MediaUmat – Menanggapi keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk hidup seribu tahun lagi demi melihat Indonesia jaya, Jurnalis Joko Prasetyo menilai esensi kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh panjangnya usia pemimpin, melainkan ketepatan sistem dan ideologi yang dianut.
“Masalahnya bukan umur, tapi arah. Dalam Islam, perubahan tidak diukur oleh panjangnya waktu, melainkan oleh benar atau tidaknya sistem dan ideologi yang ditegakkan,” tegasnya kepada media-umat.com, Jumat (1/5/2026).
Menurut Om Joy—sapaan akrabnya—narasi “seribu tahun” justru berisiko menanamkan mentalitas menunda kejayaan dan seolah menjauhkan tuntutan hasil nyata di masa sekarang. Ia mengkritik bahwa visi tersebut secara halus menggeser tanggung jawab dari ikhtiar struktural saat ini menjadi harapan futuristik yang kabur.
Sebelumnya, dilansir _kompas.com_ (30/4), Presiden Prabowo Subianto mengutarakan harapan memiliki umur panjang demi melihat kejayaan Indonesia. Ia pun mengutip “Pertemuan” karya Anna Mathovani untuk menggambarkan keinginannya tersebut.
“Saya ingin hidup seribu tahun lagi karena saya ingin melihat Indonesia jaya, rakyat Indonesia makmur, Indonesia dihormati, dibanggakan oleh bangsa-bangsa lain,” ujar Prabowo dalam peresmian pembangunan 13 proyek hilirisasi tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Belajar dari Sejarah Emas Islam
Terkait hal itu, Om Joy kemudian membandingkan logika tersebut dengan sejarah emas peradaban Islam. Ia menyebut bahwa Rasulullah SAW dengan Negara Islam Madinah tidak membutuhkan waktu seribu tahun untuk mengubah Jazirah Arab menjadi kekuatan peradaban karena sistem dan ideologi yang ditegakkan benar.
Bahkan dalam kurun waktu tiga dekade berikutnya, Khulafaur Rasyidin mampu memperluas kejayaan Islam hingga ke wilayah Syam dan Persia. Hal ini membuktikan bahwa hasil dapat dipercepat apabila arah kepemimpinan tepat. Sebaliknya, arah yang keliru hanya akan memperpanjang kegagalan meski diberi waktu seribu tahun.
Lebih lanjut, Om Joy mengingatkan, berdasarkan QS ar-Ra’d ayat 11, perubahan suatu kaum bergantung pada perubahan internal, sistemik, dan ideologis. Tegasnya, perubahan sejati berarti kembali berpegang teguh pada Islam, bukan penantian panjang tanpa arah yang jelas.
Terakhir ia menekankan, kepemimpinan adalah soal pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT yang akan dihisab secara rinci, bukan sekadar durasi berkuasa.
“Umat tidak butuh janji hidup seribu tahun. Umat butuh kepastian bahwa dalam satu generasi pun, dengan sistem dan ideologi yang benar, kejayaan itu mungkin dan harus dimulai sekarang,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat