Seribuan Massa di Solo Tolak LGBTQ
- Agenda Umat
- 24/08/2026
- 0
- 4 minutes read
Seribuan massa dari elemen ulama, tokoh masyarakat, akademisi, intelektual, dan tokoh perempuan yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Muslim Solo Raya Penjaga Generasi (AMMSRPG) menyerukan penolakan terhadap Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender, Queer (LGBTQ), miras, dan penistaan agama serta menyerukan syariat Islam secara kafaah.
“Islam mengharamkan LGBTQ, miras, penistaan agama. Terapkan syariat Islam secara kaffah,” begitu salah satu tulisan dari spanduk yang mereka bentangkan dalam aksi damai yang bertema Islam Mengharamkan LGBTQ-Miras-Penistaan, Sabtu 22/8/2026) di Jalan Slamet Riyadi Solo Gladak atau depan Patung Slamet Riyadi.
Salah satu orator Akademisi Ali Mustafa menilai Indonesia belum sepenuhnya merdeka, Indonesia masih di depan pintu kemerdekaan. Karena Indonesia masih memakai undang-undang buatan Belanda yang bersandar pada sekulerisme.
“Yang dengan sekulerisme ini membuat maraknya LGBT,” tegasnya.
Ia menilai, gerakan LGBT ini sangat kuat, dan masuk sebagai gerakan global.
“Contohnya adalah PBB yang mendukung dan membuat anggaran miliaran untuk gerakan LGBT yang kedua, karena tekanan-tekanan diplomat di 103 negeri yang mengibarkan bendera LGBT atau bendera pelangi, yang ketiga, dimana kampanye LGBT terus digalakkan di medsos maupun di dunia nyata untuk menormalisasi LGBT di seluruh dunia,” jelasnya.
Adapun dampak lain dari sekulerisme salah satunya lanjutnya, maraknya miras.
“Sebagaimana dalam negeri masih ada dan banyak bahkan dibukakan pintu luas untuk miras seperti di hotel, dan di tempat lain,” ujarnya.
Orator kedua Lukman El Hakim dari Pengusaha Rindu syariah menilai LGBT ini memiliki kelainan jiwa dan itu sudah beredar dan menjadi fakta.
“Mereka gampang melakukan perbuatan keji, lihatlah diberita salah satu wakil LGBT yang telah memutilasi dan membunuhnya dengan bengis dan korbannya sesama LGBT, bahkan ada yang meracuni sesama LGBT, karena menolak untuk diajak berhubungan dengan sesama jenis,” jelasnya.
Bahkan, lanjutnya, kalau dilihat dampak sosial dari LGBT yang penyebarannya mencari korban dari anak muda hingga anak-anak kecil, dan jika sudah menjadi korban kalau tidak ditangani serius oleh penguasa atau pemerintah maka bisa berpotensi menjadi pelaku.
“Dan jika sudah menjadi pelaku dan akan mencari korban lagi, dan dengan penyebaran ini dan diikuti beredar luasnya penyebaran miras maka ini akan mengancam generasi muda dan anak-anak negeri kita,” tegasnya.
Di samping beredar luasnya miras bebas, lanjutnya, maka anak-anak akan sudah terbiasa mengonsumsinya sehingga mereka seolah-olah tidak melakukan ketika ada challenges menistakan agama dengan ditukarnya hafalan Qur’an dengan miras.
“Maka dari itu kami mengutuk keras perbuatan ini dan mendesak pemangku jabatan untuk menghukum seberat-beratnya bagi pelaku,” bebernya
Solusi
Orator ketiga Ustadz Subki al-Bantani, Pengasuh Majelis Teras Peradaban, membeberkan cara Islam dalam menyelesaikan masalah LGBT, miras, dan penistaan agama.
“Pertama Islam melindungi individu, karena Islam berlandaskan pada ketakwaan kepada Allah SWT, setiap Muslim harus sesuai dengan hakikat fitrahnya laki-laki diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai perempuan tidak ada gender netral,” bebernya.
Individu, lanjutnya, ditekan untuk takut kepada Allah agar bisa terhindar dari kemaksiatan, termasuk miras dan pornografi.
“Yang kedua ditingkatkan ketakwaan dalam masyarakat amar ma’ruf nahi mungkar, masyarakat tidak boleh cuek, tidak boleh ada prinsip yang penting bukan anak saya,” jelasnya.
Ia menilai, takwa di sini sebagai kontrol sosial, yaitu dengan sesama tetangga saling menjaga dan masyarakat berani menegur ketika lingkungan menjadi sarang miras, tempat penyimpanan alkohol dan sarangnya propaganda LGBT.
“Yang ketiga perlindungan di tingkat negara, karena di dalam Islam, khalifah adalah pelindung (ra’in) dan perisai (junnah), tanpa negara pilar individu atau masyarakat akan mudah runtuh,” jelasnya.
Demikian juga dalam pernyataan sikap yang disampaikan oleh Ustadz Sulaiman selaku Ketua AMMSRPG untuk menyerukan kepada umat Islam, ulama, tokoh masyarakat, keluarga, dan generasi muda untuk kembali kepada Islam secara kaffah menjadikan Islam sebagai pedoman dalam akidah, ibadah, akhlak, keluarga, pendidikan, ekonomi, dan kehidupan bermasyarakat. Karena menyelamatkan generasi bukan hanya dengan menolak kerusakan, tetapi dengan menghadirkan Islam sebagai jalan kehidupan.
“Dan hanya dengan sistem khilafahlah yang mampu memberikan perlindungan bagi generasi, umat dan kaum Muslimin dalam seluruh pelaksanaanya,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat


