MediaUmat – Jurnalis Joko Prasetyo menilai pernyataan Kanselir Friedrich Merz tentang Amerika Serikat telah dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, sebagai sinyal kuat runtuhnya dominasi Washington yang harus menjadi alarm bagi para penguasa negeri Muslim untuk menyadari lima realitas global yang krusial.
“Kaum Muslim terutama para penguasanya haruslah menyadari lima hal terkait posisi AS di panggung global saat ini,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (30/4/2026).
Pertama, penguasa Muslim harus menyadari kekuatan NATO mulai retak dari dalam. Hal ini terlihat jelas dari kritik Jerman mengenai absennya konsultasi Washington sebelum melakukan serangan, serta ketiadaan strategi keluar yang jelas dalam konflik dengan Iran.
Kedua, runtuhnya mitos AS sebagai pusat kendali dunia. Om Joy, demikian sapaan akrab Joko, melihat yang terjadi saat ini bukan sekadar jatuhnya wibawa diplomatik, melainkan berakhirnya anggapan bahwa AS adalah pemimpin dunia yang tak tergantikan.
Ketiga, adanya ironi besar di dunia Islam. Di saat sekutu dekat AS di Eropa mulai meragukan kepemimpinan Washington, masih banyak penguasa Muslim yang justru menggantungkan arah politik, ekonomi, dan keamanan negaranya pada kekuatan yang sedang goyah tersebut.
Keempat, ketergantungan pada AS bukanlah jalan keselamatan. Om Joy memperingatkan, bersandar pada Washington adalah bentuk ketergantungan yang rapuh dan berisiko tinggi bagi kedaulatan negeri-negeri Muslim.
Kelima, momentum untuk membangun kemandirian. Saat ini dipandang sebagai waktu yang tepat bagi para penguasa Muslim untuk melepaskan diri dari ilusi kekuatan Barat dan mulai membangun kekuatan politik serta strategi umat secara mandiri.
“Saatnya para penguasa negeri-negeri Muslim melepaskan ilusi dan membangun kemandirian politik, ekonomi, serta strategi umat,” seru Om Joy.
Landasan Syariat
Sebagai landasan teologisnya, ia menyitir Al-Qur’an surat Hud ayat 113: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” Ayat ini, menurutnya, menjadi peringatan keras agar para pemimpin tidak lagi menggantungkan nasib umat pada Washington ataupun kekuatan zalim lainnya.
Dengan kata lain, keberpihakan politik memiliki konsekuensi ukhrawi. “Setiap keputusan politik bukan hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah SWT,” tegasnya.
Maka itu, Om Joy mempertanyakan logika para penguasa yang masih bertahan dalam pengaruh AS di saat sekutu NATO-nya sendiri mulai menjauh. “Masihkah logis menggantungkan nasib umat pada kekuatan yang sedang goyah?” tandasnya.
Karena itu pula, seraya menegaskan urgensi bagi kepemimpinan di dunia Islam untuk segera berbenah, ia menekankan, sejarah selalu membuktikan kekuatan besar runtuh bukan hanya karena diserang, tetapi karena kehilangan pijakan dari dalam.
“Jangan tertipu oleh kekuatan yang mulai retak. Saatnya penguasa Muslim melepaskan ketergantungan dan kembali pada kemandirian strategi umat,” tandasnya.
Dilansir republika.co.id (28/4), Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik tajam AS yang dinilai telah dipermalukan oleh diplomasi Iran, terutama setelah upaya negosiasi di Pakistan berakhir tanpa hasil. Merz menilai kepemimpinan Iran sangat terampil dalam mempecundangi pejabat AS, yang menurutnya telah menjatuhkan martabat bangsa tersebut di mata internasional.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat