua, dinyatakan: “Hukum-hukum yang tepat dan sistem yang sempurna mengharuskan keberadaan Sang Pengatur, Yang Mahakuasa lagi Yang Maha Bijaksana. Allah SWT berfirman:

﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (TQS al-Qamar [54]: 49).

Dan Allah SWT berfirman:

﴿وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً﴾

“Dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (TQS al-Furqan [25]: 2).

Artinya Dia menciptakan segala sesuatu dengan pertimbangan yang cermat tentang ukuran dan proporsi, dan mempersiapkannya untuk apa yang sesuai untuknya. Dengan demikian, itu adalah penciptaan dengan ukuran yang bijaksana, dan bukan penciptaan tanpa ukuran. Penciptaan ini adalah penciptaan dari ketiadaan, karena penciptaan adalah mengadakan sesuatu dari ketiadaan, dan bukan mengadakan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada, karena mengadakan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada bukanlah penciptaan.” Beliau rahimahullâh membatasi konsepsi penciptaan pada pengadaan sesuatu dari ketiadaan. Namun, dengan menelaah secara induktif banyak ayat dalam Kitab Allah SWT, seperti firman-Nya:

﴿خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ﴾

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (TQS al-‘Alaq [96]: 2).

dan firman-Nya:

﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah” (TQS al-Mu`minun [23]: 12).

Dan firman-Nya:

﴿خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ﴾

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar” (TQS ar-Rahman [55]: 14).

Dan firman-Nya:

﴿وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ﴾

“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api” (TQS ar-Rahman [55]: 15).

Dan ayat-ayat lain di mana Allah SWT di dalamnya menyebutkan penciptaan dari sesuatu yang sudah ada. Apakah penciptaan secara eksklusif berarti pengadaan sesuatu dari ketiadaan? Dan bagaimana konsepsi ini dapat diselaraskan dengan kandungan ayat-ayat yang menyebutkan penciptaan dari sesuatu yang sudah ada?

Mohon jelaskan deskripsi ini kepada saya, dan semoga Allah memberi Anda balasan dengan sebaik-baik balasan …

 [Mahmud Sunqroth]

 

Jawab:

Wa ‘alaikumussalâm wa rahmatullâh wa barakâtuhu. Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada Anda atas doa Anda yang tulus, dan kami mendoakan kebaikan untuk Anda.

  1. Kata “penciptaan” (اَلْخَلْقُ) memiliki banyak arti dalam bahasa Arab. Kata ini datang dengan makna pengadaan dari ketiadaan, kreasi sesuatu tanpa contoh sebelumnya, penentuan ukuran (اَلتَّقْدِيْرُ), atau pembuatan (اَلصَّنْعُ). Di dalam Lisân al-‘Arab, dinyatakan: “[(Khalaqa)… Dan di antara sifat-sifat Allah SWT adalah Sang Pencipta (اَلْخَالِقُ) dan Maha Pencipta (اَلْخَلَّاقُ)… Dan penciptaan dalam bahasa Arab berarti menciptakan sesuatu menurut contoh yang belum ada sebelumnya. Segala sesuatu diciptakan oleh Allah. Jadi Dia ciptakan tanpa contoh sebelumnya. Ketahuilah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

Abu Bakar ibn al-Anbari berkata: Penciptaan dalam bahasa Arab memiliki dua arti: yang pertama adalah penciptaan sesuatu menurut model yang Dia kreasikan, dan yang kedua adalah penentuan ukuran Allah menciptakan sesuatu, Dia menciptakannya, mengadakannya setelah sebelumnya tidak ada. Dan firman-Nya ‘azza wa jalla:

﴿ يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ﴾

“Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. (TQS az-Zumar [39]: 6).

Yakni Dia menciptakan kamu sebagai nuthfah, kemudian sebagai gumpalan darah, kemudian sebagai gumpalan daging, kemudian sebagai tulang, kemudian Dia melapisi tulang dengan daging, kemudian Dia membentuknya dan meniupkan ruh ke dalamnya. Itulah makna dari ﴿خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ﴾ ‘kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan”-; di dalam perut, rahim, dan plasenta. Dan juga dikatakan di dalam pinggang, rahim, dan perut… ] selesai kutipan.

Jadi penciptaan adalah: pengadaan segala sesuatu setelah sebelumnya tidak ada, (dan itu adalah): penetapan ukuran (اَلتَّقْدِيْرُ), dan itu adalah: penciptaan sesuatu menurut model yang belum ada sebelumnya

Yang menentukan makna yang diinginkan adalah konteks dan indikasi-indikasi.

  1. Konteks yang dinyatakan dalam buku tentang kloning adalah konteks penciptaan dengan makna pengadaan sesuatu dari ketiadaan. Beliau mengatakan:

[Kemajuan ilmiah yang luar biasa ini dan pemanfaatannya, yang dimungkinkan oleh teknologi yang sangat canggih, jika hal itu menunjukkan sesuatu tidak lain menunjukkan keagungan, kekuasaan, kebijaksanaan, dan kesempurnaan penciptaan Allah. Dan bahwa Dia adalah Pencipta dan Kreator makhluk-makhluk ini, dan bahwa mereka tidak diciptakan secara kebetulan. Sebab sistem yang tepat dan detil yang dijalani makhluk, hukum-hukum rumit yang mengatur dan mengendalikan makhluk, dan karakteristik-karakteristik yang disiapkan yang sesuai untuknya dan tujuan mereka diciptakan, semua itu menafikan anggapan bahwa mereka diciptakan secara kebetulan. Karena kebetulan tidak dapat mengadakan hukum yang begitu detil/tepat dan sistem yang begitu sempurna. Jadi, hukum yang begitu detil/tepat dan sistem yang sempurna tersebut menuntut keberadaan Sang Pengatur, Pencipta yang Mahakuasa, dan Maha bijaksana. Allah SWT berfirman:

﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (TQS al-Qamar [54]: 49).

Dan Dia, Yang Mahatinggi, berfirman:

﴿وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً﴾

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (25: 2).

Yakni, Dia menciptakan segala sesuatu dengan penciptaan yang di dalamnya memperhatikan penetapan ukuran dan proporsi, dan mempersiapkannya untuk apa yang sesuai untuknya. Dengan demikian, itu merupakan penciptaan dengan ukuran yang bijaksana, bukan penciptaan tanpa ukuran. Dan penciptaan ini adalah penciptaan dari ketiadaan, karena penciptaan adalah pengadaan sesuatu dari ketiadaan, bukan pengadaan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada, sebab pengadaan dari sesuatu yang sudah ada bukanlah penciptaan].

  1. Seluruh studi ini tentang penciptaan dalam arti pengadaan dari ketiadaan, karena beliau berbicara tentang hal-hal yang tidak ada secara kebetulan, melainkan sesuatu itu memiliki Pencipta yang menciptakannya, yaitu mengadakannya dari ketiadaan, dan membuat sistem yang tepat untuknya… Bahkan ayat-ayat yang digunakan sebagai dalil menunjukkan pengadaan (penciptaan) dari ketiadaan:

﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (TQS al-Qamar [54]: 49).

﴿وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً﴾

“Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (25: 2).

Jadi pembicaraan dalam ayat-ayat mulia itu adalah tentang segala sesuatu. Ayat-ayat tersebut mengatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Dan ini berarti bahwa tidak ada sesuatu pun kecuali itu diciptakan, yakni segala sesuatu itu belum ada lalu Allah menciptakannya, yakni Dia mengadakannya setelah sebelumnya tidak ada. Hal itu karena frasa (كُلَّ شَيْءٍ) mencakup segala sesuatu. Jadi pernyataan beliau tentang “kloning”: “Dan penciptaan ini adalah penciptaan dari ketiadaan, karena penciptaan adalah pengadaan dari ketiadaan, dan bukan pengadaan dari sesuatu yang sudah ada, karena pengadaan dari sesuatu yang sudah ada bukanlah penciptaan”, adalah pernyataan yang benar dan tepat pada tempatnya, terutama dalam konteks ini.

  1. Adapun ayat-ayat yang disebutkan dalam pertanyaan:

﴿خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ﴾

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (TQS al-‘Alaq [96]: 2).

﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah” (TQS al-Mu`minun [23]: 12).

﴿خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ﴾

“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar” (TQS ar-Rahman [55]: 14).

﴿وَخَلَقَ الْجَانَّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ﴾

“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api” (TQS ar-Rahman [55]: 15).

Ayat-ayat tersebut berbicara tentang tahapan penciptaan:

a- Misalnya, ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan Adam, as. mendeskripsikan tahapan penciptaannya. Ia diciptakan dari tanah, yang mana Allah SWT menjadikan tanah ini menjadi tanah liat, kemudian menjadi seperti lumpur hitam, kemudian menjadi tanah kering seperti tembikar, lalu Dia meniupkan ke dalamnya ruh-Nya. Dalam tafsir al-Qurthubiy disebutkan: “Firman-Nya SWT: خَلَقَ الْإِنْسَانَ -“Dia menciptakan manusia”-, tatkala Allah menyebutkan penciptaan alam semesta besar berupa langit dan bumi, dan apa yang ada di dalamnya berupa bukti-bukti atas keesaan dan kekuasaan-Nya, Allah menyebutkan penciptaan alam semesta kecil. Allah berfirman: خَلَقَ الْإِنْسَانَ –“Dia menciptakan manusia”-, menurut kesepakatan para ulama tafsir, yakni Adam.

﴿خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ﴾Dari tanah kering seperti tembikar -“, ash-shalshâl adalah tanah kering yang terdengar bunyi deringnya, diserupakan dengan tembikar yang dibakar. Dan dikatakan: Itu adalah tanah yang dicampur dengan pasir. Dan dikatakan: Itu adalah tanah liat yang busuk, dari صَلَّ اللَّحْمُ وَأَصَلَّ jika membusuk, dan telah disebutkan dalam (al-Hijr). Dan di sini Allah berfirman: ﴿مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ﴾ Dari tanah kering seperti tembikar-, dan di sana Allah berfirman: ﴿مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ﴾  –dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk– (TQS al-Hijr [15]: 28, 33 dan 36). Dan Allah berfirman: ﴿إِنَّا خَلَقْنَاهُم مِّن طِينٍ لَّازِبٍ﴾Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat– (TQS ash-Shafat [37]: 11). Dan Allah berfirman: ﴿كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ﴾seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah– (TQS Ali Imran [3]: 59). Ini maknanya sama. Hal itu karena Dia mengambil sebagian tanah bumi dan menguleninya hingga menjadi tanah liat (طِيْنٌ), kemudian tanah liat itu beralih (berubah) dan menjadi seperti lumpur hitam yang diberi bentuk (كَالْحَمَأِ الْمَسْنُوْنِ) kemudian berubah menjadi tanah kering seperti tembikar (صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ)].

Namun ini sama sekali tidak berarti bahwa tidak ada penciptaan dari ketiadaan. Lalu dari mana tanah yang darinya diciptakan Adam as.? Bukankah Allah SWT menciptakannya dari ketiadaan? Lalu bagaimana tanah itu menjadi daging dan darah? Bukankah ini pengadaan dari ketiadaan? Lalu dari mana datangnya kehidupan kepadanya setelah Allah SWT meniupkan ruh-Nya ke dalamnya? Bukankah ruh itu berasal dari ciptaan Allah?! Apa yang terdapat dalam ayat-ayat mulia yang berbicara tentang penciptaan Adam as. merupakan pendeskripsian untuk tahapan penciptaannya, dan dari ayat-ayat tersebut tidak dapat dipahami bahwa Adam tidak diciptakan dari ketiadaan.

  1. Demikian pula, ayat-ayat yang berbicara tentang penciptaan jin. Di dalamnya ada desprispi tentang tahapan penciptaan mereka. Bahwa mereka semua diciptakan dari api, kemudian Allah membuat mereka menjadi jin karena hikmah yang ada pada Allah SWT. Dinyatakan di dalam tafsir al-Qurthubi: [﴿وَخَلَقَ الْجَانَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ﴾dan Dia menciptakan jin dari nyala api” (TQS ar-Rahman [55]: 15). Al-Hasan berkata: Jin itu adalah Iblis, dan dia merupakan bapak dari para jin. Dikatakan juga: al-Jân bentuk tunggal dari al-jin. Dan al-mârij (nyala api) adalah nyala api neraka (al-lahabu), menurut Ibnu Abbas. Dan ia berkata: Allah menciptakan al-jân dari api murni. Dan diriwayatkan juga darinya bahwa jin diciptakan dari lidah api yang berada di ujungnya jika menyala. Al-Layts berkata: “Al-Mârij adalah nyala api yang terang dengan panas yang sangat tinggi…” Dan dari Ibnu Abbas bahwa itu adalah nyala api yang naik di atas api, dengan warna merah, kuning, dan hijaunya bercampur menjadi satu. Tafsir serupa berasal dari Mujahid, dan semuanya berdekatan maknanya… Al-Jawhari berkata di dalam ash-Shihâh fî al-Lughah: “Dan﴿مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ﴾ adalah api tanpa asap yang darinya jin diciptakan]. Jadi api yang darinya jin diciptakan, Allah SWT menciptakan dan mengadakannya setelah sebelumnya tidak ada. Kemudian darinya Allah menciptakan jin dan menyediakan sarana kehidupan baginya. Semua ini berasal dari perbuatan Allah SWT setelah jin tidak ada… Jadi fakta penciptaan jin yang memiliki beberapa tahapan tidak berarti bahwa Allah tidak mengadakannya dari ketiadaan…
  2. Bahkan firman Allah SWT:

﴿خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ﴾

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (TQS al-‘Alaq [96]: 2).

Ayat ini tidak menunjukkan bahwa Allah tidak mengadakan manusia dari ketiadaan. Gumpalan darah itu berasal dari sperma laki-laki dan sel telur perempuan, yang kemudian Allah mengubahnya menjadi daging dan tulang, kemudian ke dalamnya Dia meniupkan ruh… Semua ini berasal dari Allah SWT. Jadi Allah lah yang mengadakan semuanya itu menurut aturan yang tepat. Allah menciptakannya setelah sebelumnya tidak ada… Pada hakikatnya, itu adalah penciptaan dari ketiadaan… Apa yang disebutkan dalam ayat mulia ini ﴿خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ﴾ “Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah” (TQS al-‘Alaq [96]: 2) dan ayat-ayat serupa, merupakan deskripsi untuk tahapan penciptaannya, bukan asal-usul penciptaannya… bahkan ayat-ayat lain datang memberikan lebih banyak detil tentang tahapan penciptaannya, seperti firman Allah SWT:

﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ * ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ * ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَاماً فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْماً ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقاً آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ﴾

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (12) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). (13) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (TQS al-Mu`minun [23]: 12-14).

Jadi ASWT adalah Pencipta segala sesuatu dari awal hingga akhir. Dalam hal itu cukup dinyatakan oleh firman-Nya SWT:

﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran” (TQS al-Qamar [54]: 49).

Dan

﴿وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً﴾

“Dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (TQS al-Furqan [25]: 2).

Begitulah, jika kita meneliti ayat-ayat al-Quran yang berbicara tentang penciptaan makhluk oleh Allah, kita menemukan bahwa ayat-ayat tersebut mencakup pemikiran pengadaan dari ketiadaan. Dan ini merupakan asal penciptaan, dan asal dari ucapan kita bahwa Allah SWT adalah Sang Pencipta. Tidaklah bermasalah disebutkan di dalam nas-nas bahwa Allah menciptakan sesuatu dari sesuatu yang lain. Hal itu karena baik sesuatu yang pertama maupun yang kedua adalah ciptaan Allah:

﴿وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيراً﴾

“Dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (TQS al-Furqan [25]: 2).

Pada akhirnya, seluruh proses penciptaan hanya milik-Nya semata. Segala pujian hanya milik Allah, Rabb semesta alam.

Saya harap di dalam jawaban ini ada kecukupan, wallâh a’lam wa ahkam.

Sebagai penutup, saya sampaikan salam kepada Anda dan saya mendoakan kebaikan untuk Anda.

 

Saudaramu Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah

 

24 Rabi’ al-Awwal 1448 H

06 September 2026

 

Sumber: hizb-ut-tahrir.info

FB: AtaAboAlrashtah

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: