MediaUmat – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhyiddin Junaidi menilai dunia Islam mengalami krisis suri teladan (uswatun hasanah).
“Nah saat ini dunia Islam khususnya dan dunia internasional pada umumnya mengalami krisis suri teladan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah,” tuturnya dalam diskusi Maulid: Cinta Nabi Era Kini, Ahad (30/8/2026) di kanal YouTube Tabloid Media Umat.
Alasannya, jelas Kiai Muhyiddin, umat Islam itu membaca dan menghafal kitab Barzanji itu kadang-kadang berlebihan membesar-besarkan. Mereka mengutamakan hafalan kitab Barzanji daripada ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Rasulullah SAW.
“Dan itu termasuk tradisi yang berlaku di negara kita tercinta, seakan-akan peringatan maulid nabi itu intisarinya adalah membaca kitab Barzanji dihafal dengan bahasa Arab tapi mereka tidak memahami dan menghayatinya,” lanjutnya.
Ia menambahkan, dalam kitab Barzanji sebenarnya memiliki dua aspek penting. Pertama, memberikan penyadaran kepada umat-umat manusia bahwa Muhammad adalah manusia yang sempurna (insan kamil). Kedua, perlunya ittiba dan taklid kepada Rasulullah SAW.
Uswatun Hasanah
Menurut Muhyiddin, keteladan Nabi (uswatun hasanah) yang seharusnya dijadikan role model telah hilang di negeri-negeri Muslim.
“Uswatun hasanah, role model ini yang hilang di negeri-negeri Muslim dan di kalangan pemimpin Muslim dunia baik di Arab atau di luar Arab,” ujarnya.
Lantas ia menegaskan, umat Islam tidak bisa banyak berharap dari pemimpin di negara Arab untuk bisa menyelamatkan umat Islam dari keterpurukan dari cemooh. Pemimpin yang tidak bisa mengatakan tidak kepada sistem-sistem diluar Islam dan sistem thoghut.
Menurutnya, sistem yang diterapkan saat ini dunia Arab itu adalah meng-copy paste hukum dan peraturan yang dicekokkan, yang dipaksakan kepada mereka dari mantan penjajah mereka.
“Bahkan terakhir kita menyaksikan dengan rasa keprihatinan bagaimana sikap negara-negara Arab pada saat Amerika-Israel menyerang Iran tidak ada satu pun dari negara tersebut yang menyatakan rasa penolakan, kutukan dan merasakan akan menyampaikan rasa simpati kepada negara yang dizalimi yaitu Iran, termasuk Indonesia,” paparnya.
Oleh karena itu, ia menilai, suri tauladan ini sudah menjadi sebuah barang langka di negeri Islam.
“Apalagi di kalangan para pemimpin Muslim. Tidak aneh, karena mereka mengalami kehilangan semangat berjihad (fuqdan ruhul jihad)” sambungnya.
Akibatnya, menurut Kiai Muhyiddin, mereka minta bantuan dari negara-negara kafir dari Amerika Serikat dan sekutunya untuk mengamankan negara mereka. Dan mereka mengundang kekuatan asing menjadi centeng di negara masing-masing. Bayangkan ada 17 pangkalan militer Amerika di negara-negara Muslim.
Ia menilai, umat Islam mengalami krisis identitas yang sangat parah. Dia mengutip ucapan Syakib Arselan yang mengatakan bahwa umat Islam hanya secara kuantitatif besar jumlahnya tapi secara kualitatif mereka zero.
“Secara jumlahnya besar tapi tidak punya peran dalam mengarahkan dunia dan khususnya dalam menjaga kesatuan dan persatuan umat Islam di dunia,” ujarnya.
Lalu ia mengatakan mengapa mereka begitu lemah? Mengapa mereka kehilangan arah?
“Ini disebabkan mereka tidak mengikuti sunah Rasulullah SAW,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat