MediaUmat – Pengamat Hubungan Internasional dari Geopolitical Institute Hasbi Aswar, Ph.D. menilai ucapan terima kasih Presiden Iran Masoud Pezeshkian kepada Presiden Rusia Vladimir Putin di sela KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai menunjukkan kedekatan politik dan strategis antara Iran dan Rusia.
“Ini menunjukkan kedekatan politik antara Iran dan Rusia,” ujarnya kepada media-umat.com, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, hubungan kedua negara selama ini memang diwarnai kepentingan bersama serta dukungan timbal balik dalam menghadapi berbagai konflik dan tekanan geopolitik. Dukungan Rusia terhadap Iran dalam situasi konflik memperlihatkan adanya hubungan aliansi yang dibangun berdasarkan kepentingan strategis.
“Memang selama ini Iran menjadi salah satu sekutu strategis Rusia di Timur Tengah, bahkan antara kedua negara saling mendukung saat perang, baik perang Ukraina maupun saat Iran melawan AS-Israel,” tuturnya.
Disayangkan
Namun, ia menyayangkan negara-negara Muslim yang semestinya memiliki ikatan akidah dan kepentingan umat justru belum menunjukkan tingkat solidaritas dan persatuan yang sama ketika salah satu negeri Muslim menghadapi ancaman atau serangan dari kekuatan asing.
“Idealnya yang memberikan dukungan adalah negara-negara Muslim. Sayangnya, negara-negara Muslim kebanyakan lebih memiliki kesetiaan kepada AS, bahkan bekerja sama dengan Israel, dibanding memilih bersatu satu sama lain,” tegasnya.
Persoalan Utama
Menurut Hasbi, persoalan utama yang menyebabkan dunia Islam sulit membangun kekuatan bersama adalah masih dominannya cara pandang nasionalisme dan kepentingan nasional, mendahulukan kepentingan nasional masing-masing. Akibatnya, kepentingan umat Islam secara keseluruhan kerap tersisih oleh kepentingan politik masing-masing negara.
“Sebab dari keterpecahan dunia Islam adalah pemikiran dan perasaan mereka yang lebih memprioritaskan kepentingan nasionalisme dibanding kepentingan Islam dan umat Islam,” ungkapnya.
Ia menilai, selama nasionalisme tetap menjadi pengikat utama hubungan antarnegara Muslim, persatuan dunia Islam akan sulit diwujudkan. Sebaliknya, apabila Islam dijadikan dasar pemersatu dan kepentingan umat ditempatkan di atas kepentingan nasional yang sempit, dunia Islam dinilainya akan memiliki kekuatan politik yang lebih besar dalam menghadapi berbagai ancaman.
“Apabila pemikiran ini dihilangkan atau dikesampingkan, dan Islam yang menjadi pengikat mereka, maka saya kira dunia Islam akan kompak bersatu dan akan dengan mudah menghadapi musuh-musuh kaum Muslimin,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat