Riyan: Pengalihan ke MOAB Bukti Keterbatasan Militer dan Paniknya AS

MediaUmat – Pengalihan ancaman serangan dari senjata nuklir ke bom konvensional MOAB oleh Amerika Serikat ke Iran dinilai bukan bentuk kemurahan hati, melainkan bukti keterbatasan militer sekaligus paniknya imperialisme Barat yang berupaya menggertak dunia Islam.

“Pernyataan Trump itu sekadar tekanan politik. MOAB belum tentu cocok menghancurkan fasilitas jauh di bawah gunung karena kemampuan AS menembus ruang bawah tanah sangat terbatas,” ujar Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI), Dr. Riyan, M.Ag., kepada media-umat.com, Senin (19/10/2026).

Penilaian ini menanggapi ketegangan baru setelah Presiden AS Donald Trump memastikan tak akan menggunakan senjata nuklir, melainkan mempertimbangkan Massive Ordnance Air Blast (MOAB) untuk menggempur fasilitas nuklir Iran di Gunung Pickaxe dekat Natanz.

Alasan AS menghindari opsi nuklir didasari klaim Trump bahwa militer AS tak perlu senjata pemusnah massal untuk menghadapi Iran. Langkah ini juga untuk menghindari kecaman internasional dan risiko fallout radiasi, sehingga Washington mempropagandakan MOAB sebagai “bom konvensional raksasa” demi menghindari risiko politik.

Namun, Riyan kembali menegaskan gertakan Washington tersebut sekadar taktik diplomasi untuk memaksa Iran menerima tuntutan AS, sementara efektivitas serangan militernya sangat meragukan serta berisiko memperluas eskalasi kawasan.

Akar Masalah dan Solusi Hakiki Perang Iran

Menurutnya, gertakan militer yang kerap dilancarkan Washington sejatinya juga tidak lepas dari pemicu utama konflik di kawasan. “Kalau bicara akar masalah dalam perang Iran, sudah sangat jelas bahwa keserakahan dan arogansi AS biang masalahnya,” tegasnya.

Parahnya, arogansi Barat tersebut terus melenggang karena respons dunia Islam belum bersatu akibat sekat geopolitik pascakolonial.

“Dunia Islam saat ini terpecah belah. Mereka terbelenggu jebakan nasionalisme yang diinjeksikan penjajah bahkan setelah mengeklaim kemerdekaan, sehingga orientasi kepentingan nasional dan perhitungan kekuasaan mengalahkan solidaritas,” paparnya.

Sebab itu, ia mendesak umat Islam agar segera menyatukan sikap politiknya. “Maka dunia Islam harus menyatukan visi dan pandangan, memosisikan musuh sebagai musuh (AS dan entitas Yahudi Zionis – kafir harbi fi’lan), serta memosisikan saudara sebagai saudara,” kata Riyan lebih lanjut.

Kendati demikian, tegasnya, solusi Islam baru berdampak nyata secara sistemik jika diwujudkan melalui transformasi kepemimpinan global, yakni dengan mencampakkan sekat-sekat pascakolonial dan mengangkat satu pemimpin bersama—sebagaimana ditegaskan dalam fikih dan turats (warisan keilmuan Islam) para ulama sebagai Khalifah dalam bingkai Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.

Dalam konteks inilah, ia menyerukan pengerahan seluruh potensi gerakan umat demi terwujudnya perubahan tatanan dunia yang adil.

“Saat ini semua elemen umat Islam harus memfokuskan agenda perjuangan kepada diangkatnya pemimpin global umat Islam, yang akan menerapkan Islam secara kaffah dalam bingkai Khilafah, mengemban dakwah dan jihad ke seluruh dunia, menyatukan dunia Islam, serta menghilangkan kezaliman penguasa kafir seperti Trump dan membangun tata dunia baru yang adil, makmur, dan berkah,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: