Tragedi Flotilla: Bukti Lemahnya Keberpihakan Politik Dunia Islam terhadap Palestina
MediaUmat – Tragedi pencegatan kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla serta penahanan para relawannya selama empat hari oleh militer Zionis dinilai bukan sekadar kasus kriminal biasa, melainkan cermin telanjang dari lemahnya keberpihakan politik dunia Islam terhadap Palestina di tengah sikap para penguasa Muslim yang juga dipandang makin dekat dengan Barat.
“Tragedi Flotilla ini sesungguhnya bukan hanya memperlihatkan kebrutalan entitas penjajah Zionis Yahudi, tetapi juga memperlihatkan lemahnya keberpihakan politik dunia Islam terhadap Palestina,” ujar Jurnalis Joko Prasetyo kepada media-umat.com, Kamis (21/5/2026).
Om Joy, sapaan akrab Joko Prasetyo, mencontohkan sikap pemerintah Indonesia yang meski telah mengecam keras tindakan tersebut, tetapi respons yang diberikan masih terjebak dalam batas retorika diplomatik.
Kebijakan retoris tersebut, menurut Om Joy, membuat pihak Zionis berani melakukan tindakan ilegal di laut internasional karena menyadari nyaris tidak ada konsekuensi politik yang nyata dari dunia internasional.
Ia menilai negara-negara Muslim kerap menerapkan pola lama, yakni berpidato keras di depan publik namun bersikap lunak dalam tindakan politik konkret.
Om Joy juga mengkritik keterlibatan para penguasa Muslim dalam berbagai forum “perdamaian global” seperti Board of Peace (BoP), dialog lintas agama, dan kampanye moderasi internasional. Forum-forum tersebut dinilai gagal menghadirkan perlindungan konkret bagi rakyat di Gaza.
“Mereka berbicara tentang toleransi global, tetapi Gaza tetap dihujani rudal. Forum-forum perdamaian berubah menjadi panggung pencitraan moral. Banyak bicara kemanusiaan, tetapi bungkam terhadap akar penjajahan,” lontarnya.
Solusi Politik dan Peradaban Islam
Melihat realitas ini, Om Joy menawarkan sistem Islam yang tidak hanya mengajarkan simpati emosional, melainkan memiliki solusi politik dan peradaban yang jelas untuk menyelesaikan persoalan Palestina.
Ia merumuskan empat poin solusi utama sebagai berikut. Pertama, umat Islam perlu melakukan reposisi pandangan dengan menyadari bahwa sekat negara-bangsa (nation-state) warisan kolonial kerap memecah belah soliditas politik dunia Islam dalam membela Palestina.
Kedua, negeri-negeri Muslim harus membangun kemandirian strategis dengan berani melepaskan ketergantungan politik, ekonomi, hingga militer dari negara-negara Barat yang menyokong blokade Israel.
Ketiga, perlunya penguatan prinsip untuk meninggalkan model diplomasi formalitas atau moderasi yang sekadar mengejar citra damai namun kehilangan taji dalam melawan penindasan nyata.
Keempat, dunia Islam harus mewujudkan kesatuan komando politik melalui institusi kepemimpinan global (khilafah) yang mampu mengonsolidasikan kekuatan militer secara nyata guna menghentikan penjajahan di Palestina serta wilayah Muslim lainnya.
Oleh karena itu, lebih jauh Om Joy mengingatkan, sikap diam para penguasa Muslim terhadap kezaliman di Palestina akan menjadi persoalan hisab yang berat di akhirat kelak.
“Di akhirat nanti, yang dihisab bukan seberapa indah pidato perdamaian mereka, melainkan apakah mereka membela kaum Muslim atau justru membiarkan penjajahan terus berlangsung demi menjaga hubungan politik dan kepentingan kekuasaan,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat