Pujian Prabowo kepada Macron Dipertanyakan karena Jejak Penjajahan Prancis

 Pujian Prabowo kepada Macron Dipertanyakan karena Jejak Penjajahan Prancis

MediaUmat – Aneka pujian Presiden Prabowo Subianto kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron, menurut Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie Farid Wadjdi, patut dipertanyakan mengingat jejak politik penjajahan Prancis atas dunia Islam.

“Pujian Presiden Prabowo terhadap Presiden Prancis patut dipertanyakan, mengingat jejak politik penjajahan Prancis,” tegasnya kepada media-umat.com, Senin (1/6/2026).

Ia mengingatkan, Prancis merupakan bagian dari negara kapitalis yang memiliki rekam jejak panjang dalam praktik penjajahan dan eksploitasi terhadap negeri-negeri Islam.

Farid mencontohkan penjajahan Prancis di Aljazair sejak 1830 hingga 1962 yang menewaskan ratusan ribu hingga jutaan jiwa, serta berbagai kekerasan sistematis seperti pembantaian warga sipil, perampasan tanah, dan penindasan budaya.

Selain itu, sebut Farid, Prancis juga memiliki sejarah kolonial di Tunisia, Maroko, dan sejumlah wilayah Afrika Barat yang diwarnai eksploitasi sumber daya dan penindasan terhadap penduduk lokal.

Ia juga mengingatkan, Prancis adalah negara yang konsinten dengan solusi dua negara dalam penjajahan Israel terhadap saudara Muslim di Gaza Palestina. Ini artinya, Prancis ingin melegalkan, melegitimasi semua kejahatan Israel dan keberadaannya.

“Ini juga patut dipertanyakan. Karena sesungguhnya solusi dua negara itu adalah solusi yang melegitimasi keberadaan penjajah Israel,” bebernya.

Dalam pandangannya, kerja sama dengan negara-negara imperialis seperti Prancis dan Amerika Serikat pada dasarnya merugikan. Prinsip kapitalisme yang menjadi landasan negara-negara tersebut cenderung melahirkan praktik penjajahan yang tidak menghadirkan keadilan dan kesetaraan.

“Kerja sama dengan negara imperialis seperti Prancis dan Amerika Serikat pada dasarnya merugikan karena prinsip kapitalisme adalah penjajahan sehingga tidak menghadirkan keadilan dan kesetaraan,” tuturnya.

Farid juga mengkritisi berbagai bentuk kerja sama konkret, seperti pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan transfer teknologi. Kerja sama semacam ini justru lebih menguntungkan negara imperialis dan membuka peluang eksploitasi sumber daya alam Indonesia.

“Kerja sama seperti pembelian alutsista dan transfer teknologi justru menguntungkan negara imperialis dan membuka jalan eksploitasi sumber daya alam Indonesia,” kritiknya.

Selain itu, ia menyoroti rencana mendorong pembelajaran bahasa Prancis yang dinilai berpotensi menjadi pintu masuk pengaruh peradaban Barat. Kebijakan tersebut tidak bisa dilepaskan dari aspek ideologis yang dibawa oleh bahasa.

Ia menambahkan, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga bagian dari tsaqafah yang membawa nilai-nilai tertentu. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Prancis dinilai berpotensi mentransfer nilai liberal kepada masyarakat.

“Bahasa merupakan bagian dari tsaqafah yang membawa nilai ideologis, sehingga pembelajaran bahasa Prancis berpotensi mentransfer nilai liberal kepada masyarakat,” imbuhnya.

Dalam konteks pendidikan, Farid menegaskan, prioritas seharusnya diberikan kepada bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an dan As-Sunnah, lebih relevan bagi kebutuhan umat Islam.

“Karena bahasa Arab ini adalah bahasa Al-Qur’an atau bahasa As-Sunnah dan itu akan sangat dibutuhkan untuk memahami Al-Quran dan As-Sunnah dan sebagai negeri Islam seharusnya bahasa Arablah yang wajib diajarkan,” sebutnya.

Terakhir, ia pun menyinggung frekuensi kunjungan yang tidak lazim. “Kunjungan berulang Presiden Prabowo ke Prancis dalam waktu singkat hingga beberapa kali merupakan hal yang tidak lazim dalam diplomasi dan patut dipertanyakan karena tidak menunjukkan tujuan yang jelas dan berbeda,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *