Aab Elkarimi: Generasi Muda Saat Ini Kehilangan Arah

 Aab Elkarimi: Generasi Muda Saat Ini Kehilangan Arah

MediaUmat Influencer dakwah Aab Elkarimi menilai generasi muda saat ini bukan tidak memiliki pemikiran, melainkan kehilangan arah dan pegangan dalam menjalani kehidupan.

“Generasi muda dinilai bukan tidak memiliki pemikiran, tetapi kehilangan arah dan pegangan dalam menjalani kehidupan,” ujarnya dalam diskusi Maulid: Cinta Nabi Era Kini, Ahad (30/8/2026) di kanal YouTube Tabloid Media Umat.

Ia mengatakan, momentum Maulid Nabi SAW pertanyaan mengenai keteladanan Rasulullah SAW menjadi penting karena generasi muda Muslim hidup dalam situasi yang penuh tantangan pemikiran dan ideologi. Secara demografi mereka merupakan kelompok dominan, tetapi harus menghadapi perubahan besar akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI), robotik, big data, dan internet of things yang membawa masyarakat memasuki era super society.

“Era ini menghasilkan era keberlimpahan. Masyarakat itu menjadi lebih berlimpah mendapatkan barang-barang, berlimpah mendapatkan informasi, juga menciptakan banyak kemudahan,” jelasnya.

Ia menilai kemudahan teknologi juga membawa konsekuensi terhadap gaya hidup dan ketahanan generasi muda, termasuk munculnya sedentary lifestyle. Di tengah kemudahan tersebut, banyak anak muda justru mengalami kebingungan dalam menentukan arah kehidupan dan pemikirannya, kondisi tersebut sebagai the intellectual confusion, yakni kebimbangan atau kebingungan secara pemikiran yang membuat anak muda kesulitan menentukan arah hidup.

“Hari ini tuh banyak generasi muda yang memang bingung secara kehidupan,” katanya.

Ia menilai kebingungan tersebut bukan berarti anak muda sama sekali tidak mempunyai gagasan atau pemikiran. Persoalannya justru terletak pada tidak adanya arah yang jelas dalam menggunakan pemikiran tersebut sehingga mereka rentan mengalami krisis identitas dan kehilangan pegangan hidup.

“Mereka menjadi generasi yang kosong. Kemudian bukan kosong dari segi pemikiran. Mereka tuh punya pemikiran tapi arahnya itu enggak ada,” ungkapnya.

Selain persoalan internal generasi muda, Aab juga menyoroti perkembangan kelompok nonreligius yang dinilai semakin progresif di sejumlah negara. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena generasi muda Muslim pada masa mendatang akan semakin sering berinteraksi dengan kelompok yang memiliki pandangan hidup berbeda dari agama.

“Muncul pula kekhawatiran terhadap pertumbuhan kelompok nonreligius yang dinilai semakin progresif di sejumlah negara. Sebab generasi muda ke depan dinilai akan semakin banyak menghadapi orang-orang dari golongan nonreligius,” bebernya.

Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi tidak dapat dipandang sepenuhnya netral. Di balik berbagai inovasi teknologi terdapat manusia dan pemikiran yang ikut menentukan arah perkembangannya, sementara tidak seluruh pengendalinya berasal dari kalangan yang memiliki pandangan hidup religius. Karena itu, generasi Muslim perlu memahami gagasan yang menyertai perkembangan teknologi, bukan sekadar menikmati produk dan kemudahannya.

“Perkembangan teknologi dipandang tidak netral karena tokoh-tokoh besar di balik industri teknologi memiliki pandangan hidup yang berbeda dengan agama. Yang mengendalikan itu bukan lagi umat beragama,melainkan orang-orang yang “lahir dari pandangan hidup yang benar-benar berbeda,” ujarnya.

Ia juga melihat tantangan pemikiran semakin kompleks dengan berkembangnya sekularisme Barat yang kemudian berkelindan dengan postmodernisme, skeptisisme, dan dekonstruktivisme. Berbagai gagasan tersebut dinilai turut memengaruhi cara masyarakat memandang kebenaran, moralitas, agama, dan kehidupan.

“Moralitas itu sudah dirusak dengan paham dekonstruktivisme,” ujarnya.

Aab menambahkan, meningkatnya rasionalisme dan skeptisisme juga menjadi tantangan serius bagi generasi muda Muslim. Ia menyebut sebagian pemikir Barat bahkan menggambarkan masa depan manusia bukan lagi bertumpu pada agama, melainkan pada data dan sains.

“Masa depan itu bukan milik agama. Masa depan itu milik dataisme atau saintisme,” demikian gambaran mengenai arah pemikiran sebagian futurolog Barat yang ia soroti,” tandasnya.[] Lukman Indra Bayu

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *