Politik dan Ekonomi Indonesia Masih Dicengkeram Asing dan Aseng
MediaUmat – Mempertanyakan arti kata merdeka, Narator Media Umat (MU) Guslin al-Fikrah mengungkapkan bahwa meski dipimpin oleh bangsa sendiri tapi tak menutup mata secara politik dan ekonomi Indonesia masih dalam cengkeraman asing dan aseng
“Meski dipimpin oleh bangsa sendiri tapi tak menutup mata secara politik dan ekonomi terutama Indonesia masih dalam cengkaman asing dan aseng,” ujarnya dalam rilis video yang diterima media-umat.info, Sabtu (29/8/2026).
Guslin membeberkan, meski negeri ini telah merdeka sejak 17 Agustus 1945, banyak orang merasakan hidup dalam tekanan. Bak masih dalam masa penjajahan. Jika dulu berhadapan dengan penjajah kulit putih alias londo putih, kini harus berhadapan dengan sulitnya kehidupan.
Guslin melihat, Indonesia yang kaya raya akan kekayaan alam kini ludes di bawah kabur dan dinikmati perusahaan asing dan lokal. Dirampok oleh para pemilik modal besar. Bukannya negara yang untung malah buntung. Utang negara terus menggunung sementara rakyat harus menderita dan dipaksa membiayai negara dengan pajak. Padahal rakyat mencari uang dengan memeras keringat dan membanting tulang.
“Jika dulu Indonesia dijajah oleh Belanda melalui VOC-nya, kini penjajah telah berganti baju dengan cara yang lebih halus dan ramah,” bebernya.
Guslin menilai, negeri ini dijerat dengan sistem politik dan ekonomi ala Barat. Dengan sistem tersebut, negeri ini masuk dalam perangkap. Melalui sistem sekularisme demokrasi, negeri ini dipaksa menjadikan manusia sebagai tuhan-tuhan baru. Sistem hukum dibuat manusia untuk memperbudak manusia. Dalam sistem ekonominya, sistem kapitalis menjadikan orang-orang bermodal besar dan kaya yang dikenal sebagai oligarki menguasai kekayaan alam milik rakyat.
Dan berkat bantuan para penguasa yang culas dan sekedar mementingkan dirinya sendiri. Jadilah lebih dari 81 tahun merdeka, Indonesia tak bisa bersaing dengan negara lain di berbagai bidang. Tak bisa dipungkiri secara infrastruktur kelihatan ada kemajuan. Tapi itu semua dari utang. Belum lagi jika dilihat dari sisi sosial dan budaya, kerusakan banyak terjadi di mana-mana karena masuknya budaya asing tanpa filter negara.
Terlebih lagi di era informasi saat ini, Guslin memandang rezim yang berkuasa saat ini bukannya tidak tahu akan dampak intervensi asing ini. Tapi rezim justru bekerja sama dengan mereka demi kepentingan kekuasaan. Ada yang mencari rente, ada yang meraih dan mempertahankan jabatan. Mereka rela menjadi antek kepentingan asing dan asing. Rakyat dikesampingkan.
Ia mencontohkan, dalam kasus kerja sama dengan Amerika Serikat, betapa rezim dengan enteng membuka pintu masuk Amerika ke dalam pasar Indonesia dengan longgar. Tak seimbang dengan yang didapatkan Indonesia dari Amerika. Demikian pula dalam kerja sama militer, Indonesia dalam dominasi Amerika Serikat. Lagi-lagi pertanyaan Indonesia sudah merdeka menjadi relevan.
Terakhir Guslin menegaskan, dalam kacamata Islam, merdeka dicirikan dengan pembebasan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia. Manusia merdeka, menghamba hanya kepada Allah SWT saja. Dengan begitu, hidupnya secara pribadi, bermasyarakat, dan bernegara dipandu dan dibimbing sepenuhnya oleh aturan Allah SWT.
“Ini yang akan menjadikan negeri ini mewujud menjadi baldatun thayyibatun. Inilah merdeka yang hakiki,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat