Tulisan Kritik yang Kuat Bertujuan Membuka Pemahaman Pembaca

Mediaumat – Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) menilai sasaran utama kritik dalam opini Islam ideologis bukan untuk menyudutkan, tetapi membawa pembaca memahami letak persoalan beserta alasan mendasar di baliknya.

“Kritik yang kuat bukan sekadar membuat sasaran kritik tersudut, melainkan membuat pembaca memahami letak persoalan dan alasan mengapa persoalan itu harus dikritisi,” tulisnya dalam serial edukasi Belajar Menulis Opini Islam Ideologis: Fondasi 1 — Seri 2 yang diterima media-umat.com, Ahad (18/10/2026).

Pernyataan ini menguraikan karakter kedua penulisan opini dakwah, yakni tajam dan argumentatif, melanjutkan seri sebelumnya yang menekankan Islam sebagai landasan utama. Dengan kata lain, menurut Om Joy, ketajaman tulisan bukan diukur dari kecaman atau bahasa keras, melainkan dari kemampuan mengungkap kelemahan pemikiran dan menguji prinsip.

Poin Utama

Untuk memperjelas penerapannya, Om Joy memaparkan lima poin utama. Pertama, bahasa keras belum tentu tajam. “Sering kali, bahasa yang keras hanya mencerminkan amarah atau kekesalan, bukan kekuatan argumen,” tegasnya. Kritik tajam mengungkap kelemahan pemikiran, seperti menyoroti bagaimana sekularisme membatasi ekspresi kerudung di sekolah negeri Azerbaijan.

Kedua, penulis harus menguji pemikiran, bukan menyerang individu. Semisal dalam ulasan “Bukan Soal Rocky Masuk Istana”, persoalannya bukan tentang sosok Rocky atau manuver politiknya, melainkan standar hukum Allah yang dipakai menilai kekuasaan. “Kritik yang kuat menguji pemikiran dan standar penilaian, bukan sekadar menyerang individu,” jelasnya.

Ketiga, tunjukkan kontradiksi secara jelas. Hal ini tampak lewat pertanyaan retoris atas klaim kebebasan sekularisme yang berbenturan dengan pembatasan kerudung di sekolah negeri Azerbaijan, “Lho, bukankah sekularisme menjanjikan kebebasan?” Melalui kasus ini, penulis diajak membeberkan ketidaksesuaian antara prinsip yang diklaim dan fakta praktik di lapangan.

Keempat, penggunaan dalil harus didudukkan secara relevan. Om Joy mencontohkan penggunaan kutipan Al-Qur’an surah al-An’am ayat 57 untuk menegaskan bahwa standar tertinggi dalam menilai kekuasaan adalah hukum Allah.

Terkait hal ini, ia berpesan, “Jangan hanya mengutip dalil. Jelaskan relevansinya dan bagaimana dalil tersebut mendukung kesimpulan.”

Kelima, lakukan uji mandiri sebelum menerbitkan tulisan untuk memastikan sasaran kritik tepat dan sudut pandang Islamnya relevan. “Tulisan tajam tidak harus selalu menggunakan kalimat keras. Kalimat yang tenang pun dapat menghunjam jika mampu menunjukkan kelemahan suatu pemikiran secara jelas dan meyakinkan,” pungkasnya.[] Zainul Krian

 

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: