MediaUmat – Analis dari Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) Muhammad Ismail mempertanyakan mengapa nilai rupiah melemah, padahal sektor produksi masih berjalan, barang tetap diproduksi, dan masyarakat masih berbelanja seperti biasa.
“Mengapa nilai rupiah bisa melemah? Modal asing tiba-tiba keluar dari Indonesia lalu dampaknya terasa hingga lapangan kerja semakin sempit. Padahal sektor produksi masih berjalan, barang tetap diproduksi, masyarakat juga masih berbelanja seperti biasa,” ujarnya dalam video Biaya Hidup Tinggi, Banyak yang Depresi? tayang di kanal YouTube Khilafah News, Ahad (12/7/2026).
Menurutnya, itu terjadi karena sentimen pasar berubah negatif atau suku bunga the Fed naik, capital outflow langsung terjadi.
“Kondisi ini bisa semakin buruk ketika gejolak politik menurunkan kepercayaan pasar terhadap rezim yang berkuasa,” kritiknya.
Menurutnya, fenomena ini menunjukkan penggerak ekonomi modern tidak selalu bertumpu pada sektor riil.
“Hari ini suku bunga dan transaksi spekulatif di pasar keuangan justru memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas ekonomi,” ujarnya.
Ia menyebut, hal yang sama dapat dilihat pada investasi yang semata-mata mengejar capital gain melalui transaksi spekulatif di pasar derivatif.
“Aktivitas seperti ini berpotensi memperbesar volatilitas dan memicu capital outflow,” tuturnya.
Perspektif Al-Qur’an
Di sinilah, sambungnya, Al-Qur’an memberikan perspektif yang menarik. Allah Subhanahu wa taala berfirman, “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan karena penyakit gila” (TQS al-Baqarah ayat 275).
Kemudian, paparnya, Al-Qur’an juga melarang praktik yang mengandung unsur spekulatif sebagaimana dalam Quran surah Al-Maidah ayat 90.
“Mengapa? Karena riba pada hakikatnya adalah transaksi uang, dengan uang yang menghasilkan tambahan berupa bunga,” tandasnya.
Berbeda, lanjutnya, dengan skema mudarabah dalam Islam di mana investor dan pelaku usaha berbagi keuntungan berdasarkan profit sharing.
“Skema ini mendorong kepastian usaha memperkuat sektor riil, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya membuka lebih banyak lapangan kerja,” ucapnya.
Menurutnya, ketika semakin banyak angkatan kerja terserap, maka kemiskinan akan menurun dan kesejahteraan masyarakat meningkat.
“Dalam masyarakat yang lebih sejahtera, semangat bersedekah pun tumbuh. Daya beli meningkat, sektor industri berkembang,” tutupnya.[] Novita Ratnasari
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat