Masih Bergantung pada Kapitalisme Global, Rupiah Terus Melemah
MediaUmat – Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra menyatakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akibat struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada sistem kapitalisme global.
“Pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada sistem kapitalisme global,” ujarnya kepada media-umat.com, Selasa(19/05/2026).
Menurut Ahmad, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan rupiah rentan melemah terhadap dolar. Pertama, ketergantungan impor yang tinggi. Indonesia masih mengimpor banyak kebutuhan penting seperti bahan bakar, pangan, obat-obatan, teknologi, dan bahan baku industri. Ketika nilai dolar naik, biaya impor meningkat dan permintaan terhadap dolar semakin besar. Hal ini menekan nilai tukar rupiah.
Kedua, utang luar negeri berbasis dolar. Ahmad membeberkan, pemerintah maupun sektor swasta Indonesia memiliki utang luar negeri dalam jumlah besar. Ketika rupiah melemah, maka beban pembayaran utang dan bunga menjadi semakin berat. Mengutip pernyataan Bank Indonesia, Ahmad menyebut stabilitas rupiah sangat dipengaruhi arus modal asing dan posisi utang luar negeri.
Ketiga, dominasi investasi asing dalam pasar keuangan domestik. Dalam sistem kapitalisme liberal, pasar modal Indonesia terbuka luas bagi investor asing. Oleh karena itu ketika kondisi global tidak stabil, investor asing mudah menarik dananya keluar dari Indonesia sehingga rupiah mengalami tekanan.
Keempat, sistem ekonomi berbasis riba dan suku bunga. Ia menilai, dalam kapitalisme kebijakan moneter sangat bergantung pada instrumen bunga. Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, banyak investor memindahkan dananya ke Amerika karena dianggap lebih menguntungkan dan aman. Akibatnya, aliran modal keluar dari Indonesia dan rupiah melemah.
Kelima, lemahnya kemandirian ekonomi nasional. Ahmad melihat, banyak sumber daya alam Indonesia dikuasai korporasi besar dan kepentingan asing, sehingga keuntungan ekonomi tidak sepenuhnya dinikmati rakyat. Struktur ekonomi seperti ini membuat Indonesia sulit membangun ketahanan ekonomi yang kuat.
Ahmad mengungkapkan, dalam beberapa dekade terakhir, rupiah kerap mengalami tekanan dan pelemahan ketika terjadi gejolak ekonomi global, kenaikan suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik, maupun ketidakstabilan ekonomi domestik.
Hingga saat ini nilai tukar dolar mencapai level tertinggi dalam sejarah Indonesia, yakni 17.600. Hal itu, menurut Ahmad, dikarenakan dalam sistem kapitalisme modern, kekuatan ekonomi sangat dipengaruhi pasar keuangan global, spekulasi mata uang, utang berbunga, dan dominasi negara-negara besar terhadap sistem perdagangan internasional.
“Akibatnya, negara berkembang seperti Indonesia sering berada dalam posisi lemah dan bergantung pada kekuatan ekonomi global,” sebutnya.
Di sisi lain, kata Ahmad, Islam menawarkan konsep ekonomi yang berbeda. Ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang keuntungan dan pertumbuhan, tetapi juga keadilan distribusi, kestabilan mata uang, larangan riba, dan kemandirian ekonomi umat.
Karena itu, jelas Ahmad, penting mengkaji bagaimana sistem kapitalisme mempengaruhi lemahnya rupiah serta bagaimana solusi yang ditawarkan perspektif ekonomi Islam. Oleh karena itu di tengah ketidakpastian ekonomi global, kajian terhadap ekonomi Islam menjadi penting sebagai upaya mencari sistem ekonomi yang lebih adil, stabil, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia, bukan sekadar keuntungan kapital semata.
“Di sinilah pentingnya penyadaran umat Islam akan pentingnya mewujudkan khilafah Islam untuk melawan dominasi kapitalisme Amerika,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat