Masa Khalifah Utsman bin Affan, Perluasan Global yang Tentukan Arah Sejarah

 Masa Khalifah Utsman bin Affan, Perluasan Global yang Tentukan Arah Sejarah

MediaUmat Terkait futuhat pada masa Khalifah Utsman bin Affan, Ustadz Luthfi Affandi dari Pusat Kajian Islam Kaffah mengungkapkan, pada masa Khalifah Utsman bin Affan bukan hanya masa stabilitas internal, tetapi juga masa perluasan global yang menentukan arah sejarah Islam.

“Ini tentu bukan sekadar catatan perang, ini adalah fase ekspansi peradaban. Dan dari sinilah kita melihat bahwa pada masa Khalifah Utsman bin Affan bukan hanya masa stabilitas internal, tetapi juga masa perluasan global yang menentukan arah sejarah Islam,” ujarnya dalam video Kisah Khilafah #23: Futuhat Utsman bin Affan, Ketika Khilafah Menjadi Kekuatan Dunia, Selasa (17/3/2026) di kanal YouTube Rayah TV.

Luthfi melihat, pada masa Khalifah Utsman bin Affan, wilayah Islam tidaklah stuck, tetapi meluas secara signifikan. Dan perluasan ini bukanlah sekadar ekspansi militer, tapi itu adalah konsolidasi kekuatan politik, kekuatan ekonomi dan peradaban.

Ia menuturkan, fondasi ekspansi telah diletakkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Negeri Syam, Irak, Persia, sebagian besar telah terbuka, telah ditaklukkan. Namun pada masa Utsman bin Affan, ekspansi itu bukan hanya sekadar diteruskan, melainkan diperluas hingga menjangkau wilayah strategis yang baru. Futuhat pada masa Utsman berlangsung dalam skala yang jauh lebih luas dan lebih terorganisir. Wilayah Afrika Utara menjadi salah satu fokus utamanya.

Pasukan umat Islam bergerak menuju Tripoli dan sekitarnya. Menurutnya, ekspedisi ke wilayah Ifriqiyah menghasilkan perjanjian dan pembayaran jizyah pada wilayah yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Bizantium ini. Keberhasilan di Afrika Utara kemudian memperkuat posisi ekonomi negara pada saat itu. Karena wilayah tersebut merupakan wilayah yang strategis dalam jalur perdagangan Mediterranean.

Luthfi menilai, salah satu perubahan paling signifikan pada masa Utsman bin Affan adalah pembentukan armada laut Islam yang luar biasa kuat. Sebelumnya kekuatan Muslim sangat dominan di darat. Namun ancaman bizantium di laut membuat kebutuhan armada menjadi sangat mendesak.

Maka, jelasnya, dengan persetujuan khalifah pada saat itu dibangunlah kekuatan maritim dan hasilnya kaum Muslim mampu menandingi kekuatan Bizantium di laut Mediterania. Perang Zat Assawari menjadi salah satu bukti bahwa armada Islam mampu melampaui kekuatan besar dunia pada saat itu. Dan ini adalah lompatan strategis besar dalam sejarah militer di dalam Islam.

Menurut Luthfi, perlu dipahami bahwa futuhat atau pembukaan wilayah Islam tidak selalu berarti peperangan total. Dalam banyak kasus sering terjadi adalah perjanjian damai dan pembayaran jizyah atau kesepakatan perlindungan. Sebab tujuan futuhat bukan penghancuran, tetapi integrasi wilayah ke dalam sistem pemerintahan Islam. Wilayah yang masuk ke dalam kekuasaan Islam tetap mempertahankan struktur sosial dan agama mereka dengan kewajiban administrasi tertentu.

Menurutnya, futuhat atau pembukaan wilayah Islam juga berdampak langsung pada bertambahnya pemasukan jizyah dan kharaj, stabilitas jalur perdagangan, dan kontrol atas wilayah pertanian yang produktif.

Ekspansi, lanjut Luthfi, bukan hanya memperluas wilayah, tetapi memperluas sumber daya negara. Dan inilah yang kemudian menopang stabilitas Baitul Mal. Secara politik, futuhat perluasan wilayah Islam menciptakan buffer zone. Sehingga wilayah perbatasan menjadi garis pertahanan yang baru, dan musuh tidak lagi langsung berhadapan dengan pusat kekuasaan pada saat itu. Dan secara militer tentara ditempatkan secara strategis di wilayah-wilayah yang baru.

Sedangkan administrasi pada saat itu, kata Luthfi, diperkuat dengan pengangkatan wali dan para amil. Dan ini menunjukkan bahwa futuhat tidak berdiri sendiri tetapi terintegrasi dengan tata kelola negara. Namun perluasan wilayah juga akan membawa tantangan. Semakin luas wilayah maka akan semakin kompleks permasalahan administrasi. Perbedaan budaya, bahasa, kondisi sosial tentunya membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan sistem yang tertata dengan baik.

Maka, jelas Luthfi, muncul dinamika politik yang kelak menjadi ujian yang sangat besar bagi pemerintahan Utsman bin Affan. Namun dalam konteks futuhat, ekspansi ini tetap menjadi pencapaian yang sungguh sangatlah besar. Futuhat dalam sejarah Islam sesungguhnya dapat dipahami sebagai bagian dari misi dakwah dan pembebasan wilayah dari para tirani saat itu. Tujuannya bukan memaksakan keyakinan. Karena dalam prinsip Islam jelas ditegaskan tidak ada paksaan dalam agama. Ekspansi adalah perluasan otoritas politik bukan pemaksaan akidah.

“Dan ini menjadi karakter khas futuhat pada masa Khulafaur Rasyidin. Pada masa Utsman bin Affan, wilayah Islam meluas ke berbagai macam wilayah. Sebut misalnya Afrika Utara, Armenia dan Kaukasus, Khurasan dan wilayah timur hingga Mediterania melalui armada laut. Futuhat ini juga memperkuat kekuatan ekonomi, keamanan Daulah Khilafah Islam, infrastruktur militer, hingga kekokohan posisi geopolitik negara khilafah pada saat itu,” pungkasnya.[] Agung Sumartono

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *