MediaUmat – Direktur Siyasah Institute Iwan Januar menyayangkan kemunduran budaya literasi serta minimnya pembiayaan negara saat ini, sebuah kondisi yang dinilainya sangat bertolak belakang dengan sejarah emas literasi pada era kekhilafahan Islam.
“Tidak ada yang bisa membantah bahwa Islam telah mengubah peradaban manusia dari jahiliah menjadi ‘kerasukan’ kebiasaan membaca,” ujarnya kepada media-umat.com, Rabu (22/7/2026).
Menurut Iwan, perubahan drastis masyarakat jahiliah menjadi gemar membaca tersebut didorong oleh tiga hal utama: perintah wahyu pertama, dorongan akidah Islam, serta fasilitasi penuh dari negara. Alhasil, peradaban Islam berhasil menjadi pusat ilmu dan sumber peradaban dunia selama berabad-abad.
Keunggulan literasi itu dibuktikan dengan hadirnya perpustakaan megah berikut ribuan hingga jutaan koleksi buku yang dibangun negara, seperti Perpustakaan Cordova yang memiliki 400 ribu judul buku, Darul Hikmah di Kairo dengan 2 juta judul, hingga Perpustakaan Tripoli yang mengoleksi 3 juta judul buku. Fasilitas tersebut membuat masyarakat dan para ulama kala itu tidak kesulitan mengakses sumber bacaan.
Kondisi tersebut amat bertolak belakang dengan Indonesia saat ini, sebab akses buku dan pemajuan literasi makin terancam akibat pemangkasan anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dari Rp721 miliar menjadi Rp377,9 miliar, sebagaimana dipaparkan jajaran Perpusnas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR RI pada pertengahan Juni 2026 lalu.
Pemotongan anggaran ini mengancam penghentian program bantuan buku ke desa-desa hingga lembaga pemasyarakatan (lapas), di tengah rendahnya alokasi anggaran pendidikan Indonesia yang hanya berada di kisaran 1,3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).
Terkait hal itu, Iwan kembali menjelaskan bahwa tingginya literasi di masa lalu tidak lepas dari peran negara yang memfasilitasi dan menghargai para pengajar serta penulis secara luar biasa.
“Khilafah Islamiah memberikan penghargaan dan bayaran yang tinggi untuk para guru, para ulama dan para penulis buku. Di masa Khalifah Umar bin Khattab upah guru baca dan menulis adalah 15 dinar per bulan,” ungkapnya.
Jika dikonversi dengan standar harga emas saat ini (setara 63,75 gram emas murni), nominal 15 dinar tersebut bernilai ratusan juta rupiah per bulan. Selain apresiasi tinggi bagi guru, negara kala itu juga membangun pabrik kertas dan percetakan agar penerbitan buku makin mudah, sehingga ilmu pengetahuan bukan lagi milik kalangan elite semata melainkan dapat diakses oleh masyarakat luas.
Iwan menegaskan, tradisi literasi yang kuat tersebut justru perlahan memudar seiring melemahnya ikatan terhadap ajaran Islam hingga runtuhnya sistem kekhalifahan.
“Namun, begitu ikatan terhadap Islam melemah, melemah pula budaya literasi pada umat. Apalagi setelah Khilafah dihancurkan pada tahun 1924, penjajahan oleh bangsa Barat terjadi di dunia Islam, kaum Muslimin dijauhkan dari budaya literasi. Semua ada tujuannya, yaitu membuat umat Muslim selalu terbelakang sehingga mudah dijajah dan dihancurkan,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat