Penyiksaan tidak Menciptakan Revolusi, Namun Kesabaran dan Membangun Kekuatan
Serial Ramadhan: Momen-Momen Gemilang dalam Sejarah Islam (Episode 4)
Pada tahun-tahun awal periode Makkah, situasinya sangat mengerikan. Bilal diseret di atas panas terik pasir Makkah, Khabbab disetrika dengan besi panas, dan keluarga Yasir disiksa hingga syahid. Darah ditumpahkan, cambuk diayunkan, dan orang-orang yang rentan menjadi sasaran tanpa ampun. Namun, izin untuk berperang tidak diberikan. Dakwah kepada Islam tidak berubah menjadi konflik bersenjata, dan para Sahabat tidak diperintahkan untuk membalas dengan cara yang sama. Di sini, pikiran berhenti sejenak, bertanya-tanya: Mengapa teguh dengan kesabaran ini, padahal ada kemampuan untuk membalas? Dan mengapa konfrontasi ditunda meskipun ketidakadilan semakin meningkat?
Jawaban atas hal tersebut mengungkapkan kedalaman pendekatannya. Periode Makkah bukanlah periode negara, melainkan periode pembentukan. Kaum Muslim belum memiliki entitas politik untuk melindungi mereka, tidak memiliki wilayah untuk beroperasi, dan tidak memiliki aparat (alat kekuasaan) untuk mengatur urusan mereka. Mereka adalah individu-individu yang tersebar di dalam masyarakat yang bermusuhan, diatur oleh adat istiadat suku dan aliansi yang kuat. Sehingga terlibat dalam konflik militer pada saat itu tidak akan mengubah keseimbangan kekuasaan; sebaliknya, itu akan memusnahkan gerakan yang baru lahir. Pertumpahan darah tidak akan menghasilkan tatanan baru, tetapi akan digunakan sebagai dalih untuk menghancurkan gagasan itu sendiri.
Oleh karena itu, seruan Al-Qur’an pada tahap itu berfokus pada membangun akidah (keyakinan), memperkuat hati, dan membentuk kesadaran. Ayat-ayat tentang kesabaran dan keteguhan hati, serta ayat-ayat yang membebaskan umat manusia dari rasa takut kecuali kepada Allah, diturunkan. Kesabaran bukanlah penyerahan diri, melainkan pendekatan yang terukur. Itu adalah persiapan untuk tahap selanjutnya di mana kondisi untuk konfrontasi sebenarnya akan terjadi. Ada perbedaan besar antara kesabaran yang lahir dari ketidakberdayaan dan kesabaran yang berasal dari visi strategis yang mengakui bahwa setiap tahap memiliki alatnya sendiri.
Ketika Khabbab bin al-Arat radhiyallahu ‘anhu datang untuk mengeluh tentang siksaan yang dideritanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari:
«وَاللَّهِ لَيَتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرُ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ»
“Demi Allah, perkara ini pasti akan sempurna sehingga seorang pengendara dapat melakukan perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut tanpa takut kepada siapa pun kecuali Allah, dan tidak takut serigala akan menerkam kambingnya, tetapi kalian ini orang yang suka tergesa-gesa.”
Kalimat terakhir adalah kunci untuk memahaminya: “tetapi kalian ini orang yang suka tergesa-gesa (tidak sabaran).” Ketergesa-gesaan (ketidaksabaran) di saat lemah mungkin tampak berani, tetapi hal itu dapat menghancurkan apa yang telah dibangun dengan kesabaran yang panjang. Visi Nabi melihat di balik penderitaan sesaat; visi Nabi melihat sebuah negara yang akan didirikan, sebuah sistem yang akan diterapkan, dan keadilan yang akan ditegakkan, tetapi semua itu harus melalui jalan yang telah diperhitungkan dengan cermat dan matang.
Pelajaran ini sangat relevan dengan realitas kontemporer kita. Berapa banyak gerakan yang dipicu oleh kemarahan yang disyariahkan, hanya saja kemudian terlibat dalam konfrontasi yang tidak seimbang, kurang persiapan dan visi yang komprehensif, sehingga berakhir dengan penderitaan dan kerugian besar tanpa mengubah struktur yang mereka lawan? Sungguh berapa banyak kezaliman yang telah mengubah menjadi luapan emosi sesaat, namun dengan cepat digagalkan atau dieksploitasi untuk mereproduksi realitas yang sama? Kemarahan adalah konsep manusia yang alami, tetapi mengubahnya menjadi instrumen perubahan membutuhkan pikiran yang mempertimbangkan konsekuensinya, bukan hanya hati yang terbakar oleh amarah semata.
Sebaliknya, kesabaran bukan berarti menerima atau membenarkan kezaliman. Dalam pemahaman Al-Qur’an, kesabaran bukanlah penyerahan diri, melainkan keteguhan pada prinsip yang disertai dengan upaya berkelanjutan untuk mengubah realitas melalui cara-cara yang sesuai dengan tahapan. Di Makkah, upaya ini melibatkan pembongkaran gagasan kekafiran dan pembentukan gagasan Islam, membentuk kelompok negarawan yang kohesif dan mewujudkan prinsip-prinsip Islam di dalamnya, serta mencari tanah untuk merangkul proyek tersebut, seperti yang terjadi dalam Baiah Aqabah. Ketika negara didirikan di Madinah, pemerintahan berubah, izin untuk berperang diberikan, dan konfrontasi menjadi bagian dari pengelolaan konflik antara dua entitas politik yang berbeda.
Mencampuradukkan kedua tahapan tersebut menciptakan masalah yang signifikan. Mereka yang mengabaikan realitas tahapan saat ini mungkin secara prematur menyerukan konflik, yang mengakibatkan kerugian bagi rakyat dan hilangnya tujuan perjuangan. Sebaliknya, mereka yang mencampuradukkan kesabaran dengan sikap puas diri mungkin akan memadamkan tujuan perjuangan dengan kedok kebijaksanaan, hingga tujuan tersebut larut dalam realitas yang ada. Keseimbangan yang rumit terletak pada pengakuan bahwa setiap realitas memiliki hikmahnya sendiri sesuai syariah, dan alat-alatnya adalah membangun pemikiran dan organisasi ketika negara belum ada, sementara penerapan, pelaksanaan wewenang dan legislasi dalah ketika negara sudah berdiri.
Di dunia saat ini, ketidakadilan bermanifestasi dalam berbagai bentuk: pendudukan, tirani, ketergantungan ekonomi, hegemoni budaya … Menanggapi tantangan-tantangan ini tidak memerlukan reaksi tergesa-gesa atau slogan-slogan berapi-api tanpa rencana praktis. Hal ini membutuhkan perspektif jangka panjang, perumusan proyek yang jelas, dan upaya untuk melindungi proyek tersebut. Tanpa ini, penderitaan akan terus berulang, dan bersamaan dengan itu, emosi pun akan terus ada dan terjaga.
Ramadhan, dengan segala maknanya yang mendalam, mengingatkan kita akan sumber kekuatan sejati. Orang yang berpuasa menahan diri dari apa yang diperbolehkan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, sehingga dengannya mereka tengah belajar mengendalikan keinginannya. Demikian pula, kelompok-kelompok yang tengah berjuang menuju kebangkitan perlu menahan impuls (dorongan hati) mereka dan membedakan antara tindakan yang diperlukan dan konfrontasi yang tak terhindarkan. Tidak setiap keluhan membenarkan konflik langsung, dan tidak setiap tindakan kesabaran merupakan tanda kelemahan. Terkadang, manifestasi kekuatan terbesar terletak pada kemampuan untuk menunggu secara sadar dan bekerja secara diam-diam serta mendalam sampai kondisinya tepat untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan.
Kesabaran bukanlah pelajaran tentang penerimaan pasif, melainkan tentang mengelola waktu. Kesabaran adalah pemahaman bahwa perubahan sejati adalah proses kumulatif, dan ketika darah tertumpah, maka itu harus dalam konteks yang menghasilkan realitas baru, bukan sekadar tontonan heroik yang berakhir dengan cepat. Di antara cambuk Makkah dan pedang Badar terbentang rentang waktu yang diisi oleh pembangunan karakter Islam fundamental berdasarkan gagasan tersebut. Tanpa rentang waktu ini, Badar tidak akan pernah terjadi.
Dan sekarang kita sedang menantikan Badar baru untuk membebaskan Al-Aqsa dan tempat Isra’ di bawah naungan Khilafah Rasyidah ‘ala minhājin nubuwah. []
Kantor Media Hizbut Tahrir
Di Wilayah Mesir
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 22/2/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat