Farid Wadjdi: Cegat Kapal Kemanusiaan, Perlu Kirim Kapal Perang
MediaUmat – Merespons berulangkalinya militer Zionis Yahudi mencegat kapal kemanusiaan untuk Gaza, terbaru mencegat dan menculik ratusan relawan termasuk sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0. selama empat hari, Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie Farid Wadjdi menyatakan yang dibutuhkan adalah pengiriman kapal perang untuk menghentikan arogansi entitas penjajah tersebut.
“Yang dibutuhkan untuk menghentikan arogansi dan kebiadaban Zionis Yahudi ini adalah kapal-kapal perang dari negeri-negeri Islam yang membawa rudal-rudal dan senjata-senjata untuk membombardir tentara-tentara dan kapal-kapal Zionis Yahudi ini,” tegas Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie, Farid Wadjdi, dalam program Sorotan Dunia Islam di Radio Dakta 107.0 FM Bekasi, Rabu (20/5/2026).
Pasalnya, tentara Zionis merupakan entitas yang tidak memedulikan jalur diplomasi maupun hukum internasional. “Ini artinya bahasa satu-satunya yang dikenal oleh entitas penjajah Yahudi ini adalah bahasa perang,” tegasnya.
Ia menilai, pengiriman bantuan logistik hanya mampu menangani dampak buruk dari kekejian Israel di Gaza. Namun tidak akan bisa menghentikan agresi militernya secara tuntas. Terlebih, kekejaman tersebut telah menyebabkan lebih dari 70.000 warga Gaza tewas sejak meletusnya konflik pasca-Operasi Badai Al-Aqsa pada Oktober 2023 lalu.
Bagi Farid, keberadaan bantuan kemanusiaan memang mencerminkan adanya penolakan dunia. Tetapi sekali lagi skema tersebut dinilai sama sekali tidak memiliki kapasitas politik-militer untuk menyudahi blokade Zionis.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Farid menanggapi insiden pencegatan armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla oleh angkatan laut Israel di perairan internasional dekat Siprus. Insiden itu berujung pada penangkapan sejumlah aktivis kemanusiaan, termasuk empat orang di antaranya yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI).
Menurutnya, aksi pencegatan di laut lepas tersebut merupakan bentuk agresi ilegal yang melanggar hukum maritim internasional. Tindakan semacam ini terus berulang—termasuk serangan terhadap jurnalis dan pasukan perdamaian PBB—karena Israel merasa selalu dilindungi oleh Amerika Serikat melalui hak veto di PBB.
Menyikapi hal itu, Farid pun mendesak pemerintah Indonesia bertindak serius dan tidak menganggap remeh keselamatan para WNI yang ditahan.
Ia menegaskan, kasus pencegatan ini membuktikan dunia Islam tidak bisa lagi berharap pada institusi global seperti PBB ataupun Board of Peace (BoP), yang dinilai mandul dan sekadar menjadi alat politik Amerika Serikat.
Kewajiban Syariat dan Solusi Khilafah
Oleh karena itu, Farid menekankan, bagi umat Islam, persoalan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan biasa, melainkan masalah akidah.
“Dan kalau berdasarkan syariat Islam, yang wajib dilakukan oleh para penguasa negeri Islam adalah mengirimkan tentara-tentaranya untuk menghentikan kebiadaban Zionis Yahudi ini,” sambungnya, mengutip QS Al-Baqarah: 244 yang artinya ‘Dan berperanglah kamu sekalian di jalan Allah, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui’.
Tegasnya, umat Islam sangat membutuhkan institusi yang menyatukan dunia Islam dan memobilisasi pasukan-pasukan di negeri-negeri Islam di bawah penguasa yang amanah. Bukan penguasa yang tunduk kepada kepentingan Amerika sebagai negara penjajah.
“Di situlah relevansi kenapa umat Islam sangat membutuhkan Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat