MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei karena serangan AS dan Israel menjadi peledak semangat bagi pertarungan Iran.
“Bagi mereka ini jadi semacam booster (peledak) semangat untuk pertarungan mereka,” tuturnya dalam Fokus: Membayangkan Akhir Perang AS-Iran, Ahad (15/3/2026) melalui kanal YouTube UIY Official.
Andai yang meninggal itu sekedar presiden Iran atau pejabat di bawahnya, sebut UIY, mungkin tidak tidak terlalu besar pengaruhnya.
“Tapi yang meninggal adalah Ali Khamenei suksesor dari Imam Khomeini. Dia memimpin Iran sudah 36 tahun, kurun waktu yang sangat panjang bahkan lebih panjang dari Imam Khomeini sendiri,” tandasnya.
Menurutnya, kepemimpinan Ali Khamenei telah teruji karena mampu membawa Iran bertahan menghadapi embargo yang bagi negara lain sudah hancur-hancuran.
“Embargo terhadap Iran itu dalam hitungan saya sudah lebih dari 46 tahun, artinya hampir setengah abad. Bayangkan sebuah negara bisa bertahan menghadapi embargo, dan yang mengembargo bukan negara biasa. Ini Amerika dan sekutunya,” urainya.
Jadi, ucapnya, bagi rakyat Iran Ali Khamenei ini sesuatu yang luar biasa yang tewasnya dramatis.
“Mengapa? Karena dia sendiri sudah mau dipindahkan sebagaimana SOP para pemimpin tertinggi negara yang sedang berperang itu kan memindahkan pemimpin tertingginya sehingga tidak mudah dideteksi oleh lawan, tetapi dia tidak mau. Dengan sangat gagah mengatakan, ’Saya mau pindah kalau Anda juga bisa memindahkan 70 juta warga Iran’,” bebernya.
UIY memaparkan, kematian Ali Khamenei beserta istri, anak, perempuan, dan cucunya memberikan dramatisasi kepada rakyat Iran.
“Karena itu kita bisa memahami kenapa jutaan orang turun ke jalan pada saat penguburan Ali Khamenei. Dan hebatnya lagi penggantinyanya adalah anaknya yang istrinya juga meninggal dalam serangan itu,” jelasnya.
Kecele
UIY menilai, Israel dan Amerika kecele karena menyangka dengan menghabisi Ali Khamenei selesai urusan, ternyata tidak selesai malah makin panjang.
“Apalagi faktanya Iran itu sudah mempersiapkan diri lebih dari 20 tahun mempersenjatai diri dengan aneka drone yang sekarang baru keluar itu. Dengan teknologi sederhana, murah, tapi cukup efektif untuk memancing iron dome Israel. Jadi ibarat kata, keluar satu rupiah ditembak dengan satu juta. Itu yang membuat Israel betul-betul tidak menduga. Sementara drone Iran yang baru belum dikeluarkan padahal itu yang sangat berbahaya,” ulasnya.
Jadi, kata UIY, Iran dalam posisi sangat siap dan memahami model perangnya, karena model perang yang dialami Amerika berbeda-beda.
“Dunia bisa melihat perkembangan Iran bahwa kepemimpinan berjalan, suksesi berjalan mulus, kemudian publik tetap terkendali bahkan hampir membuncah,” tukasnya.
Yang menjadi soal, sambungnya, justru Israel yang hampir-hampir keadaannya tidak diketahui karena menerapkan sensor yang sangat ketat.
“Sampai ini hari tidak ada jawaban bagaimana nasib Netanyahu. Tapi logikanya begini, kalau dia sehat ngapain juga harus mengeluarkan video rekayasa AI. Karena itu isu makin kencang bahwa dia itu sebenarnya ada apa-apanya, jikapun tidak tewas mungkin luka berat,” duganya.
Tidak Mudah
UIY mengulas, Iran harus meladeni perang apalagi memang posisinya tidak mudah dihancurkan. “Fasilitas nuklir di dua tempat itu ternyata jauh di bawah tanah/gunung yang tidak mudah dihancurkan begitu rupa,” imbuhnya.
Ia mengatakan, meski seluruh pimpinan Iran itu mudah ditarget karena intel-intel Mossad berkeliaran di Iran yang bisa memberikan info sampai koordinat yang sangat detail untuk menembak sasaran, tetapi pusat-pusat nuklir itu aman.
“Artinya, security mereka itu jauh lebih ketat. Sampai sekarang tidak bisa mengintai wilayah itu. Ini yang ditakuti Amerika bahwa Iran pada suatu waktu akan mengeluarkan senjata yang mematikan. Dan yang paling takut bukan Amerika tetapi Israel karena masih dalam jangkauan Iran. Meskipun Iran juga mengancam dia punya rudal yang bisa menjangkau Washington,” bebernya.
UIY mengulas, Israel sangat takut kalah karena membawa konsekuensi psikologis baik di dalam mapun luar negeri.
Ini, ucapnya, memberikan spirit yang luar biasa bagi Israel untuk terus melanjutkan perang.
“Tetapi untuk terus berperang juga tidak mudah karena sehari butuh dana sekitar 12 triliun rupiah. Ini sudah hari ke-15, diperkirakan sudah menghabiskan dana 300 triliun, sementara ekonomi Amerika sedang tidak baik-baik saja. Utang AS itu sudah lebih dari 30 triliun US$. Tak terbayangkan bagaimana cara mengembalikan,” urainya.
Trump pun, kata UIY, juga demikian. “Amerika itu kan enggak mau kalah, dan enggak ada cerita Amerika kalah, tetapi ini hari dia menyaksikan bahwa dia tidak bisa menghentikan perang ini dengan mudah dalam arti dipersepsi publik bahwa Amerika itu menang,” jelasnya.
Menurut UIY, Amerika kebingungan. Karena, mengajukan gencatan senjata maupun perundingan ditolak Iran.
“Jadi, kalau judulnya membayangkan akhir dari perang ini, itu masih sangat sulit diprediksi. Yang terjadi nanti akan ada apa yang disebut dengan mutual damage yaitu dua-duanya mengalami kerusakan. Baik Israel, Amerika, maupun Iran mengalami kerugian besar,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat