Krisis Rudal S-400 Rusia antara AS dan Turki

Krisis ini membawa kita kembali ke revolusi Suriah, di mana Rusia memasuki Suriah untuk mengamankan kepentingan AS, dengan berpikir bahwa hal itu akan membuat AS memberikan imbalan dan hak istimewa serta mencabut sanksi terhadap Rusia, dan mungkin juga akan menutup mata terhadap perebutan Semenanjung Krimea oleh Rusia.

Ketika revolusi berlarut-larut, dimana Rusia menyadari telah memasuki rawa, dan AS menyadari bahwa Rusia kini menyadari bahaya ini, sehingga AS khawatir bahwa Rusia mungkin akan terburu-buru mengambil tindakan yang tidak diperhitungkan oleh AS. Maka AS kemudian menginstruksikan Turki untuk membentuk semacam aliansi dengan Rusia guna mengoordinasikan serangannya dan memastikan serangan tersebut tidak melampaui batas-batas yang telah dibuat, yaitu tidak melenyapkan pasukan oposisi yang terkonsentrasi di Idlib sebelum selesainya rencana AS untuk solusi akhir krisis Suriah, karena AS menginginkan oposisi tetap berada di tempatnya untuk bernegosiasi dengan rezim selama perumusan penyelesaian akhir tersebut. Secara lahiriah, Turki tampak sebagai teman revolusi, sementara Rusia tampak sebagai teman rezim.

Hubungan antara Rusia dan Turki memburuk setelah jatuhnya pesawat tempur Rusia. Namun karena AS menginginkan hubungan antara kedua negara membaik, AS melihat perlunya Turki untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengan Rusia, maka itulah yang terjadi. Setelah Turki bersikeras bahwa pesawat Rusia telah melanggar wilayah udaranya, sehingga tidak memerlukan permintaan maaf, lalu Turki mengubah pendiriannya dan mengeluarkan permintaan maaf pada 27 Juni 2016.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan pada saat itu: “Presiden Turki menyampaikan simpati dan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga pilot Rusia yang tewas, dan juga menyampaikan permintaan maafnya,” menambahkan bahwa Erdogan menegaskan bahwa ia “akan melakukan segala upaya untuk memulihkan hubungan persahabatan tradisional antara Turki dan Rusia” (Al-Arabiya, 27/6/2016).

Setelah itu, hubungan membaik secara signifikan, Erdogan dan Putin membuat kesepakatan serta mengadakan pertemuan terus-menerus. Erdogan bahkan berbicara dengan Putin melalui telepon pada 29 Juni 2016, dan menurut sumber di kepresidenan Turki, percakapan tersebut berlangsung dalam suasana yang sangat ramah. Turki dan Rusia kemudian menampilkan diri sebagai teman, dimana Erdogan menyebut Putin sebagai teman. Sehingga kerja sama mereka di Suriah menjadi sangat intens, dengan melibatkan sekutu dekat yang secara terang-terangan telah membunuh kaum Muslim dan membom rumah-rumah dengan rudal.

Situasi ini berlanjut hingga akhir tahun 2017, ketika posisi Rusia menjadi lebih genting, dan mulai mengancam untuk melenyapkan oposisi di Idlib. Ini adalah masalah yang sangat sensitif, sampai-sampai AS khawatir Rusia mungkin akan bertindak sepihak dan melancarkan serangan terakhir ke Idlib sebelum solusi politik yang dimediasi AS untuk krisis Suriah dapat terwujud. Pada tahap ini, menjadi penting bagi Turki untuk menjalin aliansi erat dengan Rusia, memastikan bahwa tidak akan terjadi serangan besar-besaran ke Idlib tanpa persetujuan kedua belah pihak.

Dengan demikian, kesepakatan S-400 senilai 2,5 miliar dolar pun lahir, sebuah kesepakatan yang menggiurkan bagi Rusia, terutama mengingat krisis ekonomi dan sanksi Barat yang dihadapinya. Erdogan membenarkannya dengan mengatakan bahwa lebih dari separuh pilot Turki telah ditangkap setelah upaya kudeta militer yang gagal pada pertengahan Juli 2016, akibatnya Angkatan Udara Turki tidak lagi memiliki cukup pilot yang berkualitas untuk menggunakan semua pesawat tempur F-16 yang dimilikinya; oleh karena itu, dibutuhkan sistem S-400 Rusia yang canggih untuk mengimbangi kekurangan pilot yang menerbangkan pesawat tempur tersebut dan untuk mengamankan pertahanan udara negara.

Rusia senang dengan kesepakatan ini. Turki menetapkan kerja sama dalam produksi bersama sistem tersebut, tetapi ditolak oleh Rusia, lalu Turki menerima kesepakatan tersebut tanpa syarat ini, namun melalui kesepakatan tersebut Turki mampu menghentikan serangan Rusia terhadap Idlib pada saat itu. AS telah mengetahui tentang kesepakatan itu dan awalnya tidak mengambil sikap keras, melainkan membiarkan semuanya berjalan dengan tenang; namun setelah mencapai apa yang diinginkannya, AS membuka kembali berkas tersebut dan memberikan tekanan lagi. Karena Turki menyadari risiko krisis ini, maka Turki menyimpan sistem tersebut dan tidak menggunakannya atau mengerahkannya, terutama setelah sanksi AS berdasarkan undang-undang CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act), yaitu undang-undang AS yang dikeluarkan pada tahun 2017 untuk menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang melakukan kesepakatan militer besar dengan Rusia, dan salah satu hasil yang paling menonjol adalah Turki sepenuhnya dikecualikan dari program pesawat tempur generasi kelima F-35.

Setelah pertemuan antara Trump dan Erdogan di KTT NATO baru-baru ini di Turki, banyak isu disepakati, termasuk pencabutan sanksi terhadap Turki dengan imbalan meninggalkan sistem S-400, dengan proposal yang mencakup penjualan sistem tersebut ke negara Teluk. Lebih tepatnya, pembelian sistem tersebut bermotivasi politik, dengan lampu hijau dari AS, terkait dengan revolusi Suriah, dan pengabaian serta penjualannya juga mendapat lampu hijau dari AS, terkait dengan konflik AS-Iran. Dalam kedua kasus tersebut, Turki di bawah kepemimpinan Erdogan bertindak hanya untuk melayani kepentingan Amerika.

Ini berarti Erdogan setuju untuk berpartisipasi dalam perang dengan cara tertentu, Jadi akan ada partisipasi Turki meski bukan melalui serangan langsung terhadap Iran atau keterlibatan langsung dalam pertempuran, melainkan dengan membuka pangkalan militer, menggunakan wilayah Turki, dan mengaktifkan perjanjian pertahanan antara Turki dan negara-negara Teluk.

Hal ini menegaskan soliditas hubungan antara Trump dan Erdogan, banyaknya pujian yang dicurahkan Trump kepada Erdogan, dan pernyataannya bahwa Erdogan menahan diri untuk berpartisipasi dalam perang melawan entitas Yahudi karena hubungannya dengan Trump. Hubungan itu terjalin dengan mengorbankan tempat-tempat suci, penumpahan darah, kehormatan, dan rakyat Gaza. Namun ada pikiran-pikiran yang telah dibumbui dengan kepalsuan dan tidak lagi melihat kebenaran, bahkan kepalsuan itu mulai digunakan hanya dengan membandingkannya dengan orang lain … La haula wala quwwata illa billah (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). [] Al-Ustadz Hasan Hamdan

Sumber: alraiah.net, 29/7/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: